Israel Memutus Akses Rafah dari Wilayah Gaza Lainnya dan Mengusir Paksa Warga Palestina
Tentara Israel mengatakan telah menyelesaikan koridor Morag dan mengancam akan memperluas operasinya pada sebagian besar wilayah Gaza, Palestina.
Militer Israel mengatakan telah menyelesaikan pembangunan yang mereka sebut sebagai Koridor Morag. Koridor tersebut memutus akses Kota Rafah dari wilayah Gaza lainnya karena Israel ingin memperluas serangannya ke bagian selatan Jalur Gaza.
Juru bicara militer Israel pada Sabtu (12/4) mengeluarkan perintah pengusiran paksa baru terhadap warga di beberapa wilayah di Khan Younis. Mereka memperingatkan bahwa akan ada serangan “dengan kekuatan besar” yang segera dilancarkan. Hal ini merupakan balasan Israel atas dugaan roket Hamas yang menyerang dari daerah ini.
Penduduk diperintahkan untuk meninggalkan rumah mereka dan melanjutkan perjalanan ke al-Mawasi, wilayah pesisir Gaza. Penduduk yang diperintah tersebut berasal dari daerah Rafah, yakni Qizan an-Najjar, Qizan Abu Rashwan, al-Salam, al-Manara, al-Qurain, Maen, al-Batn al Sameen, Jurt al-Lot, al-Fakhari, serta lingkungan selatan Bani Suheila.
Perlintasan sukarela
Pengumuman itu muncul di tengah serangkaian serangan pesawat drone dan penembak artileri di Khan Younis, menewaskan sedikitnya dua orang.
Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan Koridor Morag secara efektif mengubah Rafah menjadi “zona keamanan Israel” dan menambahkan bahwa Koridor Netzarim (yang membagi Jalur Gaza menjadi dua) juga akan diperluas.
Dilansir Aljazeera, Sabtu (12/4), Katz mengatakan “Perlintasan sukarela” akan diberikan untuk warga Palestina yang ingin melarikan diri dari Gaza. Ia kembali menyebutkan rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengusir warga Palestina dari Gaza.
Tanggapan Hamas
Katz memberi tahu penduduk Gaza yang terkepung ia menawarkan mereka “kesempatan terakhir untuk menghusir Hamas, membebaskan semua sandera, dan menghentikan perang.” Jika tidak, operasi Israel akan menyebar ke sebagian besar wilayah Gaza.
Hamas mengeluarkan pernyataan, menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperpanjang perang meskipun masyarakat Israel berulang kali menyerukan untuk menghentikan konflik.
“Persamaannya jelas, pembebasan tawanan sebagai imbalan atas penghentian perang. Dunia menerima itu, tetapi Netanyahu menolaknya,” kata Hamas.
“Darah anak-anak Gaza dan penduduk yang ditahan adalah korban ambisi Netanyahu untuk tetap berkuasa dan terhindar dari tuntutan hukum.”
Nour Odeh, koresponden Al Jazeera, melaporkan dari Ibu Kota Yordania, Amman, bahwa menteri pertahanan Israel telah memberikan ultimatum kepada warga Palestina.
“Gulingkan Hamas dan bebaskan tawanan Israel, kata Katz. Itulah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang,” ucap Odeh.
Kini, sekitar 2,1 juta warga Palestina terhimpit di sekitar sepertiga wilayah Gaza dan tidak ada truk bantuan kemanusiaan yang masuk, sejak Israel memberlakukan kembali blokade bulan lalu.
Robert Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King’s College London, mengatakan meskipun Israel membentuk Koridor Morag murni operasional untuk membatasi Hamas, tampaknya hal itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk mengendalikan Gaza dari jauh.
“Israel selalu berusaha mengendalikan Jalur Gaza, khususnya untuk mengawasi apa yang masuk dan keluar, serta ‘keamanan’ atas wilayah tersebut, seperti apa yang disebut Israel,” kata dia.
“Koridor Morag, Netzarim, dan Philadelphi dinamai berdasarkan permukiman. Dan permukiman tersebut tidak muncul di sana secara acak. Koridor-koridor itu ditempatkan di sana dengan tujuan khusus, yakni memutus wilayah perkotaan Gaza dan memberi Israel kemampuan untuk memeras wilayah tersebut kapan saja sesuai keinginan mereka."
Reporter Magang: Devina Faliza Rey