Israel Diduga Gunakan Bom Uranium Saat Serang Iran, Mengandung Radioaktif yang Dapat Picu Kanker
Pakar militer saat ini tengah memeriksa puing-puing dan sisa amunisi dari bom yang dijatuhkan Israel di Iran.
Seorang sumber terpercaya mengungkapkan kepada kantor berita Iran, Fars, Israel kemungkinan menggunakan bom uranium terdeplesi (DU) saat menyerang Iran. Berdasarkan hasil uji coba awal yang dilakukan di zona terdapatkan, terdeteksi jejak yang menunjukkan uranium, meskipun analisis teknis lebih lanjut masih berlangsung untuk mengonfirmasi temuan tersebut.
Pakar militer saat ini tengah memeriksa puing-puing dan sisa amunisi dari bom yang dijatuhkan Israel di Iran selama perang 12 hari, seperti dikutip dari The Cradle, Jumat (27/6). Temuan yang lebih rinci akan dirilis setelah hasil lab akhir tersedia, kata sumber tersebut, sambil memperingatkan agar tidak mengambil kesimpulan terlalu dini.
Uranium terdeplesi (DU), logam padat yang digunakan dalam bom dan peluru tank untuk menembus target lapis baja, tidak diklasifikasikan sebagai senjata nuklir, namun senjata ini menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang yang serius karena radioaktif tingkat rendah dan komposisi kimianya yang beracun.
Organisasi kesehatan internasional telah memperingatkan, paparan DU dapat dikaitkan dengan peningkatan tingkat leukemia, kerusakan ginjal, dan anemia – terutama pada anak-anak yang tinggal di daerah yang terkontaminasi.
Penggunaan senjata DU oleh militer AS telah dikaitkan dengan peningkatan angka kanker besar-besaran di Irak setelah perang AS di negara itu pada tahun 1991 dan 2003.
Ini bukan pertama kalinya Israel dituduh menggunakan senjata terlarang. Kelompok hak asasi manusia sebelumnya mengecam militer Israel atas penggunaan fosfor putih dan senjata yang diduga berbasis DU dalam operasi sebelumnya di Lebanon dan Jalur Gaza, sehingga menimbulkan kekhawatiran internasional atas pelanggaran berulang terhadap hukum humaniter internasional.