Koperasi Merah Putih Pam Perluas Pasar, Kirim 10,5 Ton Kopra ke Surabaya
Koperasi Merah Putih Pam di Raja Ampat berhasil mengirimkan 10,5 ton kopra ke Surabaya pada Januari 2026, menandai langkah signifikan dalam perluasan pemasaran produk petani lokal ke tingkat nasional.
Koperasi Merah Putih Kampung Pam, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, sukses mengirimkan 10,5 ton kopra ke Surabaya, Jawa Timur, pada Januari 2026. Pengiriman ini merupakan bagian dari strategi perluasan pemasaran produk pertanian lokal ke pasar nasional. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai jual dan stabilitas ekonomi para petani kopra di wilayah tersebut.
Pengiriman kopra ini menjadi tonggak penting bagi Koperasi Merah Putih Pam yang mendampingi 13 petani, yang juga merupakan pemilik dusun kelapa di Kepulauan Pam. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar produk lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Ketua Koperasi Merah Putih Kampung Pam, Yopi Mambrasar, menyampaikan informasi ini dalam kegiatan Pertemuan Mitra Koperasi yang diselenggarakan oleh Yayasan EcoNusa di Sorong, pada 23-25 Februari 2026.
Dengan sekitar 95 persen warga Kampung Pam berprofesi sebagai petani kopra, inisiatif koperasi ini sangat vital. Dalam kondisi cuaca yang mendukung, produksi kopra dari wilayah tersebut dapat mencapai 30 hingga 50 ton setiap bulan, dengan kebun kelapa yang tersebar di pulau-pulau kecil.
Peran Koperasi dalam Menguatkan Petani Kopra
Koperasi Merah Putih Pam memiliki peran krusial dalam memperkuat posisi tawar petani kopra di Raja Ampat. Upaya penguatan kelembagaan koperasi ini telah dimulai sejak tahun 2024 melalui pembentukan koperasi pengelolaan kopra mandiri. Program Koperasi Merah Putih yang diluncurkan pada Juli 2025 kemudian mempercayakan pengelolaannya kepada Yopi Mambrasar, menjadikan koperasi mandiri tersebut sebagai salah satu unit usaha Koperasi Merah Putih Kampung Pam.
Menurut Yopi Mambrasar, sebelumnya bantuan pemerintah sulit diakses oleh petani karena mereka tidak berkelompok. “Selama ini karena tidak berkelompok, bantuan pemerintah sulit diakses. Padahal bantuan biasanya berbasis gotong royong,” ujarnya. Melalui koperasi, petani kini memiliki wadah yang terorganisir untuk mengakses berbagai dukungan dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Selain itu, koperasi juga menerapkan skema simpanan sebesar tiga persen dari keuntungan penjualan anggota. Skema ini bertujuan untuk mendukung biaya pendidikan dan kebutuhan darurat bagi para anggota, menunjukkan komitmen koperasi terhadap kesejahteraan jangka panjang anggotanya.
Meningkatkan Pemahaman dan Target Masa Depan
Meskipun telah mencapai keberhasilan, Yopi Mambrasar mengakui bahwa pemahaman masyarakat mengenai sistem koperasi masih perlu diperkuat. Hal ini penting agar lebih banyak petani menyalurkan hasil panen mereka melalui koperasi. “Karena itu kami perlu lebih banyak sosialisasi kepada masyarakat mengenai proses dan sistem koperasi agar 2026 bisa menjadi lebih baik,” kata Yopi.
Sejak Agustus 2025, Yayasan EcoNusa telah memberikan dukungan permodalan kepada Koperasi Merah Putih Pam dengan skema pembagian hasil yang menguntungkan petani, yaitu 70 persen untuk koperasi dan 30 persen untuk EcoNusa. Yopi menilai skema ini lebih berpihak kepada petani dibandingkan pola pembagian modal pada umumnya.
Pada tahun 2026, Koperasi Merah Putih Pam menargetkan pembangunan gudang dan peningkatan kapasitas produksi. Tujuan utama dari target ini adalah untuk mendorong stabilitas ekonomi masyarakat dan menjadikan desa mandiri dengan pemanfaatan potensi lokal. “Sehingga diharapkan terjadi peningkatan perekonomian masyarakat dan perputaran ekonomi masyarakat menjadi lebih stabil. Juga bisa menjadi desa mandiri dengan pemanfaatan potensi di desa,” tutup Yopi.
Sumber: AntaraNews