Pemerintah China menyatakan harapan agar kondisi di Semenanjung Korea tetap aman dan stabil. Pernyataan ini disampaikan menyusul serangkaian uji coba rudal balistik yang dilakukan oleh Korea Utara (Korut) baru-baru ini. Beijing menyerukan pendekatan penyelesaian politik untuk mengatasi akar permasalahan di kawasan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan pentingnya perdamaian dan stabilitas regional. Ia meminta semua pihak terkait untuk berpegang pada arah penyelesaian politik yang konstruktif. Harapan ini disampaikan dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (28/1).
Korea Utara diketahui telah meluncurkan dua rudal balistik pada Selasa (27/1) untuk menguji sistem peluncur roket multilaras berkaliber besar. Uji coba rudal Korut ini disaksikan langsung oleh pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un, dan ia dilaporkan menyatakan kepuasannya atas hasil pengujian tersebut.
Advertisement
Advertisement
Sikap China Terhadap Uji Rudal Korut
China secara konsisten menyerukan dialog dan deeskalasi di Semenanjung Korea. Melalui juru bicaranya, Beijing menekankan pentingnya mencari solusi damai. Pendekatan ini diharapkan dapat mencegah ketegangan lebih lanjut di kawasan yang strategis tersebut.
Guo Jiakun secara spesifik menyebutkan harapan agar pihak-pihak terkait fokus pada akar permasalahan. Hal ini mengindikasikan bahwa China melihat isu ini lebih dari sekadar uji coba rudal Korut. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi penyebab fundamental ketidakstabilan.
Penyelesaian politik dianggap sebagai jalan terbaik untuk mencapai perdamaian abadi. China, sebagai tetangga dekat dan mitra dagang utama Korut, memiliki kepentingan besar dalam stabilitas regional. Beijing terus mendorong semua pihak untuk menahan diri.
Advertisement
Advertisement
Kecaman dari Korea Selatan dan Jepang
Uji coba rudal balistik Korut memicu reaksi keras dari negara-negara tetangga. Kantor Keamanan Nasional Kepresidenan Korea Selatan (Korsel) mengutuk tindakan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB yang jelas.
Korsel mendesak Pyongyang untuk segera menghentikan segala bentuk provokasi. Pertemuan keamanan darurat segera diadakan dengan para pejabat militer setelah peluncuran rudal. Rudal-rudal tersebut terdeteksi meluncur sekitar 350 kilometer dari utara Pyongyang.
Jepang juga menyampaikan protes resmi kepada Korut menyusul insiden ini. Sekretariat Kabinet Jepang menyatakan bahwa peluncuran rudal balistik berulang kali adalah ancaman serius. Hal ini mengancam perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan, serta komunitas internasional.
Advertisement
Rudal-rudal itu dilaporkan jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang. Meskipun tidak ada laporan kerusakan, insiden ini menimbulkan kekhawatiran besar. Jepang menekankan bahwa tindakan Korut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan merupakan masalah serius bagi keselamatan rakyatnya.
Advertisement
Latar Belakang dan Implikasi Uji Coba Rudal
Peluncuran rudal ini terjadi menjelang kongres partai berkuasa Korut yang dijadwalkan awal bulan depan. Acara penting ini diharapkan akan menguraikan arah kebijakan utama negara tersebut. Kebijakan itu mencakup bidang pertahanan, diplomasi, dan ekonomi.
Uji coba rudal balistik terakhir Korut ke Laut Timur terjadi pada 4 Januari. Momen tersebut bertepatan saat Presiden Lee bersiap berangkat ke Beijing. Ia dijadwalkan untuk pembicaraan puncak dengan Presiden China Xi Jinping.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan bahwa empat roket diluncurkan dalam uji tembak tersebut. Rudal-rudal itu mengenai sasaran di laut yang berjarak sekitar 358,5 kilometer dari titik peluncuran. Otoritas Korsel dan AS saat ini sedang menganalisis detail pasti dari peluncuran tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews