Putin Langsung Bereaksi Menentang Trump, Tegaskan Rusia Tak akan Tunduk pada AS
Vladimir Putin menegaskan Rusia tidak akan tunduk pada sanksi AS terkait perang Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan pernyataan tegas menanggapi sanksi baru yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa sanksi tersebut adalah 'serius bagi kami'.
Putin juga menegaskan Rusia tidak akan tunduk pada tekanan dari AS terkait konflik yang berlangsung di Ukraina. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan langkah-langkah sanksi yang lebih ketat terhadap Rusia.
Putin mengungkapkan bahwa sanksi yang dikenakan oleh Washington, termasuk terhadap dua perusahaan minyak besar Rusia, Rosneft dan Lukoil, tidak akan mempengaruhi keputusan Moskow untuk melanjutkan kebijakan luar negerinya.
Sanksi baru dari AS tersebut bertujuan untuk menekan Rusia agar setuju pada kesepakatan damai di Ukraina.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Oval Office, Trump mengungkapkan harapannya agar sanksi tersebut tidak diberlakukan terlalu lama. Namun, ia juga mengaku frustrasi atas kemunduran dalam negosiasi gencatan senjata dengan Rusia, yang dianggapnya tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Reaksi Putin atas Sanksi AS
Vladimir Putin menekankan bahwa Rusia akan tetap berpegang pada prinsip-prinsipnya meskipun menghadapi sanksi yang lebih ketat dari AS. Putiin menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan AS.
Meskipun Putin menyebut sanksi AS sebagai "tindakan tidak bersahabat" pada hari Kamis, presiden Rusia meremehkan dampaknya
"Mereka serius bagi kami, tentu saja, itu jelas, dan mereka akan memiliki konsekuensi tertentu, tetapi tidak akan berdampak signifikan pada kesejahteraan ekonomi kami," kata Putin dilansir Aljazeera, Jumat (24/10).
"Ini, tentu saja, upaya untuk menekan Rusia. Tetapi tidak ada negara dan rakyat yang menghargai diri sendiri yang akan memutuskan apa pun di bawah tekanan," kata Putin.
Sanksi Baru dari AS
Sanksi yang diumumkan Trump merupakan perubahan terbaru dalam kebijakannya yang berubah terkait perang di Ukraina. Trump telah berulang kali berganti posisi terkait perang: beralih dari menegur Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy karena tidak menghargai dukungan AS menjadi mengkritik Putin karena tidak terbuka terhadap negosiasi gencatan senjata.
Putin telah menyerukan perlucutan senjata sepenuhnya terhadap Ukraina dan agar Rusia mempertahankan wilayah yang direbutnya selama perang. Posisi tersebut tampaknya tidak dapat dinegosiasikan bagi Ukraina, dan Trump belum berhasil mencapai kesepakatan antara kedua posisi tersebut.
Rencana pertemuan tatap muka antara Trump dan Putin gagal minggu ini setelah Trump mengusulkan "pembekuan" perang Rusia-Ukraina dengan gencatan senjata di sepanjang garis depan saat ini.
Sementara Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa ia membatalkan pertemuan dengan presiden Rusia karena sikap Putin terhadap Ukraina, Gedung Putih mengatakan pertemuan antara kedua presiden bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mustahil.
"Saya pikir presiden dan seluruh pemerintahan berharap hal itu bisa terjadi lagi suatu hari nanti, tetapi kami ingin memastikan ada hasil positif yang nyata dari pertemuan itu," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari Kamis.
Trump Isyaratkan Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina
Trump juga mengisyaratkan kemungkinan mengirim rudal Tomahawk ke Ukraina, yang memungkinkannya mencapai target jarak jauh di dalam wilayah Rusia. Zelensky berharap dapat mencapai kesepakatan mengenai senjata tersebut dalam pertemuan di Gedung Putih pekan lalu, tetapi akhirnya pergi tanpa kesepakatan.
Pada hari Kamis, Putin menyebut rencana untuk memasok rudal jarak jauh ke Ukraina sebagai “upaya eskalasi”.
"Jika senjata semacam itu digunakan untuk menyerang wilayah Rusia, responsnya akan sangat serius, bahkan bisa dibilang luar biasa. Biarkan mereka memikirkannya," ujarnya.