Seluruh Jasad Korban Tabrakan Pesawat American Airlines dan Helikopter Black Hawk Berhasil Diidentifikasi
Tidak ada korban yang selamat dalam insiden kecelakaan pesawat ini.
Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 67 jasad korban tabrakan pesawat penumpang American Airlines dan helikopter Black Hawk milik Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) yang jatuh di Sungai Potomac, dekat Washington, DC. Konfirmasi mengenai evakuasi ini disampaikan pejabat terkait pada Selasa (4/2).
"Seluruh jasad kecuali satu telah berhasil diidentifikasi," jelas pernyataan yang dirilis berbagai lembaga pemerintah yang terlibat dalam proses pemulihan setelah kecelakaan udara yang paling mematikan di AS dalam dua dekade terakhir, seperti yang dilaporkan Channel News Asia, Rabu (5/2).
"Penyelesaian pencarian jenazah merupakan langkah signifikan dalam memberikan kejelasan dan membantu keluarga korban menghadapi kehilangan tragis yang mereka alami minggu lalu," lanjut pernyataan tersebut.
"Doa kami bersama keluarga korban yang tengah menghadapi kehilangan tragis ini. Kami menyampaikan belasungkawa mendalam dan berkomitmen untuk terus mendukung mereka melalui masa sulit ini."
Sementara itu, tim penyelamat terus berupaya mengevakuasi reruntuhan pesawat penumpang, yaitu Bombardier CRJ-700 yang dioperasikan maskapai American Airlines, dari perairan Sungai Potomac yang dingin.
"Hingga saat ini, tim telah berhasil mengambil bagian-bagian pesawat termasuk sayap kanan, bagian tengah tubuh pesawat, sebagian sayap kiri, ekor pesawat, dan kemudi," ungkap Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB).
Terbang Terlalu Tinggi
Evakuasi terhadap helikopter Black Hawk direncanakan akan dilakukan setelah proses evakuasi pesawat selesai. Kecelakaan yang terjadi Rabu (29/1) malam, mengakibatkan 60 penumpang dan empat awak pesawat American Airlines tewas, bersama dengan tiga prajurit yang berada di dalam helikopter Black Hawk.
Pesawat tersebut sedang dalam penerbangan dari Wichita, Kansas, menuju Bandara Nasional Ronald Reagan di Washington ketika tabrakan terjadi. Presiden Donald Trump menyalahkan kebijakan perekrutan yang berfokus pada keberagaman sebagai penyebab kecelakaan, meskipun tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.
Trump juga menyatakan helikopter yang sedang menjalani misi latihan tampaknya terbang terlalu tinggi. Menurut laporan media AS, menara pengontrol di bandara yang sibuk tersebut mungkin kekurangan staf pada saat insiden terjadi. NTSB diharapkan akan menyusun laporan awal dalam waktu 30 hari setelah kejadian, meskipun penyidikan menyeluruh terhadap kecelakaan udara ini dapat berlangsung hingga satu tahun lamanya.