PBB: Separuh dari Anak Usia di Bawah 5 Tahun di Yaman Alami Stunting Akibat Gizi Buruk
Menurut data dari PBB, sekitar 2,2 juta anak di Yaman saat ini mengalami kelaparan yang parah dan membutuhkan bantuan segera.
Pada Selasa (12/8/2025), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan peringatan mengenai kondisi gizi yang sangat memprihatinkan bagi anak-anak di Yaman. Mereka menyerukan agar pendanaan ditingkatkan untuk memperluas dukungan pangan dan gizi darurat yang sangat dibutuhkan.
Menurut laporan, separuh dari anak-anak di bawah usia 5 tahun di negara ini mengalami malnutrisi akut, sementara hampir setengah dari mereka mengalami gangguan pertumbuhan yang dikenal sebagai stunting. Hal ini disampaikan oleh Direktur Divisi Koordinasi Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Ramesh Rajasingham, dalam laporan singkat kepada Dewan Keamanan PBB, mewakili Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher.
Rajasingham mengungkapkan bahwa kondisi ini menyebabkan anak-anak mengalami keterlambatan perkembangan dan rentan terhadap infeksi, dengan risiko kematian akibat penyakit umum yang 9 hingga 12 kali lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata. Ia menekankan bahwa di tengah minimnya layanan kesehatan dan dukungan yang ada, situasi ini menjadi masalah serius yang mengancam nyawa anak-anak. Dalam kutipan dari Antara News, Kamis (14/8), ia menyatakan, "Lebih dari 17 juta orang mengalami kelaparan. Angka ini berpotensi mencapai 18 juta pada Februari tahun depan. Perempuan dan anak-anak menanggung beban terberat dari bencana ini." Saat ini, Yaman menjadi salah satu negara dengan kerawanan pangan paling parah di dunia. Ekonomi yang terus memburuk dan tekanan yang semakin besar pada rantai pasokan pangan membuat banyak rumah tangga, yang sebelumnya mampu mengakses makanan, kini tidak dapat membelinya.
Rajasingham juga memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung mengganggu mata pencaharian masyarakat, terutama di sektor publik serta industri pertanian dan perikanan. Dengan kondisi yang semakin memburuk, perhatian global sangat diperlukan untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan ini. Tanpa adanya tindakan yang cepat dan efektif, masa depan anak-anak di Yaman akan semakin suram. Oleh karena itu, kolaborasi antara negara dan organisasi internasional sangat penting untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan dan mencegah bencana yang lebih besar lagi.
Di beberapa daerah, tingkat kelaparan dan malnutrisi telah mencapai kondisi yang sangat memprihatinkan. Dalam sebuah misi penilaian kebutuhan yang dilakukan pada bulan Juli di kamp pengungsi internal di Distrik Abs, Kegubernuran Hajjah, ditemukan bahwa anak-anak dari keluarga pengungsi meninggal akibat kelaparan. Selain itu, banyak keluarga di daerah pedesaan di beberapa kegubernuran terpaksa menjual aset berharga yang seharusnya dapat menopang kehidupan mereka dalam jangka panjang, seperti ternak, peralatan, dan lahan pertanian, hanya untuk membeli makanan untuk keesokan harinya. Anak-anak juga terpaksa bekerja alih-alih bersekolah, sementara perempuan dan gadis remaja menghadapi risiko yang lebih tinggi terhadap kekerasan dalam rumah tangga, eksploitasi, atau pernikahan dini.
Rajasingham menyerukan dukungan finansial langsung untuk Dana Kemanusiaan Yaman, yang direncanakan akan menyalurkan 20 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.298) untuk mengatasi dampak buruk dari kerawanan pangan. Ia menekankan bahwa solusi politik tetap menjadi satu-satunya cara yang berkelanjutan dan nyata untuk menuju masa depan yang lebih aman dan sejahtera bagi seluruh masyarakat di Yaman. "Tanpa itu, siklus kekerasan yang sedang berlangsung, baik di tingkat lokal maupun regional, serta keruntuhan ekonomi dan kebutuhan kemanusiaan yang terus berlanjut, akan terus berlanjut," ujarnya.