Somalia Dilanda Kelaparan Akut, Laporan PBB Ungkap 6,5 Juta Orang Terancam
PBB menyatakan bahwa jumlah 6,5 juta orang tersebut mencakup sepertiga dari total populasi di Somalia.
Lebih kurang 6,5 juta orang, atau sekitar sepertiga dari total populasi Somalia, diperkirakan akan mengalami tingkat kelaparan yang sangat kritis pada bulan Maret mendatang.
Jumlah ini menunjukkan peningkatan sebanyak 1,7 juta orang sejak bulan Januari, sebagaimana diungkapkan oleh sejumlah pejabat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu, 25 Februari 2026.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di markas besar PBB melalui video konferensi, Direktur Kesiapan dan Tanggap Darurat Program Pangan Dunia (WFP), Ross Smith, menyampaikan bahwa laporan terbaru mengenai Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) untuk Somalia yang dirilis pada 24 Februari, mengonfirmasi kekhawatiran mengenai memburuknya situasi kemanusiaan di negara tersebut.
"Dari jumlah tersebut, 2 juta perempuan dan anak-anak yang paling rentan diperkirakan akan menghadapi kelaparan parah, dengan lebih dari 1,8 juta anak balita diperkirakan akan mengalami malnutrisi akut pada 2026," ungkap Smith, sebagaimana dikutip dari laman Antara News pada Jumat, 26 Februari.
Smith juga menekankan bahwa Somalia sedang mengalami krisis kelaparan yang sangat kompleks. Krisis ini disebabkan oleh dua musim hujan berturut-turut yang tidak memberikan curah hujan yang memadai, ditambah dengan konflik yang terus berlangsung serta banyaknya orang yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka demi mencari tempat berlindung, makanan, dan layanan dasar.
Di sisi lain, berbagai badan di Somalia, termasuk WFP, kini menghadapi kekurangan sumber daya yang sangat parah.
Smith memperingatkan bahwa tanpa adanya pendanaan yang segera, dukungan bantuan pangan dan nutrisi darurat yang disediakan oleh WFP untuk kelompok yang paling rentan akan terpaksa dikurangi dan pada akhirnya akan dihentikan.
Rein Paulsen, direktur Kantor Kedaruratan dan Ketahanan (Office of Emergencies and Resilience) di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), juga menyoroti dampak besar dari kekeringan terhadap sektor pertanian di Somalia.
"Secara konkret, hal ini berarti kerugian tanaman dan ternak yang meluas, serta pengungsian penduduk berskala besar," katanya.
Somalia Mendesak Bantuan
Kekeringan yang melanda Somalia menyebabkan penurunan panen serealia utama hingga 83 persen dibandingkan rata-rata jangka panjang antara 1995 hingga 2025.
Selain itu, angka kelahiran ternak juga mengalami penurunan yang signifikan, seperti yang disampaikan oleh Paulsen.
Dia menekankan bahwa sangat mendesak untuk memberikan bantuan penyelamat nyawa agar dapat melindungi kehidupan masyarakat dan mencegah keruntuhan mata pencaharian pertanian serta peternakan di daerah pedesaan.
Untuk mengatasi krisis ini, FAO memerlukan dana sebesar 85 juta dolar AS untuk mendukung satu juta warga pedesaan yang paling rentan, berisiko tinggi, dan kurang terlayani saat ini.
Sayangnya, hingga saat ini, baru tersedia 6 juta dolar AS, ungkap Paulsen. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian dan tindakan segera dari pihak-pihak terkait untuk membantu masyarakat yang terdampak.