Bukti-bukti Makin Kuat Sebut Epstein sebagai Agen Mossad Israel untuk Jebak Para Tokoh Dunia

Banyak kalangan punya dugaan kuat Jeffrey Epstein adalah agen Mossad yang diperalat untuk kepentingan Israel.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Bukti-bukti Makin Kuat Sebut Epstein sebagai Agen Mossad Israel untuk Jebak Para Tokoh Dunia
jeffrey epstein (Reuters)

Sejumlah bukti makin mencuat yang menyatakan pelaku kejahatan seks terpidana Jeffrey Epstein punya kaitan dengan badan intelijen Israel Mossad.

Email-email yang bocor dari Epstein Files menunjukkan seorang agen intelijen Israel pernah tinggal di rumah Epstein di Manhattan.

Email yang baru bocor mengungkap bahwa seorang perwira senior intelijen Israel yang memiliki kaitan dengan militer Israel dan Mossad beberapa kali menginap di kediaman Epstein di Manhattan dalam periode 2013 hingga 2016.

Dilansir Middle East Monitor, Senin (2/2), dokumen-dokumen yang dilaporkan oleh Drop Site News ini menambah deretan bukti bahwa Epstein merupakan fasilitator utama eksploitasi seksual, akses politik elite, serta aktivitas spionase internasional yang diduga melayani kepentingan intelijen Israel.

Otoritas Mesir Gagalkan Acara Klub Malam Bertema Pulau Epstein, Penyelenggara Ditangkap
Dokumen dari berkas Jeffrey Epstein yang dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat difoto pada Jumat, 2 Januari 2026. (Dok. AP/Jon Elswick, arsip) © 2026 Liputan6.com

Menurut laporan investigasi tersebut, Yoni Koren—asisten lama mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, serta figur dengan jejaring kuat di intelijen militer Israel—tinggal di rumah Epstein selama berminggu-minggu dalam satu waktu.

Koren, yang tetap aktif dalam jaringan intelijen Israel lama setelah pensiun formalnya, disebut terlibat dalam perantara bisnis keamanan siber serta mengoordinasikan pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan mantan Direktur CIA Leon Panetta dan pejabat pertahanan Amerika Serikat.

Di antara dokumen yang dirilis terdapat email yang menunjukkan Ehud Barak menginstruksikan Epstein untuk mentransfer dana ke rekening pribadi Koren, serta kemudian mengoordinasikan penyerahan sebuah paket secara tidak biasa yang melibatkan kartu bank. Koren juga disebut mengatur akses pribadi ke Pentagon dan Gedung Putih untuk keluarga Barak, diduga melalui jaringan kontaknya dengan mantan pejabat CIA dan Departemen Pertahanan AS.

Pengungkapan ini merupakan seri keempat laporan Drop Site News, yang sebelumnya juga memberitakan dugaan keterlibatan Epstein dalam perundingan kesepakatan keamanan antara Israel dengan Mongolia, Rusia, dan Pantai Gading. Laporan-laporan tersebut menantang narasi lama bahwa jaringan Epstein semata-mata terbatas pada elite keuangan dan selebritas, dan justru menunjukkan perannya sebagai operator informal bagi kepentingan intelijen Israel.

Meski spekulasi mengenai hubungan Epstein dengan lembaga intelijen telah lama beredar—termasuk klaim bahwa ia dilindungi karena afiliasi tersebut—materi terbaru ini memberikan gambaran langka tentang seberapa dalam Epstein diduga tertanam dalam lingkaran intelijen Israel.

Email-email itu mencakup komunikasi langsung antara Barak dan Epstein, pembahasan transfer dana, serta permintaan bantuan operasi secara terselubung. Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa Barak menggunakan Koren sebagai perantara untuk berbagi informasi dengan AMAN, direktorat intelijen militer Israel.

Yang patut dicatat, Kongres Amerika Serikat hingga kini belum merilis berkas Epstein secara lengkap. Anggota DPR AS dari Partai Republik, Anna Paulina Luna, yang memimpin upaya deklasifikasi dokumen tersebut, menuduh Ketua DPR Mike Johnson sengaja menunda pemungutan suara di bawah tekanan Presiden Donald Trump. Berkas-berkas itu diyakini memuat materi yang melibatkan figur-figur berkuasa dari pemerintahan, lembaga keuangan, dan jaringan intelijen global.

Yoni Koren, yang meninggal dunia akibat kanker pada 2023, digambarkan oleh Ehud Barak dalam pidato belasungkawa sebagai “perwira intelijen berbakat… dengan loyalitas tanpa batas kepada negara.” Barak menolak memberikan komentar atas tuduhan terbaru ini, demikian pula Jeremy Bash, mantan Kepala Staf CIA yang kerap menjadi kontak utama dalam korespondensi email Koren.

Rekomendasi