Pulau Tunda Serang Jadi Percontohan PLTS Mandiri Kemendes PDTT, Warga Nikmati Listrik 24 Jam
Pulau Tunda, Serang, Banten, kini menjadi lokasi proyek percontohan PLTS Mandiri Kemendes PDTT untuk menyediakan listrik 24 jam penuh bagi 300 rumah tangga dan mendorong peningkatan ekonomi lokal.
Desa Wargasara di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten, telah resmi ditetapkan sebagai lokasi proyek percontohan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mandiri. Penetapan ini dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sebagai upaya nyata dalam pemerataan akses energi. Kerja sama ini menargetkan sekitar 300 rumah tangga di pulau terluar tersebut dapat menikmati aliran listrik 24 jam penuh.
Program ini hadir sebagai solusi atas permasalahan listrik yang telah berlangsung puluhan tahun di Pulau Tunda. Sebelumnya, warga hanya dapat menikmati pasokan listrik selama 6 hingga 12 jam setiap harinya. Kondisi ini tentu sangat menghambat aktivitas sehari-hari maupun potensi ekonomi masyarakat setempat.
Dengan adanya PLTS Mandiri, diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam kualitas hidup dan produktivitas warga. Selain pasokan listrik yang stabil, proyek ini juga mencakup penyediaan fasilitas penunjang yang vital. Ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan akses layanan dasar yang berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Transformasi Energi di Pulau Tunda
Penetapan Desa Wargasara sebagai proyek percontohan PLTS Mandiri disambut baik oleh Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah. Ia menyatakan rasa syukur atas inisiatif Kemendes PDTT yang memilih Kabupaten Serang sebagai lokasi percontohan. Penetapan ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara pemerintah daerah dengan PT Metta Energi Sejahtera.
Selama puluhan tahun, warga Pulau Tunda menghadapi keterbatasan akses listrik yang hanya tersedia selama 6 hingga 12 jam sehari. Kondisi ini menghambat berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, komunikasi, hingga kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, kehadiran PLTS Mandiri ini menjadi harapan besar bagi masyarakat untuk mendapatkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.
Proyek PLTS Mandiri ini mencakup pemasangan 14 unit panel surya mono, penyediaan baterai lithium sebagai penyimpan energi, serta pembangunan ruang distribusi daya. Selain itu, kerja sama ini juga mencakup penyediaan cold storage atau gudang pendingin. Fasilitas ini sangat krusial untuk mendukung aktivitas nelayan setempat dalam menjaga kualitas hasil tangkapan mereka.
Skema Kerja Sama dan Peningkatan Ekonomi Lokal
Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Kemendes PDTT, Nugroho Setijo Negoro, menjelaskan bahwa skema program PLTS Mandiri ini bukanlah hibah. Melainkan merupakan investasi kerja sama antara pihak swasta dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Model ini menekankan pada kemandirian dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan infrastruktur.
PT Aurora Power Indonesia, yang merupakan bagian dari Metta Group, terlibat dalam proyek ini melalui PT Metta Energi Sejahtera. CEO PT Aurora Power Indonesia, Katamsi Ginanom, menyatakan bahwa keterlibatan pihaknya didasari oleh semangat membangun negeri dari desa. Fokus utama mereka adalah membuka akses infrastruktur dasar di wilayah kepulauan yang seringkali terisolasi.
Dengan adanya listrik 24 jam dan fasilitas cold storage, diharapkan produktivitas dan perekonomian warga Pulau Tunda dapat meningkat secara signifikan. Nelayan dapat menyimpan hasil tangkapan mereka lebih lama, mengurangi kerugian, dan memperluas jangkauan pasar. Hal ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dan swasta dalam menciptakan keadilan akses layanan dasar.
Partisipasi Masyarakat Kunci Keberlanjutan
Nugroho Setijo Negoro menegaskan bahwa model kerja sama investasi ini menuntut partisipasi aktif masyarakat. Warga diharapkan bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan infrastruktur PLTS Mandiri yang telah dibangun. Hal ini penting untuk memastikan manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh seluruh komunitas.
Katamsi Ginanom dari PT Aurora Power Indonesia menambahkan bahwa kemiskinan seringkali disebabkan oleh tidak adanya akses terhadap modal dan infrastruktur. Oleh karena itu, proyek ini menjadi kesempatan bagi pihak swasta untuk berkontribusi. Meskipun dari sisi bisnis mungkin belum tentu menguntungkan, semangat membangun dari desa menjadi prioritas utama.
Proyek percontohan PLTS Mandiri di Pulau Tunda ini diharapkan dapat menjadi model yang sukses. Model ini dapat direplikasi di daerah-daerah terpencil lainnya di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengatasi kesenjangan akses energi dan infrastruktur. Hal ini pada akhirnya akan mendorong pembangunan ekonomi yang lebih merata.
Sumber: AntaraNews