Kementerian Kebudayaan Indonesia mengumumkan rencana pembangunan Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf di Afrika Selatan. Proyek ini akan berlokasi di lahan seluas 2.000 meter persegi, dekat makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Macassar, Cape Town. Pembangunan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan historis antara kedua negara yang telah terjalin ratusan tahun.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari adalah jembatan peradaban antara Indonesia dan Afrika Selatan. Rumah budaya ini akan menjadi simbol persahabatan abadi kedua bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan Fadli Zon saat mengunjungi makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Cape Town pada hari Jumat.
Inisiatif strategis ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan seni, budaya, dan interaksi antar-komunitas. Selain itu, pembangunan ini juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai spiritualitas dan toleransi. Proyek ini juga akan mendorong pertukaran budaya serta penelitian sejarah yang lebih mendalam.
Advertisement
Advertisement
Jembatan Peradaban dan Persahabatan Abadi
Pembangunan Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf di Afrika Selatan merupakan langkah konkret Kementerian Kebudayaan. Langkah ini untuk memperkuat ikatan sejarah dan persahabatan yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Afrika Selatan. Lokasinya yang strategis dekat makam Syekh Yusuf Al-Makassari memiliki nilai historis yang tinggi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya sosok Syekh Yusuf Al-Makassari. "Syekh Yusuf Al-Makassari adalah jembatan peradaban antara Indonesia dan Afrika Selatan," ujar Fadli Zon. Ia menambahkan bahwa rumah budaya ini akan menjadi simbol persahabatan abadi antara kedua negara yang telah ada selama ratusan tahun.
Proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi bangunan fisik. Namun juga menjadi pusat hidup yang merefleksikan nilai-nilai bersama dan warisan budaya. Ini akan memperdalam pemahaman dan apresiasi antar kedua bangsa.
Advertisement
Advertisement
Jejak Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari
Syekh Yusuf Al-Makassari, atau Abadin Tadia Tjoessoep, lahir di Makassar pada tahun 1626. Beliau adalah keponakan Sultan Alauddin, raja Gowa pertama yang memeluk Islam pada tahun 1603. Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama dan pemimpin perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Asia Tenggara.
Perjuangannya yang gigih membuatnya harus menghadapi penahanan dan pengasingan. "Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari meliputi pemenjaraan di Batavia dan kemudian dipindahkan ke Kolombo, Ceylon (sekarang Sri Lanka), bahkan diasingkan ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan, karena pengaruhnya yang kuat dalam menentang kolonialisme," jelas Fadli.
Pada 27 Juni 1693, Syekh Yusuf diasingkan ke perkebunan Zandvliet di tepi Sungai Eerste, Afrika Selatan. Area ini kemudian dinamai Macassar untuk menghormati asal-usulnya. Selama pengasingannya, beliau memanfaatkan waktu untuk berdakwah di Zandvliet.
Advertisement
Di sana, Syekh Yusuf membuka tempat perlindungan bagi budak dan mendirikan komunitas Muslim pertama di Afrika Selatan. Ajaran Islam pun menyebar ke Cape Town dan sekitarnya melalui dakwahnya. Ulama yang dikenal sebagai Bapak Islam di Afrika Selatan ini wafat pada usia 73 tahun pada 23 Mei 1699.
Advertisement
Pusat Kegiatan Seni dan Toleransi
Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf dirancang sebagai pusat multifungsi. Fungsinya meliputi kegiatan seni, aktivitas budaya, dan interaksi antar-komunitas. Desain ini bertujuan untuk menciptakan ruang yang dinamis bagi masyarakat.
Fadli Zon menyatakan bahwa rumah budaya ini akan menanamkan nilai-nilai spiritualitas dan toleransi. Selain itu, juga akan mendorong pertukaran budaya dan penelitian sejarah. Ini akan menjadi wadah untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya kedua negara.
Melalui berbagai program dan kegiatan, rumah budaya ini diharapkan dapat mempromosikan pemahaman lintas budaya. Ini juga akan memperkuat ikatan persahabatan antara Indonesia dan Afrika Selatan. Ini adalah investasi jangka panjang dalam diplomasi budaya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews