Trump Kesal pada PM Starmer karena Tak Izinkan AS Gunakan Pangkalan Inggris buat Serang Iran
Bagaimana Inggris menanggapi serangan verbal dari Trump? Berikut ini penjelasan lengkapnya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, setelah pemerintah Inggris menolak izin penggunaan pangkalan militer untuk serangan awal terhadap Iran. Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dan membandingkan Starmer dengan mantan PM Inggris, Winston Churchill.
"Yang sedang kita hadapi bukan Winston Churchill," seperti yang dilaporkan oleh The Guardian.
Kritik ini menjadi yang ketiga kalinya dalam 24 jam, di mana Trump secara terbuka mengecam sikap Inggris yang tidak mendukung serangan awal terhadap fasilitas rudal Iran.
Meskipun Inggris akhirnya menyetujui penggunaan pangkalan Diego Garcia untuk serangan terhadap fasilitas rudal Iran, Trump tetap menunjukkan ketidakpuasannya. Dalam wawancara dengan The Sun pada Senin (2/3), ia menyatakan bahwa hubungan antara kedua negara "jelas tidak seperti dulu" akibat keputusan tersebut.
Dalam wawancara lain dengan The Telegraph, Trump juga menyebut Starmer terlalu lambat dalam memberikan izin penggunaan pangkalan Inggris. Di sisi lain, Starmer, yang sebelumnya dipuji karena kemampuannya menjaga hubungan dengan presiden AS yang dikenal kontroversial, menyampaikan keraguannya terhadap tindakan militer AS di Iran dan mempertanyakan legalitasnya di hadapan parlemen Inggris.
Dalam pernyataan terkuatnya sejauh ini, Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak mendukung "perubahan rezim dari langit" dan mempertahankan keputusannya untuk tidak mengizinkan pangkalan Inggris digunakan dalam serangan awal. Meski demikian, ia menyatakan bahwa Inggris tetap mengizinkan penggunaan Diego Garcia dan RAF Fairford untuk tindakan defensif guna melindungi warga negara dan pasukan Inggris, serta negara-negara sekutu di Timur Tengah yang terpengaruh oleh serangan balasan dari Iran setelah aksi militer AS-Israel.
"Presiden Trump telah menyatakan ketidaksetujuannya atas keputusan kami untuk tidak terlibat dalam serangan awal, tetapi adalah tugas saya untuk menilai apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan dan saya berdiri teguh pada keputusan itu," tegas Starmer pada Senin.
Reaksi Inggris
Ketua Komite Urusan Luar Negeri parlemen Inggris, Emily Thornberry, memberikan tanggapannya terhadap pernyataan Trump.
"Saya tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan Churchill tentang Trump. Dia jelas bukan Franklin D Roosevelt," katanya.
Sementara itu, negara-negara Eropa dilaporkan mengalami kesulitan dalam menyatukan pandangan terkait situasi yang cepat berubah di Timur Tengah. Pada hari Selasa (3/3), Trump juga mengancam akan menghentikan seluruh perdagangan dengan Spanyol setelah Madrid melarang penggunaan pangkalan militernya untuk menyerang Iran.
Dalam pertemuan di Ruang Oval dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, Trump kembali melontarkan kritik kepada Inggris, menyebut negara itu "sangat, sangat tidak kooperatif dengan pulau bodoh yang mereka miliki," yang diduga merujuk pada Diego Garcia.
Trump juga membandingkan posisi Keir Starmer dengan dukungan dari Prancis dan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, terhadap serangan tersebut.
"Dia tidak membantu. Saya tak pernah menyangka akan melihat hal itu. Saya tak pernah menyangka dari Inggris. Kami mencintai Inggris," ujarnya kepada The Sun.
"Ini dunia yang berbeda sekarang. Ini jenis hubungan yang sangat berbeda dengan negara Anda dibandingkan sebelumnya. Sangat menyedihkan melihat hubungan ini jelas tidak seperti dulu," lanjutnya.
Menanggapi pernyataan Trump, Kepala Sekretaris Utama Perdana Menteri Inggris, Darren Jones, menegaskan bahwa pemerintah Inggris akan bertindak demi kepentingan warganya.
"Inggris akan bertindak demi kepentingan warga negara Inggris, tanpa memandang agama atau di mana mereka berada di Inggris," kata Jones.
"Saya kira publik dengan tepat mengatakan mereka tidak ingin terlibat dalam perang yang lebih luas di Timur Tengah, tetapi mereka berharap kami melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk melindungi warga negara Inggris," ujarnya.
Sementara itu, jajak pendapat dari YouGov menunjukkan bahwa 49 persen warga Inggris menolak serangan AS ke Iran, sedangkan 28 persen mendukungnya. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 32 persen responden mendukung penggunaan pangkalan RAF untuk melancarkan serangan asalkan targetnya terbatas pada lokasi rudal, sementara 50 persen menolaknya.