Capres Kolombia Ditembak Saat Kampanye, Dua Tembakan Tepat Kena Kepala
Polisi telah menangkap pelaku yang masih berusia 15 tahun.
Seorang calon presiden Kolombia kini menjalani perawatan intensif setelah ditembak tiga kali saat kampanye di ibu kota Bogota. Tembakan tersebut mengenai bagian kepalanya dua kali.
Miguel Uribe Turbay, senator berusia 39 tahun, diserang saat tengah berpidato di hadapan para pendukungnya pada Sabtu (7/6) di taman. Kantor Kejaksaan menyatakan polisi menangkap seorang remaja berusia 15 tahun di lokasi kejadian.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan momen saat Uribe ditembak di kepala saat sedang berpidato. Massa yang menghadiri kampanye sontak panik dan lari berhamburan.
Dilansir BBC, Minggu (8/6) Capres tersebut segera dievakuasi dengan helikopter ke Rumah Sakit Fundacion Santa Fe, tempat para pendukungnya menggelar doa bersama.
Ditembak bagian kaki
Wali Kota Bogota, Carlos Fernando Galan pada Sabtu malam mengatakan selepas kejadian Uribe langsung dilarikan ke ruang operasi dalam kondisi kritis.
Keesokannya pada Minggu (8/6) pagi, pihak rumah sakit menyatakan Uribe telah menjalani prosedur operasi di kepala dan paha kirinya sebelum dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU) untuk distabilkan. Pernyataan itu menambahkan kondisinya masih sangat serius.
Menurut laporan media setempat, polisi menembak bagian kaki dari remaja pelaku saat mengejarnya usai kejadian.
Seperti pernyataan yang dikatakan Kantor Kejaksaan, pelaku ditangkap dengan membawa senjata api jenis Glock kaliber 99 mm dan penyelidikan sedang berlangsung.
Partai Centro Democratico tempat Uribe bernaung mengecam keras insiden ini dan menyebutnya sebagai “ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan di Kolombia.”
Motif belum diketahui
Pemerintah Presiden sayap kiri Gustavo Petro juga mengecam serangan ini secara tegas dan menyebutnya sebagai “tindakan kekerasan yang bukan hanya berdampak pada korban, tetapi juga terhadap demokrasi.”
Menteri Pertahanan Pedro Sanchez menyebut insiden ini sebagai “serangan keji,” serta menawarkan hadiah sebesar 3 miliar peso Kolombia (sekitar Rp 12 miliar) bagi siapa pun yang memiliki informasi tentang pihak-pihak yang terlibat dalam serangan tersebut.
Hingga kini, motif pelaku masih belum diketahui. Banyak warga Kolombia mengutuk adanya peningkatan retorika permusuhan yang belakangan digunakan, baik oleh pemerintah maupun pihak oposisi.
Ketegangan Politik
Sepekan sebelum penembakan, tensi politik meningkat tajam ketika Presiden Petro mencoba mencari dukungan rakyat atas rencana reformasinya. Rencana tersebut dianggap sebagai langkah yang tidak konstitusional oleh para pemimpin oposisi, termasuk Uribe.
Petro mengajak rakyat Kolombia untuk mendoakan Uribe dalam video yang ia sebut sebagai “hari penuh duka.” Ia mengakui adanya perbedaan politik dengan Uribe, namun hal tersebut hanya soal politik.
“Apa yang paling penting hari ini adalah agar seluruh rakyat Kolombia mencurahkan energi dan semangat hidup kita, demi memastikan bahwa Dr. Miguel Uribe tetap hidup,” ujar presiden dalam video tersebut.
Uribe adalah seorang tokoh kanan yang dikenal kritis terhadap Petro yang sebelumnya menjabat sebagai senator sejak 2022. Ia mengumumkan pencalonannya untuk pemilihan presiden tahun depan sejak Oktober lalu.
Uribe berasal dari keluarga politik terkemuka di Kolombia yang memiliki keterkaitan dengan Partai Liberal Kolombia. Ayahnya adalah seorang pemimpin serikat buruh dan pengusaha. Sementara ibunya, Diana Turbay, merupakan jurnalis yang tewas dalam upaya penyelamatan setelah diculik oleh kartel narkoba Medellin pada 1991.
Bagi banyak orang, insiden penembakan ini mengingatkan kembali masa kelam kekerasan politik di Kolombia. Ketika tokoh-tokoh seperti Escobar menggunakan kekerasan untuk menekan pemerintah.
“Kita tidak boleh kembali ke masa kekerasan politik, atau saat perbedaan pandangan dibungkam dengan kekerasan,” kata Wali Kota Galan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey