Bom Mobil dan Serangan Drone Guncang Kolombia, 18 Orang Dilaporkan Tewas
Kedua serangan tersebut berlangsung pada waktu yang berbeda.
Sebanyak 18 orang kehilangan nyawa dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat dua serangan terpisah yang terjadi di Kolombia. Kondisi ini semakin memperburuk krisis keamanan yang paling parah di negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut informasi dari otoritas setempat yang dilansir oleh BBC, enam orang tewas dan lebih dari 60 lainnya terluka akibat ledakan sebuah bom mobil di jalan yang padat di Kota Cali, yang terletak di bagian barat Kolombia.
Sebelumnya, pada Kamis (21/8), terjadi serangan drone yang menargetkan helikopter polisi di daerah pedesaan di luar Kota Medellin, Kolombia bagian barat laut, yang menyebabkan sedikitnya 12 orang tewas.
Serangan-serangan ini dihubungkan dengan berbagai faksi pembangkang dari kelompok Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang sudah dibubarkan, dan hal ini menimbulkan tantangan baru bagi proses perdamaian yang masih rapuh di Kolombia menjelang pemilu tahun depan.
Wali Kota Cali, Alejandro Eder, telah memberlakukan keadaan darurat militer di kota terbesar ketiga di Kolombia tersebut. Selain itu, dia juga mengumumkan larangan sementara bagi truk besar untuk memasuki kota dan meminta masyarakat untuk memberikan informasi terkait insiden tersebut dengan imbalan hadiah sebesar USD 10.000.
Setelah kedua serangan itu, presiden dan pimpinan militer menyatakan bahwa mereka akan memimpin rapat dewan keamanan untuk merumuskan langkah-langkah perlindungan tambahan bagi warga setempat.
"Negara tidak akan menyerah pada terorisme. Kejahatan-kejahatan ini akan diburu dan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," demikian pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Kolombia di media sosial.
Menurut keterangan saksi mata, bom mobil yang meledak di Cali tampaknya ditujukan kepada Sekolah Penerbangan Militer Marco Fidel Suarez, dan mengakibatkan kematian warga sipil di sekitar lokasi serta merusak banyak bangunan.
"Ada suara menggelegar seperti sesuatu yang meledak di dekat pangkalan udara," ungkap seorang saksi mata kepada kantor berita AFP.
Tingkat Kekerasan Semakin Tinggi
Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, mengklaim bahwa ledakan bom mobil merupakan aksi terorisme dan menuduh kartel narkoba yang dipimpin oleh Ivan Mordisco sebagai pelakunya.
"Serangan pengecut terhadap warga sipil ini adalah reaksi putus asa atas hilangnya kendali terhadap perdagangan narkoba di Valle del Cauca, Cauca, dan Narino, di mana pasukan keamanan telah menetralkan sebagian besar ancaman ini," kata Pedro melalui akun media sosialnya.
Menanggapi insiden terpisah yang melibatkan helikopter polisi, Presiden Gustavo Petro mengungkapkan bahwa helikopter tersebut sedang melaksanakan misi pemberantasan tanaman daun koka, yang merupakan bahan baku utama kokain.
Sayangnya, helikopter itu mengalami kecelakaan setelah diserang oleh drone, mengakibatkan 12 petugas di dalamnya tewas. Berbagai gambar yang beredar di media sosial menunjukkan asap hitam pekat yang membubung di kawasan hutan di Amalfi, wilayah utara Kolombia.
Sanchez juga menyebutkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok gerilya EMC, yang merupakan pecahan terbesar dari FARC. Dalam beberapa bulan terakhir, Kolombia mengalami lonjakan kekerasan, yang ditandai dengan bentrokan antara pasukan keamanan dan gerilyawan pembelot, serta kelompok paramiliter atau kartel narkoba.
Selain itu, serangan drone semakin sering terjadi, dengan 115 insiden tercatat pada tahun 2024, sebagian besar dilakukan oleh kelompok bersenjata ilegal.
Pada minggu lalu, tiga tentara dilaporkan tewas akibat serangan drone di wilayah barat daya Kolombia. Dalam insiden tersebut, bahan peledak dijatuhkan pada anggota angkatan laut dan angkatan darat yang sedang berjaga di pos pemeriksaan.
Kejadian-kejadian ini menunjukkan betapa seriusnya situasi keamanan di Kolombia saat ini, di mana kekerasan terus meningkat dan mengancam keselamatan warga sipil.