Pernah Siarkan K-Pop ke Arah Korut, Korea Selatan Akhirnya Copot Pengeras Suara
Korea Selatan memulai pencopotan pengeras suara di perbatasan dengan Korea Utara sebagai upaya meredakan tensi.
Militer Korea Selatan secara resmi memulai proses pencopotan pengeras suara propaganda yang terpasang di sepanjang perbatasan dengan Korea Utara. Langkah strategis ini diambil pada Senin (4/8) sebagai bagian dari upaya nyata untuk meredakan ketegangan yang telah memuncak antara kedua negara. Keputusan ini mencerminkan komitmen Seoul untuk membangun kembali kepercayaan di Semenanjung Korea.
Tindakan ini merupakan implementasi dari perintah Presiden Lee Jae-myung yang dikeluarkan pada 11 Juni lalu, tak lama setelah beliau menjabat. Pencopotan pengeras suara ini bertujuan untuk menghentikan siaran anti-Pyongyang yang kerap memicu respons keras dari Korea Utara. Ini merupakan janji kampanye Presiden Lee yang kini direalisasikan.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan, "Ini adalah langkah praktis yang dapat membantu meredakan ketegangan antar-Korea tanpa memengaruhi postur kesiapan militer," dalam pemberitahuan kepada wartawan yang dikutip dari laman Antara News pada Selasa (5/8/2025). Sebelumnya, Seoul sempat menyalakan kembali kampanye pengeras suara untuk pertama kalinya dalam enam tahun pada bulan Juni lalu, sebagai respons terhadap pengiriman balon berisi sampah oleh Pyongyang melintasi perbatasan. Kampanye siaran sebelumnya dilakukan secara sporadis setelah uji coba nuklir keempat Korea Utara pada tahun 2016.
Sejarah dan Fungsi Pengeras Suara Perbatasan
Pengeras suara propaganda memiliki sejarah panjang sebagai instrumen perang psikologis di Semenanjung Korea. Kedua negara telah lama menggunakan alat ini untuk menyiarkan berbagai pesan ke wilayah lawan. Pesan-pesan tersebut meliputi propaganda politik, kritik terhadap sistem pemerintahan, hingga hiburan seperti musik K-pop.
Pada tahun 2018, pengeras suara serupa pernah dibongkar setelah kedua Korea sepakat mengakhiri tindakan bermusuhan. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengurangi ketegangan militer di perbatasan. Namun, situasinya berubah drastis pada tahun sebelumnya.
Pemerintahan konservatif sebelumnya di Korea Selatan kembali mengoperasikan pengeras suara ini. Mereka memutar musik K-pop sebagai balasan atas tindakan Korea Utara yang mengirim balon berisi sampah. Aktivasi kembali ini merupakan yang pertama dalam enam tahun terakhir, setelah sempat dihentikan pasca uji coba nuklir Korea Utara pada 2016.
Pengeras suara ini seringkali menjadi penanda eskalasi ketegangan di garis depan. Keberadaannya selalu menjadi sorotan setiap kali hubungan bilateral memanas.
Kebijakan Pemerintahan Baru dan Respons Pyongyang
Pemerintahan baru Presiden Lee Jae-myung, yang terpilih pada Juni lalu, telah menjadikan pemulihan hubungan sebagai prioritas utama. Penghentian siaran propaganda anti-Korea Utara adalah bagian dari upaya untuk "memulihkan kepercayaan" dan menghidupkan kembali dialog yang terhenti. Ini merupakan janji kampanye yang kini diwujudkan.
Meskipun Seoul mengambil langkah konsiliasi ini, Korea Utara belum memberikan respons positif. Kim Yo Jong, adik dari pemimpin Kim Jong Un, menanggapi dingin pencopotan pengeras suara ini. Ia menyatakan bahwa penghentian siaran oleh Seoul "bukanlah tindakan yang patut diapresiasi."
Pyongyang juga menolak tawaran dialog, menegaskan tidak berminat bernegosiasi dengan Seoul. Kim Yo Jong bahkan menekankan bahwa Seoul tidak akan pernah menjadi mitra rekonsiliasi bagi Pyongyang. Pandangan ini berakar pada keyakinan bahwa kebijakan luar negeri Korea Selatan terlalu didikte oleh Washington.
Kedua Korea secara teknis masih dalam keadaan perang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Hubungan antara kedua negara berada pada salah satu titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, dengan Seoul sebelumnya mengambil sikap keras terhadap Pyongyang.
Implikasi dan Harapan untuk Masa Depan
Pembongkaran pengeras suara ini diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi de-eskalasi ketegangan di Semenanjung Korea. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan bahwa tindakan ini adalah langkah praktis. Hal tersebut dapat membantu meredakan tensi tanpa mengganggu postur kesiapan militer.
Presiden Lee Jae-myung telah menyampaikan niat kuatnya untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara sejak menjabat. Upaya ini dilakukan meskipun Pyongyang telah memutuskan hubungan dan menyatakan Korea Selatan sebagai musuh utama. Komitmen ini terlihat dari berbagai inisiatif yang diambil.
Juru bicara kepresidenan Kang Yu-jung menegaskan bahwa langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah. Tujuannya adalah memulihkan kepercayaan dalam hubungan antar-Korea. Selain itu, langkah ini juga berupaya mewujudkan perdamaian yang stabil di Semenanjung Korea.
Meskipun tantangan besar masih membayangi, langkah pencopotan pengeras suara ini menunjukkan keseriusan Seoul. Ini adalah upaya untuk membuka kembali jalur komunikasi dan mengurangi potensi konflik di masa depan. Dunia menantikan bagaimana Pyongyang akan merespons langkah-langkah de-eskalasi lebih lanjut.