Bayi Palestina Dipulangkan Lagi ke Gaza Usai Jalani Operasi Jantung di Yordania
Sejumlah bayi yang sakit di Gaza sempat dirawat di Yordania ketika gencatan senjata berlangsung, tapi kemudian mereka dipulangkan lagi.
Di dalam sesaknya tenda darurat kamp pengungsi al-Shati di sebelah utara Jalur Gaza, Enas Abu Daqqa, seorang ibu yang berusia 33 tahun ini memeluk erat bayi perempuan mungilnya. Sebuah kipas angin usang berdengung terus-menerus di belakangnya, berusaha memecah panasnya pagi yang menyengat.
Bayi itu bernama Niveen, ia lahir di tengah ganasnya perang. Kini usianya baru menginjak tujuh bulan. Niveen terlahir sebagai insan yang berbeda, dengan lubang di jantungnya. Hari demi hari Enas semakin khawatir dengan kesehatan putri kecilnya yang bisa memburuk kapan pun, dan di mana pun.
Enas menceritakan bagaimana putrinya berjuang untuk tetap hidup di tengah sistem layanan kesehatan yang kian hancur di Gaza. Niveen, dengan mata cokelatnya yang besar dan tubuhnya yang mungil, hanya bisa menangis dan gelisah.
Mudah Jatuh Sakit
“Perang sangat berat untuknya,” kata Enas seperti dikutip BBC pada Rabu (21/5). “Berat badannya tidak bertambah, ia mudah sekali jatuh sakit.”
Satu-satunya kesempatan bagi Niveen untuk bisa sekedar bertahan hidup adalah menerima perawatan darurat di luar Gaza. Harapan itu sempat hadir ketika awal Maret ia dibawa ke Yordania untuk menjalani pengobatan.
Saat gencatan senjata antara Hamas dan Israel berlangsung, 29 anak di Gaza yang sakit dievakuasi ke Yordania, termasuk Niveen. Mereka menerima perawatan di rumah sakit di negara itu. Ibu dan kakak perempuannya juga ikut ke sana.
Mereka adalah anak-anak pertama yang dievakuasi ke Yordania setelah Raja Abdullah mengumumkan rencana akan merawat 2.000 anak Gaza yang sakit selama kunjungannya ke Amerika Serikat (AS) pada bulan sebelumnya. Evakuasi ini dikoordinasikan dengan otoritas Israel dengan pemeriksaan latar belakang bagi orang tua yang bepergian dengan anak-anak mereka.
Dua pekan dirawat
Dokter di Yordania berhasil melakukan operasi jantung terbuka untuk Niveen. Akhirnya, ia perlahan-lahan mulai pulih.
Namun sekitar dua pekan setelah mereka dirawat, gencatan senjata di Gaza berakhir saat Israel kembali melanjutkan serangannya, dan perang kembali terjadi dengan kekuatan penuh.
Selama berminggu-minggu, Enas mengikuti perkembangan berita tersebut di balik kamar rumah sakit yang merawat putrinya di Yordania. Tiba-tiba saat larut malam pada 12 Mei, otoritas Yordania memberi tahu Enas bahwa mereka akan dipulangkan ke Gaza keesokan harinya. Otoritas tersebut mengatakan bahwa saat itu Niveen telah menyelesaikan perawatannya.
Sontak Enas terkejut atas kabar tersebut.
“Kami datang ke sini saat ada gencatan senjata. Bagaimana bisa mereka memulangkan kami setelah perang dimulai lagi?” katanya dengan frustasi.
Sesak Napas Hingga Tubuh Membiru
Enas kini telah berkumpul kembali dengan suami dan anak-anaknya di Gaza. Mereka mengatakan bahwa perawatan Niveen sebenarnya belum sepenuhnya selesai ketika mereka dipulangkan. Kini, Enas sangat khawatir kalau kondisi putrinya akan kembali memburuk.
“Kondisi putri saya sangat mengkhawatirkan. Jika ini terus terjadi, bisa saja merenggut nyawanya,” kata Enas.
“Niveen menderita sakit jantung. Kadang, dia bisa sesak napas hingga tubuhnya membiru. Dia tak bisa terus-menerus hidup di dalam tenda.”
Pada 13 Mei, pemerintah Yordania mengatakan telah memulangkan 17 anak ke Gaza usai mereka menyelesaikan masa pengobatannya. Sehari setelahnya, empat anak sakit lainnya kembali dievakuasi dari Gaza menuju Yordania.
Kebijakan Yordania
Pihak Yordania mengatakan bahwa semua anak yang dipulangkan sudah berada dalam kondisi medis yang baik, membantah klaim bahwa mereka belum menyelesaikan pengobatannya.
Mereka juga menegaskan bahwa sejak awal kerajaan Yordania telah menyatakan niatnya untuk memulangkan anak-anak itu setelah kondisi mereka membaik, dengan alasan bahwa hal ini diperlukan karena alasan ‘logistik dan politik’.
“Kebijakan Yordania adalah untuk menjaga warga Palestina di tanah mereka, serta tidak berkontribusi terhadap pengungsian di luar wilayah mereka,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri kepada BBC.
Pemulangan 17 anak itu akan memungkinkan lebih banyak anak sakit untuk dievakuasi di Gaza, tambahnya.
Namun seorang pejabat di Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan anak-anak tersebut masih membutuhkan perawatan, dan pemulangan mereka ke zona perang malah akan membahayakan nyawa mereka.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey