PLTS Komunal Kaltim: Warga Pelosok Mandiri Kelola Listrik di Daerah Terpencil
Warga di sejumlah kawasan pelosok Kalimantan Timur menunjukkan kemandirian luar biasa dalam mengelola PLTS Komunal, memastikan pasokan listrik stabil di tengah keterbatasan akses infrastruktur.
Warga di sejumlah kawasan pelosok Kalimantan Timur (Kaltim) kini secara mandiri mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal. Inisiatif ini menjadi solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah yang sulit terjangkau jaringan PLN konvensional.
Pengelolaan mandiri ini dilakukan melalui skema dana patungan bulanan dari setiap kepala keluarga. Iuran rata-rata Rp50.000 per rumah setiap bulan dikumpulkan untuk operasional dan perawatan instalasi panel surya.
Langkah ini diambil untuk mengatasi keterbatasan akses infrastruktur kelistrikan yang memadai di kawasan terpencil. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim mengonfirmasi upaya kemandirian warga ini.
Kemandirian Masyarakat dalam Pengelolaan PLTS Komunal
Kepala Dinas ESDM Provinsi Kaltim, Bambang Arwanto, menjelaskan bahwa inisiatif ini muncul karena masih ada 38 desa yang belum terjangkau intervensi PLN tahun ini. Desa-desa tersebut merupakan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang sulit dijangkau jaringan konvensional.
Dana iuran swadaya yang terkumpul didedikasikan sepenuhnya untuk membayar upah harian pekerja. Para pekerja ini bertugas merawat instalasi panel surya agar operasionalnya tetap maksimal. Hal ini memastikan keberlanjutan pasokan listrik bagi masyarakat.
Salah satu contoh sukses terlihat di Kampung Malahing Bontang, di mana Nasir Lakada mengelola PLTS terpusat secara komunal. Listrik ini sangat membantu operasional warga yang mayoritas nelayan, termasuk untuk penerangan dan keperluan pariwisata sebagai pendapatan tambahan kampung.
Dukungan Pemerintah dan Target Elektrifikasi Kaltim
Pemerintah Provinsi Kaltim telah menyiapkan berbagai program kelistrikan pra-PLN. Program ini sepenuhnya mengandalkan sistem energi bertenaga surya untuk mengantisipasi nasib puluhan desa terpencil.
Kehadiran fasilitas pembangkit listrik alternatif ini menjadi langkah krusial. Tujuannya adalah memecahkan isolasi geografis sekaligus mendukung kelancaran seluruh kegiatan harian produktif warga desa pedalaman.
Berdasarkan pendataan resmi, dari total keseluruhan 1.038 desa/kelurahan yang tersebar di Kaltim, baru ada 966 kampung tercatat menikmati penerangan 24 jam dari jaringan resmi negara. Pemerintah Kaltim bersama PLN bertekad mengejar penyelesaian perluasan jaringan menuju 34 desa baru.
Memasuki target pada penghujung tahun 2026, upaya ini bertujuan menekan angka wilayah gelap. Harapannya, 100 persen seluruh desa di Kaltim dapat menikmati listrik negara 24 jam.
Potensi dan Tantangan Energi Terbarukan di Kaltim
Total kapasitas listrik di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara saat ini mencapai 1.086 Megawatt dengan tingkat beban puncak 928 Megawatt. Angka ini menunjukkan potensi besar untuk pengembangan energi terbarukan.
Pemanfaatan PLTS komunal menunjukkan potensi besar energi terbarukan. Ini khususnya dalam menjangkau daerah-daerah yang secara geografis menantang, seperti wilayah 3T.
Meskipun demikian, tantangan tetap ada dalam hal pemeliharaan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas sistem. Edukasi masyarakat tentang manajemen energi juga menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Pemerintah daerah terus berupaya memastikan pelaksanaan proyek energi baru terbarukan berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat lokal.
Sumber: AntaraNews