Duka dan Keraguan Menyelimuti Iran, ‘Apakah Gencatan Senjata Akan Mengembalikan Ibu Saya?’
Perang 12 hari antara Israel dan Iran meninggalkan bekas luka permanen bagi banyak warga Iran.
Pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (23/6) terkait pemberlakuan gencatan senjata terhadap Israel dan Iran berpotensi mengakhiri apa yang ia sebut sebagai “perang 12 hari.” Pernyataan itu sedikitnya telah membawa kelegaan bagi sebagian warga Iran. Namun sebagian lainnya bertanya-tanya apakah realitas di Iran telah berubah.
“Apakah ini benar-benar berakhir? Atau akankah mereka menyerang lagi?” ungkap Mina (36), seorang konsultan penjualan dan pemasaran. Ia bertanya-tanya karena tidak yakin apakah harus merasa senang atau justru berhati-hati.
“Saya ingin percaya bahwa ini nyata. Saya ingin perang berakhir. Begitu banyak orang tak berdosa yang tewas. Begitu banyak nyawa yang terenggut, saya hanya berhadap pengeboman akhirnya berakhir,” katanya, seperti dikutip Middle East Eye, Kamis (26/6).
Lebih skeptis
Hal yang tidak membantu adalah kenyataan setelah pengumuman Trump, kedua belah pihak sempat terus saling serang hingga memaksa banyak orang meragukan gencatan senjata akan bisa bertahan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sejak itu mengisyaratkan bahwa konflik telah berakhir asalkan Israel tidak melanggar gencatan senjata. Ia menyebut tindakan militer Iran sebagai “kemenangan besar.”
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan yang tampaknya mengisyaratkan Iran akan menyetujui gencatan senjata.
Israel juga mengatakan akan menghormati gencatan senjata asalkan Iran tidak melanggarnya.
Banyak orang Iran kini lebih skeptis dari sebelumnya dengan Israel dan AS. Bahkan, mereka yang menentang pemerintah Iran mengatakan telah kehilangan kepercayaan pada janji-janji Barat.
“Bahkan media Amerika mengakui bahwa mereka membodohi kami, membuat kami berpikir semuanya baik-baik saja, sehingga mereka dapat mengejutkan kami dengan serangan. Bagaimana kami tahu mereka tidak akan melakukannya lagi?” ucap Mohsen (39), seorang agen real estat.
'Harus Bersiap Menghadapi Tipu Daya Besar'
Mantan duta besar Iran untuk Kroasia, Parviz Esmaeili, juga menyuarakan kekhawatiran itu dalam sebuah unggahan di media sosial.
“Penipuan dan perang psikologis masih menjadi bagian utama dari operasi Israel dan AS terhadap kita,” tulisnya. “Kita harus siap menghadapi tipu daya yang lebih besar.”
Namun, keraguan dan ketakutan lebih baik daripada kenyataan perang yang sedang berlangsung.
“Tadi malam adalah malam paling menakutkan dalam hidup saya,” ujar Ladan (28), warga Iran yang tinggal di kawasan Aghdasiyeh di Teheran Utara, mengingat teror serangan Israel pada 23 Juni.
“Jumlah jet tempur Israel sangat menakutkan. Mereka memenuhi seluruh langit di atas Teheran. Saya belum pernah melihat yang seperti itu dalam hidup saya,” lanjutnya.
“Kami bisa melihat kematian dengan sangat jelas. Ledakan terus mendekat. Rasanya seperti kami adalah korban berikutnya.”
Kenyataan tragis bagi banyak orang Iran adalah bahwa gencatan senjata terasa tidak adil setelah kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Bagi mereka, tidak ada kesepakatan yang dapat mengembalikannya.
Siavash (41), kehilangan ibunya karena serangan udara Israel. Ia menceritakan bahwa Ibunya saat itu tengah pergi ke pasar untuk membeli buah. Ketika Ibunya menaruh belanjaannya di mobil, “saat itu juga, sebuah jet tempur Israel mengebom apartemen di dekatnya.” Pecahan peluru yang menghantam apartemen tersebut mengenai mobil ibu Siavash, “dia tewas seketika.”
“Apakah gencatan senjata ini akan mengembalikan ibu saya?” tanyanya. Ia mengeluh bahwa korban sipil akibat perang sering kali diabaikan begitu saja dan media hanya membicarakan tentang kerugian militer.
Pada Selasa (24/6), menteri kesehatan Iran, Mohammad Reza Zafarghandi, mengatakan bahwa serangan udara Israel menewaskan 606 orang, dan 95 persen dari kematian tersebut terjadi saat orang-orang terjebak di bawah reruntuhan.
Saat ini, banyak orang di Iran menunggu untuk melihat bagaimana pemerintah melanjutkan langkahnya setelah perang.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey