Trump Kerahkan Kapal Selam Nuklir Usai Mantan Presiden Rusia Bahas Isu Perang

Perhatikan pernyataan mantan presiden Rusia yang membuat Trump merasa terancam.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Trump Kerahkan Kapal Selam Nuklir Usai Mantan Presiden Rusia Bahas Isu Perang
Presiden Donald Trump menunjuk seorang wartawan untuk mengajukan pertanyaan saat berbicara kepada media, Jumat (27/6/2025), di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat. (Dok. AP/Jacqu (© 2025 Liputan6.com)

Donald Trump telah mengerahkan kapal selam nuklir milik Amerika Serikat (AS) ke lokasi-lokasi strategis yang dianggap penting setelah mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengeluarkan pernyataan yang dianggap sangat provokatif.

Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, sebelumnya menyebut ultimatum Trump untuk menjatuhkan sanksi kepada Rusia sebagai sebuah ancaman yang dapat mengarah pada perang.

"Saya telah memerintahkan dua kapal selam nuklir untuk ditempatkan di wilayah strategis, untuk berjaga-jaga kalau pernyataan bodoh dan provokatif ini bukan sekadar omong kosong," kata Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Jumat (1/8).

Dia juga menekankan bahwa "Kata-kata sangat penting dan sering kali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Saya harap ini bukan salah satu dari kejadian seperti itu."

Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis kapal selam yang dimaksud, apakah kapal selam bertenaga nuklir atau yang dipersenjatai dengan senjata nuklir.

Saat ditanya oleh wartawan mengenai alasan pemindahan kapal selam tersebut, Trump menjawab, seperti dilansir The Guardian, "Sebuah ancaman telah dilontarkan oleh mantan presiden Rusia dan kami akan melindungi rakyat kami."

Di awal pekan ini, Medvedev juga menanggapi keputusan Trump yang memperpendek tenggat waktu bagi Rusia untuk menunjukkan kemajuan menuju perdamaian dengan Ukraina, dari 50 hari menjadi hanya 10 hari. Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi dan hukuman finansial lainnya jika Rusia tidak mematuhi ketentuan tersebut.

"Trump sedang memainkan permainan ultimatum dengan Rusia: 50 hari atau 10," tulis Medvedev di platform media sosial X.

"Dia seharusnya ingat dua hal: 1. Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru adalah sebuah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, namun dengan negaranya sendiri."

Medvedev juga menambahkan, "Jangan meniru jalan Sleepy Joe!" merujuk pada mantan presiden AS Joe Biden.

Awalnya, Trump memberikan tenggat waktu 50 hari kepada Rusia, yang dimulai sekitar pertengahan Juli, untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Ukraina atau menghadapi konsekuensi. Namun, pada Senin (28/7), dia memperpendek tenggat waktu tersebut menjadi 10 hingga 12 hari.

Trump dan Putin Bakal Bertemu 15 Agustus 2025 di Alaska, Zelenskyy Ikut?
Foto kombinasi ini menampilkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah forum bisnis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 16 Mei 2025 dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebua © 2025 Liputan6.com

Beberapa analis keamanan menilai bahwa tindakan Trump merupakan bentuk eskalasi retoris terhadap Rusia, meskipun hal itu tidak serta-merta berarti peningkatan militer, mengingat Amerika Serikat sudah memiliki kapal selam bertenaga nuklir yang siap menyerang Rusia. Trump juga telah mengungkapkan kekecewaannya terhadap Putin, yang dianggapnya menghambat usaha untuk menengahi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, sebuah janji kampanye yang ia yakini dapat dicapai dalam waktu 24 jam.

Pada hari Kamis, Trump menyebut serangan Rusia yang terus-menerus terhadap wilayah sipil sebagai "menjijikkan". Ia menceritakan kepada ibu negara, "Saya pulang ke rumah. Saya bilang ke ibu negara, 'Kamu tahu, hari ini saya berbicara dengan Vladimir. Percakapan kami luar biasa.' Lalu dia meresponsnya, 'Oh, sungguh? Baru saja ada kota lain yang diserang,'" ujarnya di Gedung Putih bulan lalu. Hingga saat ini, Putin belum memberikan tanggapan atas ultimatum yang disampaikan oleh Trump.

Pada hari Jumat, Putin mengklaim menginginkan perdamaian yang langgeng dan stabil di Ukraina, namun tidak menunjukkan tanda-tanda bersedia untuk memberikan konsesi demi mencapainya. "Kami membutuhkan perdamaian yang langgeng dan stabil, di atas landasan yang kokoh, yang dapat memuaskan baik Rusia maupun Ukraina, serta menjamin keamanan kedua negara," ungkap Putin kepada para jurnalis pada hari Jumat.

Walaupun Putin secara berkala menyatakan ketertarikan pada perdamaian, syarat-syarat yang diajukan tidak dapat diterima oleh Kyiv. Pekan lalu, perundingan ketiga antara Rusia dan Ukraina berlangsung di Istanbul, namun pertemuan itu bubar dalam waktu kurang dari satu jam dan belum menghasilkan kesepakatan apapun, kecuali pertukaran tahanan. Dalam pernyataannya yang diduga merujuk pada komentar Trump, Putin menyatakan, "Mengenai kekecewaan, semua kekecewaan muncul dari ekspektasi yang berlebihan. Ini sudah jadi aturan umum."

Rekomendasi