Blak-blakan Warga Yahudi di Iran: Mereka Rasakan Kemarahan Akibat Serangan AS-Israel
Yosef merupakan salah satu warga Yahudi di Iran yang mengungkapkan rasa takutnya terhadap situasi yang dihadapi oleh komunitasnya.
Para pria Yahudi ultra-Ortodoks berunjuk rasa di Yerusalem, Kamis (30/10/2025), menentang rencana wajib militer bagi mereka. (Dok. Leo Correa/AP)
(@ 2025 merdeka.com)Perang rudal di timur Tengah makin panas. Peristiwa ini dipicu dari aksi serangan Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) mengirimkan rudal ke Teheran, beberapa waktu lalu.
Akibatnya, pimpinan tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarga tewas. Tidak hanya itu, rudal Israel yang ditembakan pertama kali juga menyerang sebuah sekolah putri yang menewaskan ratusan siswa.
Sementara itu, komunitas Yahudi kecil di Iran menjadi berada dalam situasi rumit. Di satu sisi, mereka berbagi identitas agama dengan Israel, tetapi di sisi lain, mereka adalah warga negara Iran yang hidup dalam ketegangan akibat serangan udara dan konflik militer yang terus berlangsung.
Yosef, seorang mahasiswa yang mempelajari sejarah Yahudi Iran, mengungkapkan bahwa konflik ini menunjukkan perbedaan yang jelas antara Yudaisme sebagai agama dan Zionisme sebagai ideologi politik.
"Zionisme-lah yang merusak reputasi Israel secara global. Saat ini hampir tidak ada gerakan sayap kiri yang berpengaruh di Israel. Persaingan politik justru terjadi antara politisi sayap kanan garis keras dan yang lebih radikal," katanya dalam wawancaranya dengan Middle East Eye.
Yosef juga mengkritik keras tindakan militer Israel di Gaza Strip, yang menurutnya akan dikenang sebagai tragedi besar dalam sejarah. "Apa yang terjadi di Gaza akan tetap diingat. Rasa malu itu akan melekat pada Zionisme dan mereka yang mendukungnya," tegasnya.
Serangan Israel terhadap fasilitas minyak di Iran bahkan telah membuat langit di atas Tehran dipenuhi asap. Yosef merasa kecewa ketika melihat sebagian warga Iran justru mendukung tindakan Israel. Ia menyatakan, "Ketika saya melihat beberapa warga Iran mempercayai pidato Benjamin Netanyahu, itu membuat saya sedih. Mereka seharusnya mendengar bagaimana ia berbicara kepada rakyat Suriah, Lebanon, dan Palestina," menyoroti dampak dari retorika politik yang memecah belah.
Netanyahu di Kasus Penyuapan dan Penipuan
Pandangan yang serupa juga disampaikan oleh Sara, seorang pengusaha Yahudi berusia 46 tahun dari Shiraz. Ia secara terbuka menyalahkan Netanyahu atas meningkatnya konflik di kawasan.
"Bahkan di Israel sendiri banyak orang membenci penipu ini," katanya, merujuk pada berbagai kasus hukum yang menjerat Netanyahu. Pemimpin Israel tersebut menghadapi tuduhan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan sejak 2019, meskipun proses persidangannya sering tertunda akibat perang.
"Ya, saya Yahudi. Tetapi saya tidak bisa melihat negara tempat saya lahir dan dibesarkan sebagai musuh saya," kata Sara. Ia menambahkan bahwa dirinya merasa mampu menilai konflik tersebut secara objektif karena identitasnya sebagai Yahudi sekaligus warga Iran.
"Saya Yahudi dan Iran. Karena itu saya melihat situasi ini tanpa kebencian. Banyak kekacauan di kawasan ini berkaitan dengan kebijakan Netanyahu," ujarnya. Komunitas Yahudi di Iran telah mengalami penurunan jumlah yang signifikan sejak Revolusi Iran 1979.
Sebelum revolusi, diperkirakan terdapat antara 70.000 hingga 100.000 orang Yahudi yang tinggal di Iran. Namun, setelah hubungan diplomatik antara Teheran dan Israel terputus, banyak yang memilih untuk emigrasi. Sensus nasional Iran tahun 2016 mencatat jumlah Yahudi sekitar 9.000 orang dari total populasi lebih dari 90 juta penduduk, meskipun sebagian anggota komunitas meyakini bahwa angka sebenarnya sedikit lebih tinggi.
Pilihan Sulit
Daniel, seorang pengrajin perhiasan berusia 52 tahun yang tinggal di Tehran, mengungkapkan perasaan campur aduk yang ia alami. "Saat melihat rudal menghantam kota-kota di Israel, saya merasa sedih. Namun, ketika jet tempur Israel dan Amerika melintas di atas kota saya, perasaan sedih itu kembali muncul," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa suara ledakan yang terus menerus terjadi hampir setiap malam membuat warga setempat sulit untuk tidur. Daniel juga memilih untuk tidak memberikan komentar politik yang terlalu tegas, mengingat risiko yang dihadapi jika berbicara secara terbuka mengenai konflik di Iran, terutama di tengah situasi perang yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, pandangan mengenai Israel tidak seragam di kalangan komunitas Yahudi Iran. Arash, seorang pemilik restoran berusia 71 tahun di Tehran, merasakan ketidaknyamanan saat membahas perang. "Ini adalah konflik antara dua negara yang keduanya memiliki hubungan dengan kita," katanya.
Ia juga menilai bahwa kebijakan Republik Islam Iran memiliki kontribusi terhadap meningkatnya ketegangan. "Pertanyaan yang sebenarnya adalah: siapa yang pertama kali berjanji untuk menghancurkan pihak lain?" ujarnya. Meski demikian, Arash mencatat bahwa sikap masyarakat Iran terhadap komunitas Yahudi telah menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.
"Tingkat kemarahan terhadap Republik Islam sangat tinggi, sehingga banyak orang Iran kini melihat orang Yahudi sebagai teman," tambahnya. Ia menegaskan bahwa identitasnya tetap sebagai warga Iran. "Ingatlah, saya juga orang Iran. Saya merasa sedih karena kebijakan pemerintah telah membawa negara ini ke kondisi yang menyedihkan," pungkasnya.