Sinyal Optimisme: Pertumbuhan Ekonomi NTB Triwulan III 2025 Melonjak Positif
Kepala Biro Ekonomi Pemprov NTB mengumumkan Pertumbuhan Ekonomi NTB triwulan III 2025 menunjukkan sinyal positif, melompat signifikan dari kontraksi. Apa pemicu kenaikan ini?
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini mengumumkan kabar baik mengenai kondisi perekonomian daerah. Kepala Biro Ekonomi Pemprov NTB, Najamuddin Amy, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2025 menunjukkan sinyal optimisme yang kuat. Data ini dirilis di Mataram, Kamis, memberikan gambaran positif setelah periode kontraksi.
Laju pertumbuhan ekonomi NTB tercatat sebesar 2,82 persen secara tahunan pada triwulan III 2025, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menjadi indikator penting peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Peningkatan ini sangat diharapkan setelah beberapa waktu terakhir mengalami tantangan.
Perkembangan positif ini menandai pembalikan signifikan dari kondisi sebelumnya yang sempat terkontraksi. Pada kuartal I dan II 2025, pertumbuhan ekonomi NTB masing-masing minus 1,43 persen dan minus 0,82 persen. Lompatan ini memberikan harapan baru bagi stabilitas ekonomi regional.
Pemulihan Ekonomi NTB Setelah Kontraksi Sektor Tambang
Sebelumnya, perekonomian Nusa Tenggara Barat menghadapi tekanan serius akibat kontraksi. Selama paruh pertama tahun 2025, pertumbuhan ekonomi NTB mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penyebab utama kontraksi ini adalah pelarangan ekspor konsentrat dari lapangan usaha tambang.
Najamuddin Amy menjelaskan bahwa NTB berhasil membuat lompatan positif yang luar biasa. Ia menyebutkan, "NTB sudah positif lompatannya dari minus 0,82 persen ke 2,82 persen." Pernyataan ini menegaskan keberhasilan daerah dalam mengatasi tantangan ekonomi.
Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mencatat laju Pertumbuhan Ekonomi NTB. Angka 2,82 persen pada triwulan III 2025 menunjukkan adanya perbaikan yang nyata. Data ini menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi selanjutnya.
Data pertumbuhan ekonomi yang akurat sangat krusial untuk pengambilan keputusan strategis. Najamuddin menyatakan bahwa informasi ini penting untuk menyusun keputusan dan merekayasa kembali acuan perencanaan pembangunan daerah tahun 2026. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memanfaatkan data untuk kemajuan.
Sektor Industri Pengolahan dan Potensi Relaksasi Ekspor Tambang
Meskipun sektor tambang masih mengalami minus pada triwulan III 2025 akibat tidak mengekspor konsentrat, sektor lain berhasil menjadi penopang utama. Lapangan usaha industri pengolahan menunjukkan pertumbuhan luar biasa sebesar 66,65 persen. Kontribusi signifikan ini menjadi kunci pendorong laju Pertumbuhan Ekonomi NTB.
Selain industri pengolahan, laju pertumbuhan ekonomi non-tambang juga memberikan harapan besar. Sektor ini melesat ke angka 7,86 persen, menunjukkan diversifikasi ekonomi yang semakin kuat. Kondisi ini mencerminkan potensi besar di berbagai lapangan usaha di Nusa Tenggara Barat.
Pemerintah Provinsi NTB juga melihat adanya potensi besar dari kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tambang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan kebijakan ini pada penghujung Oktober 2025. Kebijakan tersebut diperkirakan akan mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2025.
Najamuddin Amy mengungkapkan optimismenya terhadap prospek ekonomi di kuartal terakhir tahun ini. Ia menyampaikan, "Kalau kuartal IV kita tidak terlalu khawatir, pasti PT AMIN (Amman Mineral Industri) sudah ekspor (konsentrat)." Pernyataan ini mengindikasikan proyeksi positif berkat aktivitas ekspor yang akan kembali berjalan.
Sumber: AntaraNews