OJK: Pendalaman Pasar Terjadi, Transaksi Harian SBN Tembus Rp60 Triliun
Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan sekaligus meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap instrumen surat utang negara.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perkembangan pasar surat utang Indonesia terus menunjukkan tren yang semakin positif. Hal ini tercermin dari meningkatnya aktivitas perdagangan serta bertambahnya partisipasi investor, khususnya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang semakin likuid di pasar.
Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Eddy Manindo Harahap mengungkapkan, nilai rata-rata transaksi harian SBN pada tahun 2025 telah mencapai sekitar Rp60 triliun.
Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan sekaligus meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap instrumen surat utang negara.
"Perkembangan surat utang, baik itu SBN maupun obligasi korporasi, sejauh ini menunjukkan tren positif. Kemudian rata-rata nilai transaksi harian SBN, sekarang ini sudah cukup besar sekitar Rp60 triliun pada tahun 2025," kata Eddy dalam SPPA Award, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (13/4).
Kepemilikan SBN
Selain itu, kepemilikan SBN yang dapat diperdagangkan juga mengalami pertumbuhan sekitar 8,67 persen secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini menunjukkan minat investor yang terus menguat, baik dari domestik maupun asing.
Menurutnya, peningkatan ini menjadi sinyal bahwa pasar surat utang Indonesia semakin dalam dan efisien.
"Beberapa indikator mencerminkan perkembangan yang signifikan, seperti misalnya pemilikan SBN yang dapat diperdagangkan sekarang tumbuh sekitar 8,67 persen year-on-year," ujarnya.
Peran Repo Dorong Likuiditas Pasar
Eddy menyampaikan aktivitas repo SBN juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Saat ini, porsi repo terhadap total transaksi mencapai sekitar 35 persen, sementara repo antarbank menyumbang lebih dari 70 persen dari total aktivitas repo.
"Termasuk juga porsi repo SBN terhadap total transaksi itu saat ini 35 persen, dan juga repo antarbank ini juga menyumbang hingga lebih dari 70 persen dari aktivitas repo,” ujarnya.
Menurut Eddy, data tersebut menunjukkan bahwa kedalaman pasar terus meningkat, proses price recovery semakin baik, dan mekanisme repo semakin berkembang secara market-driven.