Cerita Perang Simpanse yang Mengerikan, Batok Kepala Dibuka Lalu Darah Diminum
Ini konflik antar simpanse yang sungguh brutal. Empat tahun berturut-turut sejak 1974 hingga 1978 darah harus mengalir.
Selama ini kita mengenal simpanse sebagai primata cerdas yang lucu dan mirip manusia. Namun, sebuah catatan sejarah kelam pada 1970-an membuktikan bahwa "kemiripan" mereka dengan manusia jauh lebih menakutkan dari yang diduga.
Diceritakan dari IFLScience, Rabu (7/1), peristiwa mengerikan itu dikenal dengan Gombe Chimpanzee War atau Perang Simpanse Gombe.
Ini konflik yang sungguh brutal. Empat tahun berturut-turut sejak 1974 hingga 1978 darah antarsimpanse harus mengalir.
Peristiwa ini mengubah pandangan dunia terhadap perilaku hewan. Konflik ini begitu sadis hingga Jane Goodall, primatolog legendaris yang mendokumentasikannya, mengaku syok melihat sisi gelap makhluk yang selama ini ia kagumi.
Awal Mula: Retaknya Persaudaraan
Sebelum 1974, komunitas simpanse Kasakela di Taman Nasional Gombe, Tanzania, hidup damai sebagai satu keluarga besar.
Namun, bibit perpecahan mulai muncul pada 1971. Komunitas ini perlahan terbelah menjadi dua kubu: Kasakela di utara dan sempalan mereka, Kahama, di selatan.
Situasi memanas setelah kematian pemimpin lama. Perebutan kekuasaan terjadi antara Humphrey (pemimpin baru Kasakela) melawan dua bersaudara Hugh dan Charlie dari kubu Kahama.
Layaknya politik manusia, simpanse lain mulai memihak, menciptakan garis perbatasan yang tegas di hutan. Teman makan berubah menjadi musuh bebuyutan.
Pertumpahan Darah dan Genosida
Perang resmi meletus pada 7 Januari 1974. Enam pejantan Kasakela melakukan penyergapan terencana terhadap Godi, seekor pejantan Kahama yang sedang makan sendirian.
Apa yang terjadi selanjutnya bukanlah perkelahian hewan biasa, melainkan pembantaian sistematis. Selama empat tahun berikutnya, pasukan Kasakela melakukan serangan gerilya yang brutal.
Jane Goodall menggambarkan kekejaman itu dengan sangat detail dan mengerikan.
"Itu mengerikan. (Mereka) menangkup kepala korban saat ia tergeletak berdarah dan meminum darah tersebut. Memelintir anggota tubuh untuk memutusnya. Merobek kulit dengan gigi mereka," ungkap Goodall dalam wawancara BBC tahun 2015.
Pasukan Kasakela tidak berhenti sampai musuhnya habis. Mereka membunuh seluruh pejantan dan beberapa betina dari kelompok Kahama hingga kelompok selatan itu punah sepenuhnya.
Setelah menang, Kasakela memperluas wilayah mereka ke area yang sebelumnya dikuasai Kahama.
Sisi Gelap Evolusi Manusia
Perang Gombe memicu perdebatan panas di kalangan ilmuwan. Apakah perang adalah perilaku yang dipelajari, atau memang sudah ada dalam DNA nenek moyang kita?
Fakta bahwa simpanse kerabat genetik terdekat manusia mampu melakukan kekerasan terorganisir, manuver politik, dan ekspansi wilayah, menunjukkan bahwa "perang" mungkin memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua dari peradaban manusia itu sendiri.
Baru-baru ini, dokumenter Netflix Chimp Empire juga merekam konflik serupa di hutan Ngogo, Uganda, memperkuat bukti bahwa intrik politik dan kekerasan bukanlah monopoli manusia semata.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie