Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf UNESCO: Pengakuan Global atas Ulama Pejuang
Peringatan 400 tahun pahlawan nasional Syekh Yusuf Al-Makassari telah resmi masuk agenda UNESCO, menandai pengakuan global atas signifikansi sejarah ulama pejuang ini dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
Peringatan 400 tahun pahlawan nasional Syekh Yusuf Al-Makassari telah resmi diterima dan masuk dalam agenda organisasi internasional UNESCO. Pengakuan ini menjadi bukti signifikansi sejarah sang ulama pejuang di kancah peradaban dunia. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan kabar ini saat Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari di Kawasan Banten Lama, Kota Serang, Banten, pada Selasa malam.
Usulan tersebut telah diajukan sejak tahun lalu dan kini menjadi bagian dari agenda global yang akan diperingati pada tahun 2026, bertepatan dengan tahun kelahirannya. Syekh Yusuf merupakan sosok luar biasa yang memiliki rekam jejak perjuangan lintas geografis. Jejak perjuangannya membentang mulai dari Tanah Banten, Batavia, Sri Lanka, hingga mencapai ujung selatan Benua Afrika di Cape Town.
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf bukan sekadar tokoh agama, melainkan simbol perlawanan terhadap politik Apartheid yang rasis. Perjuangan beliau menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh besar dunia, termasuk Nelson Mandela, dalam melawan penindasan kulit putih yang telah berlangsung selama puluhan tahun di wilayah tersebut.
Pengakuan Internasional dan Jejak Perjuangan Syekh Yusuf
Pengakuan UNESCO terhadap peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari menegaskan perannya dalam peradaban dunia. Ini merupakan bukti nyata dampak perjuangan beliau yang melampaui batas wilayah dan waktu.
Syekh Yusuf Al-Makassari dikenal sebagai ulama, pejuang, sekaligus tokoh spiritual yang gigih menentang penjajahan Belanda. Kisah hidupnya membentang dari tanah kelahirannya di Gowa, Sulawesi Selatan, hingga pengasingan di berbagai negara.
Jejak langkahnya meliputi Banten, Batavia, Sri Lanka, hingga Cape Town di Afrika Selatan, tempat ia diasingkan oleh VOC. Setiap tempat menjadi saksi bisu perjuangan dan penyebaran ajarannya.
Kontribusinya tidak hanya dalam bidang agama, tetapi juga dalam pergerakan sosial dan politik, menjadikannya figur penting bagi perjuangan moral dan spiritual masyarakat. Beliau menjadi inspirasi bagi banyak tokoh perlawanan di berbagai belahan dunia.
Diplomasi Budaya dan Warisan di Afrika Selatan
Kementerian Kebudayaan kini tengah merintis pembangunan Museum Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. Museum ini nantinya juga akan berfungsi sebagai Rumah Budaya Indonesia, memperkuat kehadiran budaya Tanah Air di kancah global.
Rencana strategis ini dilaporkan telah mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Ini merupakan langkah konkret pemerintah guna memperkuat diplomasi budaya Indonesia di luar negeri.
Kehadiran Syekh Yusuf di Afrika Selatan sangat signifikan, di mana ia dihormati sebagai tokoh nasional yang berjasa dalam sejarah perjuangan melawan apartheid. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap politik rasis tersebut.
Perjuangannya menginspirasi tokoh-tokoh besar dunia, termasuk Nelson Mandela, yang kerap merujuk keteladanan Syekh Yusuf. Hal ini menunjukkan dampak mendalam Syekh Yusuf terhadap gerakan anti-penindasan dan kemanusiaan.
Menggali Literasi dan Potensi Diaspora Indonesia
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya menghidupkan kembali literasi terkait pemikiran-pemikiran Syekh Yusuf. Penerbitan karya-karya sang Murshid didorong untuk generasi masa kini.
Gagasan pembuatan film layar lebar juga didukung agar nilai-nilai keteladanan beliau dapat diakses dengan mudah oleh generasi masa kini. Ini menjadi upaya pelestarian warisan intelektual dan spiritualnya.
Terkait sebaran keturunan Indonesia di Afrika Selatan, Fadli menyebut terdapat potensi hingga 2,7 juta orang yang dikenal sebagai masyarakat "Cape Malay". Jumlah ini jauh melampaui data administratif sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya dampak kehadiran para pejuang nusantara yang dibuang sebagai tahanan politik maupun budak pada masa kolonial. Mereka membentuk komunitas diaspora yang kuat.
Pelestarian Cagar Budaya di Banten Lama
Di dalam negeri, Kementerian Kebudayaan berkomitmen mempercepat status sejumlah situs di Banten Lama untuk menjadi Cagar Budaya Nasional. Situs-situs ikonik seperti Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Benteng Speelwijk akan dikaji.
Situs-situs tersebut akan dipugar sesuai dengan pola sejarahnya agar dapat dimanfaatkan lebih optimal. Tujuannya adalah untuk edukasi, penelitian, serta pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan budaya.
Langkah pelestarian ini merupakan amanah konstitusi Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Ini adalah bagian dari tanggung jawab negara terhadap warisan budaya.
Pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dapat terus melindungi serta mengembangkan nilai-nilai budaya. Upaya ini penting untuk menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Sumber: AntaraNews