Memo FBI dalam Epstein Files Klaim Israel ‘Kendalikan’ Trump, Singgung Dugaan Kaitan Epstein dengan Mossad
Departemen Kehakiman AS Jumat lalu baru merilis berkas-berkas Epstein ke publik.
Sebuah memo FBI yang telah diungkap ke publik dan termasuk dalam berkas kasus Jeffrey Epstein memuat serangkaian tuduhan sensitif yang menyasar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dokumen tersebut dirilis pada Jumat sebagai bagian dari pembukaan arsip oleh Departemen Kehakiman AS.
Memo yang disusun pada 2020 itu menyebut Trump telah “dikendalikan oleh Israel”, serta menuding terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein memiliki hubungan dengan intelijen Israel, Mossad. Dokumen tersebut juga mengklaim bahwa kelompok Yahudi religius Chabad-Lubavitch berupaya memengaruhi dan “mengambil alih” kepresidenan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Memo FBI tersebut merupakan bagian dari penyelidikan terkait dugaan pengaruh domestik maupun asing terhadap proses pemilu Amerika Serikat. Informasi di dalamnya bersumber dari seorang confidential human source (CHS) atau sumber manusia rahasia, dan tercantum dalam kumpulan besar dokumen terkait Epstein yang kini dibuka ke publik.
Sekte Yahudi Ultra-Ortodoks
“CHS menyatakan bahwa Chabad melakukan segala upaya untuk mengambil alih kepresidenan Trump,” demikian bunyi salah satu kutipan memo tersebut.
Chabad-Lubavitch digambarkan sebagai sekte Yahudi ultra-Ortodoks yang didirikan di Rusia dan kini memiliki sekitar 90.000 pengikut di berbagai negara. Dalam memo itu, ideologi Chabad disebut kerap dikaitkan dengan pandangan politik pemukim garis keras di Palestina.
Dokumen tersebut juga menyinggung Berel Lazar, anggota Chabad yang pernah menjabat sebagai kepala rabi Rusia, dan menggambarkannya sebagai penasihat dekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Memo itu menyebut Chabad sebagai “Yudaisme yang disahkan negara” dan mengklaim kelompok tersebut digunakan oleh Putin untuk memantau para oligarki Yahudi Rusia.
Diyakini sebagai Agen Mossad
FBI dalam memo itu turut mengaitkan Jared Kushner—menantu Trump—sebagai pendukung Chabad dan figur berpengaruh di lingkaran dalam Gedung Putih. Disebutkan pula bahwa pada hari Trump terpilih sebagai presiden, Ivanka Trump dan Jared Kushner mengunjungi makam Rabbi Menachem Mendel Schneerson, tokoh sentral dalam jaringan Chabad.
Sumber rahasia tersebut bahkan menyatakan bahwa Trump “telah dikompromikan oleh Israel” dan menilai Kushner sebagai sosok kunci di balik pengambilan keputusan dalam kepresidenan Trump.
Selain itu, memo FBI juga memuat klaim bahwa Jeffrey Epstein bekerja sama dengan intelijen Amerika Serikat dan asing. Menurut CHS, Epstein diyakini sebagai agen Mossad yang telah direkrut, mengacu pada laporan FBI sebelumnya.
Hubungan Dekat dengan PM Israel
Memo itu menyinggung hubungan dekat Epstein dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, yang juga pernah menjabat di jajaran intelijen militer Israel. Barak dilaporkan mengunjungi rumah Epstein di New York lebih dari 30 kali dalam periode 2013–2017.
Dalam salah satu korespondensi email yang dikutip dokumen tersebut, Epstein menulis kepada Barak agar ditegaskan bahwa dirinya tidak bekerja untuk Mossad, yang dibalas Barak secara berseloroh sebelum Epstein kembali menegaskan hal tersebut.
Memo itu juga mengaitkan klaim intelijen tersebut dengan kesepakatan hukum Epstein pada 2008. Disebutkan adanya dugaan percakapan antara pengacara Epstein, akademisi pro-Israel Alan Dershowitz, dan jaksa federal saat itu Alex Acosta, di mana Acosta disebut diberi tahu bahwa Epstein “berkaitan dengan intelijen”.
Lebih jauh, dokumen FBI tersebut menyebut bahwa menurut CHS, Dershowitz sendiri diklaim telah “dikompromikan oleh Mossad dan menganut misi mereka”.