Tentara Israel kemarin tanpa henti mengebom sekolah, masjid, dan tempat pengungsian yang tersisa di Gaza sebagai upaya untuk memperluas pendudukannya di jalur tersebut.
Serangan Israel itu menewaskan sedikitnya 112 warga Palestina pada Kamis (3/4) dalam beberapa serangan di Jalur Gaza. Termasuk 71 orang di Kota Gaza, tempat serangan itu menargetkan puluhan keluarga yang tengah mencari perlindungan di Sekolah Dar al-Arqam.
Selama pengeboman di Sekolah Dar al-Arqam, korban tewas mencapai 31 warga Palestina, di antaranya 18 anak-anak, wanita, dan orang tua.
Dilansir The Cradle, Jumat (4/4), beberapa jam setelah pembantaian tersebut, jet tempur Israel mengebom sekolah lain yang sebelumnya dialih fungsikan sebagai tempat pengungsian di Kota Gaza, menewaskan tiga warga Palestina dan melukai banyak warga lainnya.
“Agresi biadab Israel ini terjadi di tengah bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sektor kesehatan mengalami keruntuhan yang hampir mendekati total, karena penghancuran rumah sakit dan pengepungan yang sedang berlangsung. Sehingga sangat sulit untuk memberikan perawatan medis kepada mereka yang terluka,” kata pernyataan Pertahanan Sipil Gaza.
Serangan yang memakan banyak korban kemarin terjadi saat tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa terbaru di beberapa kawasan di Gaza Utara dan Selatan.
Sekitar 135.000 penduduk Palestina melarikan diri selama 24 jam terakhir dari Jalur Gaza Utara. Sebagian besar penduduk berjalan kaki, karena Israel dilaporkan sedang mempersiapkan serangan darat besar-besaran di daerah tersebut.
“Saya dan Istri saya telah berjalan selama tiga jam dan hanya menempuh jarak 1 km,” kata Mohammad Ermana, pria berusia 72 tahun, seperti dikutip Aljazeera.
“Kini, setiap jam saya mencari tempat berlindung, bukan lagi setiap hari,” tambahnya.
Pada Rabu (2/4), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana untuk menduduki koridor baru di Gaza Selatan, guna memisahkan kota Rafah di perbatasan Mesir dari Kota Khan Younis di sebelah utara.
“Sekarang, kami memisahkan jalur itu dan meningkatkan tekanan selangkah demi selangkah, hingga mereka menyerahkan sandera kami. Semakin mereka menolak, semakin besar tekanan yang akan kami berikan,” ucap Netanyahu.
Reporter magang: Devina Faliza Rey
Advertisement