Rusia dan Ukraina Gelar Pertukaran Tahanan Terbesar, 2.000 Orang Dibebaskan
Rusia dan Ukraina melakukan pertukaran tahanan terbesar sejak 2022.
Rusia dan Ukraina baru saja menyelesaikan sebuah langkah signifikan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Kedua negara sepakat untuk melakukan pertukaran tahanan. Pertukaran ini menjadi yang terbesar sejak konflik dimulai pada tahun 2022.
Rusia dan Ukraina menyelesaikan proses pertukaran tahanan sebanyak 2.000 orang pada hari Minggu (25/5/2025), sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Keduanya menyatakan bahwa ini merupakan pertukaran terbesar yang terjadi sejak dimulainya perang tiga tahun lalu, seperti yang dilansir dari laman CNA pada hari yang sama. Proses pertukaran ini berlangsung selama tiga hari, dimulai pada hari Jumat (23/5), dan mayoritas melibatkan tahanan perang serta 120 warga sipil. Pada hari Minggu, kedua negara menukar 303 tahanan. "Hari ini, prajurit Angkatan Bersenjata kita, Garda Nasional, Dinas Penjaga Perbatasan Negara, dan Dinas Transportasi Khusus Negara kembali ke rumah," tulis Zelenskyy melalui aplikasi Telegram.
Gencatan senjata 30 hari
Pertukaran ini menjadi satu-satunya langkah nyata menuju perdamaian yang muncul dari pembicaraan langsung pertama antara kedua pihak yang terlibat dalam konflik setelah lebih dari tiga tahun. Sementara itu, Ukraina, bersama dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, telah menyerukan dihentikannya pertempuran selama 30 hari tanpa syarat untuk memberikan ruang bagi pembicaraan damai.
Diperkirakan ratusan ribu tentara dari kedua belah pihak telah mengalami luka atau kehilangan nyawa dalam konflik yang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II, meskipun tidak ada data resmi mengenai jumlah korban yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak. Selain itu, puluhan ribu warga sipil Ukraina juga dilaporkan tewas akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Rusia terhadap kota-kota di Ukraina.
Proposal perjanjian damai
Pada hari Jumat (23/5), Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengungkapkan bahwa setelah proses pertukaran selesai, Moskow akan siap untuk menyerahkan rancangan proposal perjanjian perdamaian jangka panjang kepada Ukraina.
Namun, serangan terus berlanjut, di mana pasukan Rusia meluncurkan 367 pesawat tanpa awak dan rudal ke berbagai kota di Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, dalam serangan udara terbesar yang terjadi selama perang ini, yang mengakibatkan setidaknya 12 orang tewas dan puluhan lainnya terluka, menurut keterangan para pejabat.
Kementerian Pertahanan Rusia juga melaporkan bahwa unit pertahanan udaranya berhasil mencegat atau menghancurkan 95 pesawat tanpa awak Ukraina dalam waktu empat jam. Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, menyatakan bahwa 12 pesawat tanpa awak Ukraina telah berhasil dicegat sebelum mencapai ibu kota.