Bocoran Dokumen Ungkap UEA Dukung Genosida Israel di Gaza, Termasuk Kirim Senjata Senilai Jutaan Dolar
Dokumen itu diketahui bertanggal Oktober 2023 pada saat Israel memulai genosida di Gaza.
Sebuah bocoran dokumen yang diperoleh media EmirateLeaks mengungkap adanya proposal pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) untuk menggunakan pangkalan-pangkalan UEA di Laut Merah guna memberikan dukungan militer, intelijen, dan logistik secara langsung kepada Israel selama perang di Gaza.
Dilansir the Cradle, Senin (12/1), dokumen tersebut bertanggal Oktober 2023 dan ditujukan kepada Komando Operasi Gabungan Angkatan Bersenjata UEA. Dokumen itu ditulis oleh Hamdan bin Zayed Al-Nahyan, Perwakilan Wilayah Al-Dhafra sekaligus Ketua Otoritas Bulan Sabit Merah UEA.
“Dengan adanya serangan ‘teroris’ [7 Oktober] terhadap negara sahabat Israel, dan berdasarkan perjanjian bersejarah yang menetapkan kerja sama antara kedua negara … serta sebagai pelaksanaan perintah yang dikeluarkan oleh Komando Operasi Gabungan UEA untuk mendukung Negara Israel melalui pangkalan militer di wilayah Laut Merah bagian selatan – Al-Mokha di pantai barat Yaman, serta Massawa dan Assab di Eritrea dan Somalia – maka persiapan dan kesiapan cepat telah dilakukan untuk membekali pangkalan-pangkalan militer kami di Laut Merah selatan, khususnya di Yaman, dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung Negara Israel,” demikian bunyi awal dokumen tersebut.
Mengkritik Qatar
Dokumen itu secara eksplisit menyerukan agar UEA “memperkuat Israel dalam perangnya melawan para teroris di Palestina,” dan agar dukungan tersebut terus berlanjut “hingga para teroris dikalahkan.”
Bocoran dokumen tersebut juga menyerukan kelanjutan “inisiatif kemasyarakatan” untuk meningkatkan “kohesi sosial” antara kedua negara.
Selain itu, dokumen tersebut menyerukan kerja sama yang “erat, solid, dan terintegrasi” dalam bidang “kontraterorisme, berbagi intelijen, dan teknologi militer,” serta “menegaskan penyediaan peralatan dan perangkat intelijen kepada Israel senilai satu miliar dolar.”
Dokumen itu juga mengkritik dukungan Qatar terhadap Hamas, serta menuduh Kuwait bertindak “bersama Qatar” dalam “memberikan dukungan keuangan besar-besaran kepada kelompok-kelompok bersenjata di Palestina,” dan menyebut hal ini sebagai “kontradiksi yang jelas terhadap kebijakan negara kami dan terhadap perjanjian antara negara kami dan Kuwait.”
Perjanjian Abraham
“Banyak ruang untuk mengutip hubungan kami sebelumnya dengan Negara Israel, yang mewajibkan kami untuk bekerja sama dengannya dan datang membantunya, serta memberikan dukungan di masa sulit maupun masa sejahtera. Uni Emirat Arab dan Negara Israel terikat oleh hubungan budaya, diplomatik, ekonomi, dan keamanan yang erat, dan hubungan ini semakin menguat sejak perjanjian bersejarah tahun 2020,” tulis dokumen tersebut.
UEA secara resmi menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020, ketika Perjanjian Abraham yang dimediasi Amerika Serikat ditandatangani. Washington dan Tel Aviv telah mendorong Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham.
Pada tahun-tahun setelah dimulainya perang yang dipimpin Arab Saudi di Yaman pada 2015, militer UEA membangun pendudukan luas atas pelabuhan, pulau, dan jalur perairan Yaman—yang dilakukan dengan koordinasi bersama Israel.
Ekspor Senjata Senilai USD 17 Juta
UEA juga telah mendirikan pangkalan-pangkalan militer di sepanjang pesisir Somalia.
Sejak genosida di Gaza dimulai, Abu Dhabi—yang kini menjadi mitra dagang Arab terbesar Israel—terus mengejar hubungan militer strategis dengan Tel Aviv.
Pada 2024, Balkan Insight mengungkap bahwa sebuah perusahaan yang terkait dengan UEA, Yugoimport-SDPR, mengekspor senjata senilai 17,1 juta dolar AS ke Israel melalui pesawat militer. Senjata-senjata tersebut secara langsung digunakan dalam perang genosida di Gaza.
Perusahaan-perusahaan Emirat juga menandatangani kesepakatan dengan XM Cyber—yang didirikan bersama oleh mantan kepala Mossad—untuk mengamankan infrastruktur energi nasional. XM Cyber bekerja bersama Rafael dan perusahaan militer elit Israel lainnya sebagai bagian dari sebuah konsorsium yang menargetkan pasar Teluk yang sensitif, termasuk minyak, energi, dan data.
Selain itu, raksasa pertahanan milik negara UEA, EDGE, memiliki saham di produsen senjata utama Israel, termasuk Rafael dan Israel Aerospace Industries (IAI).