Tiga Desa di Bali Kini Punya PLTS Atap, Ternyata Bisa Hemat Ratusan Ribu Rupiah
Peluncuran PLTS atap di tiga desa ini sebagai upaya untuk mendorong percepatan Bali Net Zero Emission 2045.
Sebanyak tiga desa memasang Pembangkitan Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Pulau Bali, pada Rabu (27/8). Tiga desa tersebut, ialah Desa Banjarasem di Kabupaten Buleleng, Desa Baturinggit di Kabupaten Karangasem dan di Desa Batununggul di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali.
Bahkan, peluncuran PLTS atap ini dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Institute for Essential Service Reform (IESR).
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Bali, Ida Bagus Setiawan mengatakan, peluncuran PLTS atap di tiga desa ini sebagai upaya untuk mendorong percepatan Bali Net Zero Emission 2045.
"Sehingga seperti di balai desa ini memang strukturnya sudah dibuat untuk bisa ditambahkan PLTS," kata Setiawan, di Peresmian PLTS atap di Balai Desa Banjarasem, Buleleng, Rabu (27/8).
Untuk PLTS atap di Banjarasem, Buleleng, memiliki kapasitas 3,48 kilo watt atau kWp dengan baterai 4,8 kWh yang terpasang di balai desa. Sedangkan di PLTS atap di Desa Baturinggit, Karangasem, memiliki kapasitas daya 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh. PLTS atap tersebut akan dimanfaatkan untuk akses air bersih bagi warga sekitar.
Kemudian di PLTS atap di Desa Batununggul, Nusa Penida, memiliki kapasitas 5,95 kWh dengan baterai 4,8 kWh yang terletak di Kantor Camat. Nantinya PLTS tersebut akan mendukung layanan administrasi masyarakat.
PLTS Dipasang di SDN 1 Batununggul
Selain di tiga desa tersebut, PLTS atap juga dipasang di SDN 1 Batununggul, Nusa Penida, kapasitasnya sebesar 2,46 kWp dengan baterai 5,12 kWh. Sekolah ini akan menjadi percontohan penyerapan energi surya di bidang pendidikan.
Setiawan menyebut, hingga saat ini total daya penyerapan energi panel surya di Bali mencapai 50 megawatt (MW) dan dengan mulai banyaknya pemasangan PLTS atap mampu mengurangi tagihan listrik masyarakat.
"Kalau sebaran pasti yang terbanyak saat ini di Denpasar, Badung dan sebagian Nusa Penida, dan antara 10-40 persen penghematan dari biaya normal," ujar Setiawan.
Sementara, Fabby Tumiwa selaku Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) mengatakan, dengan adanya PLTS atap di Balai Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Buleleng, bisa menjadi percontohan.
"Ini bukan sekadar pemasangan panel. Tapi awal dari perubahan besar. Kami berharap Desa Banjarasem jadi contoh bagaimana energi bersih bisa mendekatkan warga, menghemat biaya, dan membuka akses yang lebih luas bagi semua," ujarnya.
Pemasangan Sejak 13 Juli 2025
Sementara, Kepala Desa Banjarasem, Made Sirsa mengatakan pemasangan PLTS atap sejak tanggal 13 Juli 2025.
"Pemasangannya dimulai 13 Juli, dua hari kemudian langsung on. Selama 43 hari ini, kami hanya habiskan 2,66 kWh, pengiritan sekitar Rp700.000 sampai Rp800.000. Padahal belum dimanfaatkan maksimal karena lampu-lampu belum semua terpasang," ujarnya.
PLTS yang dipasang berkekuatan 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh. Listrik ini sudah mendukung berbagai aktivitas warga di balai desa, dari posyandu, kelas ibu hamil, olahraga sore, hingga acara budaya malam hari.
"Dengan adanya bantuan seperti ini, aktivitas warga kami semakin meningkat. Mereka merasa lega karena tidak lagi khawatir soal biaya listrik," ujarnya.
Selain itu, di desa juga sudah membentuk tim pemantau harian untuk memastikan PLTS berjalan optimal. Dan antusiasme warga pun terus tumbuh dengan adanya pemasangan PLTS atap tersebut.
"Kami pakai staf desa supaya bisa dicek setiap hari. Kalau ada gangguan, kami video call tim teknis IESR. Jadi cepat tanggap. Banyak warga yang bertanya, berapa harga panelnya, bisa dibeli atau tidak. Artinya, masyarakat sudah mulai tertarik. Mereka lihat sendiri manfaatnya," ujarnya.