Survei: Perempuan Indonesia Lebih Mandiri Finansial
Di Indonesia, perempuan telah menunjukkan kemajuan dalam keamanan finansial.
Di Indonesia, perempuan telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam hal keamanan finansial, meskipun masih ada berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam pengelolaan kekayaan dan perencanaan keuangan.
Berdasarkan hasil survei terbaru dari Sun Life Asia yang berjudul "Women's Wealth in Focus: Building Confidence and Security", sebagian besar perempuan Indonesia merasakan peningkatan dalam kondisi finansial mereka jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Namun, mereka masih dihadapkan pada tekanan finansial akibat tanggung jawab keluarga serta kurangnya akses terhadap produk keuangan yang sesuai, yang menjadi hambatan utama.
"Survei ini menggarisbawahi bahwa perempuan di Indonesia semakin percaya diri dalam mengelola keuangan mereka, namun masih menghadapi tantangan dalam menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka. Kami di Sun Life berkomitmen untuk menghadirkan produk dan layanan yang lebih personal serta mendukung perjalanan finansial perempuan dengan solusi yang fleksibel dan inovatif," ungkap Kah Jing Lee, Chief Client Officer Sun Life Indonesia, dalam kutipannya pada Minggu (2/3).
Kemajuan Antar Generasi, tetapi Generasi Sandwich Menghadapi Tekanan
Lebih dari 78% perempuan di Indonesia merasa bahwa kondisi keuangan mereka sekarang lebih baik dibandingkan saat ibu mereka berada di usia yang sama.
Namun, tantangan besar tetap ada, terutama beban finansial yang dihadapi akibat tanggung jawab multi-generasi.
Sebanyak 32% dari ibu-ibu melaporkan mengalami stres karena harus mengatur kebutuhan anak dan orang tua secara bersamaan, yang menunjukkan adanya tanggung jawab finansial yang sangat besar dalam keluarga.
Meskipun 65% perempuan telah menyiapkan tabungan untuk perawatan lansia orang tua mereka, hanya 11% yang berharap mendapatkan dukungan penuh dari anak-anak mereka di masa depan.
Hal ini mencerminkan keinginan perempuan untuk membangun ketahanan finansial secara mandiri dan tidak bergantung pada generasi berikutnya.
Mengatasi Hambatan untuk Mencapai Aspirasi Finansial
Masalah kesehatan menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan finansial perempuan, di mana 59% responden menyebutnya sebagai pemicu utama dalam mengambil keputusan besar.
Selain itu, pembelian rumah (46%) dan perubahan signifikan dalam pendapatan (38%) juga menjadi pertimbangan penting. Namun, kurangnya literasi keuangan menjadi salah satu hambatan besar bagi masa depan finansial yang lebih baik bagi lebih dari setengah responden, yaitu 56%.
Hambatan lainnya termasuk fakta bahwa pendapatan perempuan sering kali lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam profesi yang sama (45%) serta tingginya biaya kesehatan (43%). Bagi para ibu, aspirasi finansial utama mereka adalah memastikan keamanan jangka panjang, dengan tujuan yang paling umum mencakup menabung untuk pendidikan anak (69%), membangun dana darurat (53%), dan mengajarkan literasi keuangan serta konsep investasi kepada anak-anak mereka (50%).
Ketika ditanya tentang arti keamanan finansial, sebagian besar perempuan menyatakan bahwa memiliki tabungan yang cukup untuk pengeluaran tak terduga (74%), bebas dari utang (68%), dan memiliki pendapatan pasif yang stabil (48%) adalah hal yang sangat penting.
Berusaha mencapai kesejahteraan dan stabilitas keuangan
Di Indonesia, perempuan terus berusaha untuk menyeimbangkan antara kebutuhan finansial dan tanggung jawab terhadap keluarga.
Sebanyak dua pertiga (66%) dari mereka secara konsisten mengutamakan kebutuhan finansial anggota keluarga, seperti orang tua yang sudah lanjut usia dan anak-anak, ketimbang kebutuhan pribadi mereka sendiri.
Lebih dari tiga perempat (78%) perempuan rela mengorbankan perawatan medis pribadi, termasuk pemeriksaan rutin seperti cek kesehatan tahunan dan pemeriksaan gigi, demi membiayai pengobatan anggota keluarga mereka.
Dalam konteks literasi keuangan, hampir setengah (44%) perempuan menganggap pengetahuan mereka tentang produk keuangan dan investasi berada pada tingkat dasar atau pemula.
Meskipun mayoritas perempuan dapat menyebutkan saldo pensiun saat ini (75%), rata-rata hasil tahunan investasi mereka (65%), dan suku bunga terkini di Indonesia (59%), masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman finansial yang mereka miliki.
Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan perempuan, agar mereka dapat membuat keputusan finansial yang lebih baik.
Saldo utang yang tersisa
Menurut data yang ada, sebanyak 64% perempuan yang memiliki hipotek tidak dapat memperkirakan sisa saldo utang mereka.
Selain itu, 35% dari mereka juga tidak mampu menyebutkan rata-rata hasil tahunan dari investasi yang mereka miliki.
Di sisi lain, lebih dari setengah (54%) perempuan mengalami kesulitan dalam menemukan produk keuangan yang dapat memenuhi kebutuhan khusus mereka.
Ketika mencari nasihat keuangan, hampir dua pertiga (63%) dari mereka lebih memilih untuk berkonsultasi dengan penasihat keuangan perempuan.
"Perempuan di Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks dalam mencapai stabilitas finansial. Survei kami menemukan bahwa lebih dari setengah (54%) perempuan mengalami kesulitan menemukan produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan unik mereka," ungkap President Commissioner Sun Life Indonesia Elin Waty.
Ia juga menambahkan, "Sun Life berkomitmen untuk memberikan edukasi dan akses terhadap produk yang tidak hanya inklusif, tetapi juga mampu mendukung perencanaan finansial jangka panjang, terutama bagi perempuan yang ingin menabung untuk pendidikan anak, membangun dana darurat, dan merencanakan masa depan yang lebih aman," tutup dia.