Malaysia Murka Izin Ekspor Rudal NSM Dicabut Norwegia
Protes yang dilakukan oleh Malaysia disampaikan secara langsung oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, Kamis, 14 Mei 2026, mengungkapkan kritik keras terhadap Norwegia setelah negara tersebut mencabut izin ekspor sistem rudal Naval Strike Missile (NSM) yang ditujukan untuk program modernisasi militer
"Saya menyampaikan protes keras Malaysia dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Jonas Gahr Store terkait keputusan sepihak dan tidak dapat diterima dari Norwegia untuk mencabut izin ekspor sistem Naval Strike Missile (NSM) beserta sistem peluncurnya, dengan alasan melindungi keamanan Norwegia," kata Anwar dalam sebuah pernyataan di media sosial X.
PM Anwar menegaskan bahwa Malaysia telah memenuhi seluruh komitmennya dalam kontrak tersebut sejak tahun 2018 dengan "cermat, penuh itikad baik, dan tanpa keraguan sedikit pun." Namun, ia merasa bahwa Norwegia tidak menunjukkan sikap yang sama.
Berdampak pada Pertahanan Malaysia
Ia juga menekankan bahwa keputusan ini akan memiliki dampak serius pada kesiapan operasional pertahanan Malaysia serta program modernisasi Littoral Combat Ship (LCS).
"Keputusan ini juga tanpa diragukan akan membawa dampak yang lebih luas terhadap keseimbangan kawasan," tambahnya.
Lebih lanjut, Anwar menekankan pentingnya kontrak yang telah ditandatangani, menyebutnya sebagai "komitmen yang sakral dan mengikat."
"Kontrak bukanlah sekadar kertas yang bisa diperlakukan secara semena-mena. Jika para pemasok pertahanan dari Eropa merasa berhak mengingkari perjanjian tanpa konsekuensi maka nilai mereka sebagai mitra strategis akan hilang sama sekali," tegasnya.
Perselisihan ini berfokus pada pengadaan sistem rudal anti-kapal NSM oleh Malaysia, yang merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang angkatan laut negara tersebut.