WHO Ungkap Israel Bikin 8.000 Anak Palestina di Bawah Usia 5 Tahun Menderita Gizi Buruk Parah, Tubuhnya Kurus Kering

Perang genosida Israel di Jalur Gaza telah berlangsung selama delapan bulan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
WHO Ungkap Israel Bikin 8.000 Anak Palestina di Bawah Usia 5 Tahun Menderita Gizi Buruk Parah, Tubuhnya Kurus Kering
WHO Ungkap Israel Bikin 8.000 Anak Palestina di Bawah Usia 5 Tahun Menderita Gizi Buruk Parah, Tubuhnya Kurus Kering (Merdeka.com)

Perang genosida Israel di Jalur Gaza telah berlangsung selama delapan bulan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, genosida Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza telah mengakibatkan lebih dari 8.000 anak di bawah usia lima tahun menderita malnutrisi atau gizi buruk parah.

Di antara 8.000 anak di bawah usia lima tahun yang diidentifikasi dan diberi pengobatan untuk malnutrisi akut, 1.600 di antaranya menderita malnutrisi akut yang parah, yang biasanya disebut sebagai wasting (kurus kering), yang merupakan bentuk yang paling fatal, seperti dilansir The Cradle, Kamis (13/6).

Dalam konferensi pers yang diadakan di Jenewa pada Rabu (12/6), Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan 

Dalam konferensi pers yang diadakan di Jenewa pada Rabu (12/6), Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan 
Dok. Istimewa

sebagian besar penduduk Gaza menghadapi kondisi yang nyaris kelaparan akibat kehancuran yang disebabkan oleh perang Israel.

"Telah terjadi 32 kematian yang disebabkan oleh malnutrisi, termasuk 28 di antaranya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun," jelasnya.

UNICEF mengumumkan pada Selasa (11/6), sekitar 3.000 anak berisiko "meninggal di depan mata keluarga mereka" karena mereka terus kehilangan akses terhadap makanan dan pengobatan di Gaza selatan.

Kondisi di Rafah, di mana lebih dari 1 juta orang mengungsi dan mencari perlindungan sejak dimulainya perang, telah memburuk secara signifikan sejak operasi Israel di kota paling selatan tersebut selama sebulan terakhir, memaksa para pengungsi untuk mengungsi lagi dan mempersulit upaya bantuan dan layanan kemanusiaan.

Rekomendasi