Investor Asing Kabur, Net Sell Saham dan SBN Tembus Rp 45,14 Triliun
Investor asing mencatatkan penjualan bersih di pasar saham sebesar Rp 23,34 triliun dalam periode bulanan (month to month).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa peningkatan tekanan global pada Maret 2026 telah menyebabkan arus keluar dana asing yang signifikan dari pasar keuangan domestik. Investor non-residen tercatat melakukan aksi jual bersih yang besar, baik di pasar saham maupun di Surat Berharga Negara (SBN). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa investor asing mencatatkan net sell di pasar saham sebesar Rp 23,34 triliun secara bulanan.
"Investor asing tercatat membukukan net sale di pasar saham senilai Rp 23,34 triliun month to month. Dengan tercatat lonjakan jual oleh investor asing yang disebabkan adanya transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham di bursa efek," ungkap Hasan dalam RDKB OJK Maret 2026, Senin (6/4/2026).
Aksi jual yang dilakukan oleh investor asing ini juga berkontribusi terhadap penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang mengalami koreksi cukup dalam sepanjang Maret 2026. Lonjakan net sell tersebut dipengaruhi oleh adanya transaksi besar di pasar negosiasi untuk beberapa saham yang terdaftar di Bursa Efek. Hal ini mencerminkan sikap wait and see dari investor global, yang cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko di negara-negara berkembang.
Dengan kondisi seperti ini, pasar keuangan domestik menghadapi tantangan yang cukup berat di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.
Dana Asing Meninggalkan Pasar Surat Berharga Negara (SBN)
Arus keluar dana asing tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga terlihat di pasar obligasi pemerintah. Sepanjang bulan Maret 2026, investor non-residen mencatatkan penjualan bersih (net sell) di pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 21,80 triliun.
"Seiring peningkatan persepsi risiko akibat terjadinya ketidakpastian global, investor non-residen membukukan net sale di pasar SBN sebesar Rp 21,80 triliun month to month," ujarnya. Aksi ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko global yang mendorong para investor untuk mengalihkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman.