Waspada Krisis Energi, Presiden Prabowo Singgung Pakistan Terapkan WFH untuk Penghematan
Pemerintah saat ini tengah menyusun langkah proaktif untuk menekan konsumsi energi fosil guna mengantisipasi skenario terburuk di masa depan.
Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan serius terkait kondisi ketidakpastian global yang mulai berdampak pada sektor energi dan pangan di dalam negeri. Ketegangan yang terjadi di kawasan Eropa dan Timur Tengah disebut menjadi pemicu utama fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berisiko mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
"Kita hadapi perkembangan yang terjadi secara global di kawasan Eropa dan Timur Tengah, dan ini tentunya memberi dampak kepada kita karena akan mempengaruhi harga BBM. Harga BBM juga bisa mempengaruhi harga makanan," kata Prabowo dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3).
Pemerintah saat ini tengah menyusun langkah proaktif untuk menekan konsumsi energi fosil guna mengantisipasi skenario terburuk di masa depan. Ia menegaskan, rasa aman yang dirasakan saat ini tidak boleh membuat jajaran kabinet maupun masyarakat menjadi lalai dalam penggunaan sumber daya energi yang terbatas.
"Tapi tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita," tegasnya.
Sebagai bahan pertimbangan, Prabowo memberikan contoh kebijakan ekstrem yang telah diambil oleh negara lain seperti Pakistan dalam menghadapi krisis serupa. Kebijakan tersebut mencakup pemotongan hari kerja hingga penerapan bekerja dari rumah (WFH) secara massal guna menekan mobilitas dan penggunaan energi secara signifikan.
"Mereka melaksanakan work from home, kerja dari rumah untuk semua kantor pemerintah maupun swasta. 50 persen bekerja dari rumah, kemudian hari kerja mereka potong hanya menjadi empat hari," ungkapnya.
Langkah Penghematan Bukan Sekadar Wacana
Langkah penghematan ini bukan hanya sekadar wacana, melainkan bagian dari strategi besar untuk menjaga agar defisit anggaran negara tidak membengkak. Target ambisius pemerintah adalah mencapai anggaran yang seimbang (balanced budget) dengan menutup segala celah inefisiensi dan kebocoran administrasi yang selama ini terjadi.
"Sasaran kita adalah APBN kita harus balanced budget, itu paling ideal. Dan itu saya kira kita bisa lakukan. Bahwa kita harus selalu ingat, bahwa kita masih menghadapi masalah-masalah kebocoran, tidak efisien, masalah-masalah under-invoicing, under-counting, manipulasi administratif dan sebagainya," jelasnya.
Digitalisasi birokrasi melalui GovTech juga menjadi senjata utama untuk menekan potensi kebocoran anggaran hingga angka 40 persen. Prabowo meminta para Menteri Koordinator untuk mulai mengkaji kemungkinan penerapan kembali sistem kerja yang lebih efisien seperti yang pernah dilakukan saat menghadapi pandemi Covid-19.
"Dulu kita atasi Covid, berhasil kita. Dan kita mampu, banyak bekerja dari rumah, efisiensi, berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar. Umpamanya berapa ASN dan pejabat tidak usah ke kantor, mengurangi macet dan melaksanakan penghematan besar-besaran," paparnya.
Ingatkan Jajaran Tetap Siaga
Ia mengingatkan seluruh jajarannya untuk tetap siaga dan tidak meremehkan potensi konflik berkepanjangan yang mungkin terjadi di wilayah Timur Tengah.
Persiapan matang di segala lini menjadi kunci agar roda kehidupan masyarakat Indonesia tetap berjalan normal meski dihantam badai krisis global.
"Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang. Saya kira itu yang saya ingin sampaikan bahwa kita walaupun merasa aman, tidak panik tapi kita juga tidak boleh terlalu lengah," pungkasnya.