AS Jadi Sponsor Utama Genosida di Gaza, Kirim 90.000 Ton Senjata ke Israel dalam 600 Hari
Selama 19 bulan terakhir, pemerintah AS menyetujui penjualan senjata senilai hampir USD30 miliar (Rp480 triliun) ke Israel.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjadi penyedia utama bom yang digunakan Israel untuk pembersihan etnis di Gaza, Palestina. Pesawat ke-800 yang membawa senjata AS ke Israel mendarat di Tel Aviv pada 27 Mei. Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan, sejak awal genosida terhadap warga Palestina di Gaza dimulai, pemerintah AS telah mengirim lebih dari 90.000 ton persenjataan dan peralatan militer ke Israel.
Pemerintah Israel menganggap pengiriman senjata AS yang terus-menerus melalui laut dan udara adalah “komponen penting” yang memungkinkan Israel dapat melanjutkan genosida yang kini memasuki hari ke-600 pada Selasa (27/5).
Dilansir The Cradle, Selasa (27/5), selama 19 bulan terakhir, pemerintah AS menyetujui penjualan senjata senilai hampir USD30 miliar (Rp480 triliun) ke Israel. Pembelian tersebut termasuk USD7,4 miliar (Rp118 triliun) untuk rudal dan bom pada Februari, dan paket senjata ‘darurat’ senilai USD3 miliar (Rp48 triliun) pada Maret.
Menurut laporan yang diterbitkan tahun lalu oleh proyek Biaya Perang Universitas Brown, AS menghabiskan setidaknya USD22,76 miliar (Rp364 triliun) antara 7 Oktober 2023 dan September 2024 untuk mendukung genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza.
Departemen Luar Negeri AS berulang kali menggunakan otoritas darurat untuk mempercepat pengiriman senjata.
Bulan lalu, Senat AS dengan suara mayoritas memilih untuk membatalkan dua resolusi ketidaksetujuan mengenai transfer senjata besar-besaran AS dan bantuan militernya ke Israel.
“Donald Trump adalah teman terbaik yang pernah dimiliki Israel di Gedung Putih. Dia menunjukkannya dengan mengirimkan kepada kita semua amunisi sebelumnya tertahan. Dengan cara ini, dia memberi Israel alat yang kami butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan melawan poros terror Iran,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Maret lalu.
Hingga Mei 2025, lebih dari 100.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza. Total tersebut jauh melampaui jumlah di Dresden dan Hamburg selama Operasi Gomorrah, dan London selama Blitz di Perang Dunia II, yang jika digabungkan keduanya hanya menghasilkan sekitar 32.300 ton bahan peledak.
“Selama hidup, saya belum pernah melihat begitu banyak cedera akibat ledakan. Dan saya belum pernah melihat begitu banyak orang cedera di Gaza. Kami juga melihat cedera ini pada anak-anak yang sangat kecil,” kata dokter bedah Inggris, Victoria Rose, kepada wartawan pada minggu (25/5) setelah bertugas sebagai anggota delegasi medis di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan.
Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi sedikitnya 54.000 orang telah terbunuh oleh Israel sejak dimulainya genosida yang disponsori AS.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey