Tiga Negara Arab Ini Latihan Militer Bersama Israel di Yunani
Israel meminta keterlibatannya dalam latihan ini dirahasiakan.
Tiga negara Arab yaitu Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA) ikut dalam latihan militer di Yunani bersama Israel dan sejumlah negara lainnya. Ini merupakan latihan angkatan udara Iniochos 2025 menggunakan jet tempur F-15 yang berlangsung dari 31 Maret-11 April.
Dalam latihan militer ini, para peserta mengikuti simulasi pertempuran udara dan koordinasi operasional, seperti dikutip dari The Cradle, Rabu (2/4).
"Semua jenis operasi udara akan dilaksanakan dengan kecepatan tempur yang intens, baik siang maupun malam, yang mencakup seluruh spektrum peperangan udara modern melalui serangkaian skenario yang kompleks dan sangat realistis," kata Angkatan Udara Yunani dalam sebuah pernyataan.
"Selain itu, Siprus berkontribusi dengan personel pendukung, sementara Slovakia dan Bahrain telah mengirim tim pengamat," tambahnya.
Prancis, India, Italia, Polandia, Slovenia, Spanyol, dan AS juga berpartisipasi dalam latihan udara tersebut.
Dalam latihan ini, Israel mengerahkan pesawat intelijen dan pesawat angkut Hercules, bersama puluhan personel dan awak darat.
Israel meminta keterlibatannya dalam latihan ini dirahasiakan, menurut koresponden militer Israeli Broadcasting Corporation (KAN), Itay Blumenthal.
"Qatar dan Israel sekarang berlatih bersama di Yunani," kata Blumenthal.
Keterlibatan Qatar dalam latihan tersebut terjadi setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituduh oleh oposisi, Mahkamah Agung Israel, dan Shin Bet memiliki hubungan yang “tidak pantas” dengan negara Teluk tersebut – dalam skandal yang dikenal sebagai “Qatargate.”
Dua orang ajudan dekat Netanyahu, Yonatan Urich dan Eli Feldstein, ditangkap pada Senin pagi atas tuduhan terlibat dengan agen asing, menerima suap, penipuan, pelanggaran kepercayaan, pencucian uang, dan mengoordinasikan transfer uang tunai Qatar ke Hamas.
Penangkapan ini merupakan bagian dari investigasi "Qatargate", yang menuduh tokoh-tokoh senior di kantor Netanyahu menerima pembayaran dari pejabat Qatar untuk meningkatkan citra Qatar. Netanyahu menyebut investigasi ini sebagai "perburuan penyihir." Qatar merupakan pendukung politik utama Hamas dan merupakan mediator utama dalam negosiasi gencatan senjata untuk Gaza.