Studi Ungkap Industri Persenjataan Cetak Rekor Raup Keuntungan $679 Miliar dari Perang Ukraina
Industri Persenjataan Raup Keuntungan dari Perang Ukraina, mencatat rekor pendapatan global hingga miliaran dolar AS. Simak selengkapnya!
Sebuah studi terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengungkapkan bahwa industri persenjataan global mencatat tahun paling menguntungkan pada tahun 2024. Laporan ini menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama konflik di Ukraina dan Gaza, telah menjadi pendorong utama lonjakan pendapatan. Para produsen senjata dan layanan militer di seluruh dunia berhasil meraup keuntungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari situasi tersebut.
Pendapatan dari penjualan senjata oleh 100 perusahaan produsen senjata terbesar di dunia mencapai rekor 679 miliar dolar AS pada tahun 2024. Angka fantastis ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 5,9% setelah penyesuaian inflasi dibandingkan tahun 2023, menandai pertumbuhan berkelanjutan sejak tahun 2015. Kenaikan ini secara langsung berkaitan dengan kebutuhan mendesak akan peralatan militer di berbagai wilayah konflik.
Peningkatan permintaan global ini tidak hanya mencakup pengembangan sistem persenjataan baru, tetapi juga pengisian kembali stok yang menipis dan penggantian peralatan yang rusak.
Rekor Pendapatan Global Didorong Konflik Geopolitik
Industri persenjataan global mencatatkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2024, mencapai 679 miliar dolar AS. Peningkatan ini, sebesar 5,9% dari tahun sebelumnya, secara eksplisit dikaitkan dengan eskalasi ketegangan geopolitik. Perang di Ukraina dan konflik di Gaza menjadi katalis utama yang mendorong permintaan besar terhadap peralatan militer di seluruh dunia.
Nan Tian, salah satu penulis laporan dari SIPRI, menegaskan bahwa sektor pertahanan telah menikmati keuntungan besar. "Untuk sektor pertahanan, sudah pasti," ujarnya, menambahkan bahwa "dalam dua tahun terakhir, pendapatan perusahaan-perusahaan senjata meningkat secara signifikan." Pernyataan ini mengindikasikan adanya hubungan langsung antara konflik global dan kinerja finansial industri senjata.
Lorenzo Scarazzato, peneliti Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata SIPRI, turut menyoroti fenomena ini. Ia menyatakan, "Tahun lalu, pendapatan senjata global mencapai level tertinggi yang pernah dicatat oleh SIPRI karena para produsen memanfaatkan tingginya permintaan." Tingginya permintaan ini mencakup kebutuhan akan pengembangan sistem baru, pengisian kembali stok, serta penggantian peralatan yang hancur di medan perang.
Dampak Regional yang Beragam pada Industri Pertahanan
Amerika Serikat masih mendominasi pasar pertahanan global dengan 39 dari 100 perusahaan teratas berasal dari negara tersebut, menyumbang hampir separuh pendapatan global. Meskipun demikian, pertumbuhan gabungan perusahaan-perusahaan AS relatif moderat, yaitu 3,8%, mencapai 334 miliar dolar AS pada tahun 2024. Proyek-proyek besar seperti jet tempur F-35 dan kapal selam kelas Columbia masih menghadapi tantangan penundaan dan pembengkakan anggaran.
Situasi berbeda terjadi di Eropa, di mana 26 perusahaan (di luar Rusia) mencatat kenaikan kolektif sebesar 13% dalam pendapatan, mencapai 151 miliar dolar AS. Perusahaan Jerman menjadi yang paling menonjol dengan lonjakan pendapatan hingga 36%.
Nan Tian menjelaskan bahwa peningkatan ini "hampir semuanya terkait invasi Rusia ke Ukraina," karena adanya peningkatan permintaan dari angkatan bersenjata Jerman untuk menggantikan peralatan yang dikirim ke Ukraina dan memperluas cadangan mereka sendiri. Perusahaan Ceko, Czechoslovak Group, juga mencatat kenaikan tajam sebesar 193%, terutama karena produksi amunisi artileri untuk Ukraina.
Produsen senjata Rusia juga mengalami pertumbuhan signifikan, meskipun pendapatan ekspor menurun akibat sanksi internasional. Permintaan domestik yang meningkat lebih dari cukup untuk mengkompensasi kerugian tersebut, menunjukkan ketangguhan industri senjata Rusia.
Diego Lopes da Silva dari SIPRI menyatakan, "Industri senjata Rusia telah terbukti tangguh selama perang di Ukraina." Sementara itu, kawasan Asia dan Oseania menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami penurunan pendapatan sebesar 1,2%, terutama karena penurunan pendapatan perusahaan senjata Tiongkok akibat tuduhan korupsi.
Untuk pertama kalinya, sembilan dari 100 perusahaan teratas berbasis di Timur Tengah, dengan pendapatan gabungan 31 miliar dolar AS. Tiga perusahaan Israel dalam peringkat tersebut menyumbang lebih dari separuh jumlah tersebut, dengan pendapatan gabungan mereka tumbuh 16% menjadi 16,2 miliar dolar AS pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan pergeseran dinamika pasar persenjataan global.
Ukraina sebagai Importir Utama dan Kritik Keras terhadap Keuntungan Perang
Sebagai konsekuensi langsung dari konflik yang berkepanjangan, Ukraina telah menjadi importir senjata terbesar di dunia antara tahun 2020 dan 2024. Volume impor senjata Ukraina pada periode tersebut meningkat sekitar 100 kali lipat dibandingkan periode lima tahun sebelumnya (2015-2019). Peningkatan ini mencerminkan kebutuhan mendesak negara tersebut untuk mempertahankan diri dari agresi.
Di sisi lain, ekspor senjata AS telah meningkat secara signifikan, mencapai 43% dari total global, dengan porsi terbesar pengiriman ditujukan ke Eropa untuk pertama kalinya dalam dua dekade. Ini menunjukkan pergeseran fokus pasokan senjata global menuju benua Eropa. Kondisi ini memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai pemasok senjata utama di dunia.
Keuntungan besar yang diraup industri persenjataan ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Iain Overton, direktur eksekutif Action on Armed Violence (AOAV), mengecam keras fenomena ini. Ia menyatakan, "Terhadap latar belakang tubuh-tubuh di reruntuhan, angka keuntungan ini adalah dakwaan terhadap sistem keamanan global yang memperlakukan perang sebagai pasar pertumbuhan."
Overton menambahkan bahwa "pemegang saham di perusahaan senjata menikmati keuntungan rekor. Warga sipil di Gaza, Ukraina, Sudan, dan sekitarnya membayar dengan darah dan kehidupan yang hancur."
Paus Fransiskus juga menyuarakan keprihatinannya, berpendapat bahwa kepentingan dalam perang ini sepertinya tidak hanya terkait dengan masalah Ukraina-Rusia, tetapi juga berhubungan dengan aspek perdagangan senjata.
Juru bicara Vatikan Matteo Bruni menyampaikan bahwa Paus mengemukakan paradoks bahwa mereka yang memperdagangkan senjata tidak pernah menanggung konsekuensi dari pilihan mereka. Sebaliknya, konsekuensi tersebut dibayar oleh orang-orang yang tewas dalam pertikaian, menekankan dimensi etis dari keuntungan perang.