Perusahaan Senjata Makin Cuan Selama Perang di Timur Tengah dan Ukraina, Ini Datanya
Peneliti menilai tren meraup laba bagi perusahaan produsen senjata itu akan berlanjut di tahun depan.
Sebuah laporan menyebutkan penjualan senjata terus meningkat sepanjang tahun 2023 akibat perang di Ukraina dan Gaza serta imbas dari ketegangan di Timur Tengah.
Laporan yang dirilis oleh Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (Sipri) menyebutkan penjualan senjata dan layanan militer dari 100 perusahaan senjata di dunia memperoleh pendapatan sebesar Rp 10.054 triliun pada 2023.
“Terjadi peningkatan tajam dalam pendapatan penjualan senjata pada 2023, dan kemungkinan akan terus berlanjut pada tahun 2024,” kata Lorenzo Scarazzato, peneliti di SIPRI Military Expenditure and Arms Production, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir laman Straits Times, Senin (2/12).
Meski jumlah yang tercatat ini masih belum sepenuhnya mencerminkan skala permintaan. Namun, banyak perusahaan optimis terhadap penjualan di masa mendatang,” imbuh Scarazzato.
Produsen yang lebih kecil lebih efektif dalam memenuhi permintaan yang terkait dengan perang di Gaza dan Ukraina, meningkatnya ketegangan di Asia Timur, dan program persenjataan di wilayah lain, kata lembaga tersebut.
"Banyak dari mereka yang mengkhususkan diri pada komponen tertentu atau membangun sistem yang memerlukan satu rangkaian rantai pasokan," yang memungkinkan mereka bereaksi lebih cepat, kata Dr. Nan Tian, Direktur Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata Sipri, kepada AFP.
Di antara perusahaan penjualan senjata, AS mencatat peningkatan sebesar 2,5 persen dalam penjualan mereka pada 2023. AS menjadi penyumbang setengah dari 100 produsen senjata di dunia dengan 41 perusahaan senjata AS berada di 100 perusahaan teratas di dunia.
Sementara itu, 2 perusahaan Rusia meski sedikit dan tidak lengkap memberikan sinyal jelas tentang ekonomi yang mengarah ke perang.
Eropa yang menjadi rumah bagi 27 dari 100 pembuat senjata teratas rata-rata mengalami peningkatan sebesar 0,2 persen.
“Di saat bersamaan, sejumlah produsen Eropa lainnya melihat pendapatan penjualan senjata tumbuh secara substansial, didorong oleh permintaan terkait dengan perang di Ukraina, khususnya untuk amunisi, artileri, dan sistem pertahanan darat serta udara,” tulis Sipri.
Tiga perusahaan Israel memperoleh rekor penjualan sebesar 216,3 triliun dan naik 15 persen dari tahun sebelumnya, dan perusahaan senjata asal Turki melonjak hingga 24 persen yang didorong oleh Ukraina dan investasi dalam pertahanan negara tersebut.
Perusahaan di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan alami peningkatan rata-rata 35 persen dan 39 persen sementara China peroleh pendapatan 0,7 persen.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti