Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) aktif memberikan serangkaian pelatihan kepada para ibu pelaku tradisi adat pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, yang dikenal sebagai "sasi". Kegiatan ini berlangsung di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, pada Jumat (10/4), dengan fokus pada kelompok sasi perempuan dari tiga kampung di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Inisiatif ini dirancang untuk memastikan tradisi sasi dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
Manajer Program Kelautan YKAN, Hilda Lionata, menjelaskan bahwa upaya regenerasi sasi ini sejalan dengan misi konservasi alam yang diemban YKAN. Tradisi sasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan adat masyarakat setempat, sehingga YKAN berupaya membangkitkan kembali praktik ini. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat peran perempuan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Pelatihan yang diberikan YKAN sangat komprehensif, mencakup berbagai aspek mulai dari regulasi pemerintah terkait perdagangan spesies hingga teknik pemanenan berkelanjutan. Selain itu, para ibu juga dibekali dengan keterampilan praktis seperti perawatan perahu, free dive, dan monitoring keanekaragaman hayati laut. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mereka sebagai penjaga laut.
Advertisement
Advertisement
Membangun Kapasitas Pelatih untuk Keberlanjutan Tradisi Sasi
Sederet pelatihan yang diberikan YKAN dirancang untuk membekali para ibu dengan pengetahuan dan keterampilan yang mendalam. Materi pelatihan meliputi peraturan pemerintah terkait perdagangan spesies yang diatur dalam CITES Appendix 2, pengenalan teripang laut dan lobster 101, serta protokol pemanenan yang berkelanjutan. Mereka juga diajari tentang pengumpulan data keanekaragaman hayati dan kelimpahan.
Selain aspek konservasi, YKAN juga membekali para ibu dengan keterampilan manajerial dasar, seperti pembukuan sederhana untuk arus kas kelompok. Pelatihan praktis lainnya mencakup perawatan perahu dan mesin 101, teknik free dive yang aman, serta metode monitoring visual dan transek garis. Penanganan setelah panen teripang dan lobster juga menjadi bagian penting dari kurikulum.
Hilda Lionata menekankan bahwa beberapa pelatihan ini secara spesifik bertujuan untuk melatih para ibu agar menjadi pelatih (ToT) bagi kelompok sasi baru di desa mereka. Fokus utama tahun ini adalah mengonsolidasikan kemampuan para perempuan. Pada tahun kedua, mereka diharapkan dapat berkeliling dan melatih kelompok laki-laki serta kelompok berbasis klan, mengambil alih peran YKAN sebagai fasilitator utama.
Advertisement
Advertisement
Peran Krusial Sasi Perempuan dalam Menjaga Ekosistem Laut
Ketua Kelompok Praktik Sasi dari Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Ribka Botot, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan pelatihan ini. Ia merasa sangat terbantu dengan adanya inisiatif dari YKAN yang secara langsung meningkatkan kapasitas komunitasnya. Partisipasi aktif dalam pelatihan ini membuka wawasan baru bagi para ibu.
Ribka Botot menegaskan bahwa regenerasi tradisi sasi memiliki peran vital dalam menjaga kelestarian laut dan keanekaragaman biota di dalamnya. Praktik sasi menjadi benteng pertahanan terhadap penangkapan ikan secara berlebihan dan penggunaan alat tangkap yang destruktif. Dengan demikian, ekosistem laut dapat tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Ia juga menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan dapat terus berlanjut. Pertemuan dan berbagi pengalaman antar sesama pelaku sasi dianggap sangat berharga. Mama Ribka, panggilan akrabnya, merasa bahwa melalui interaksi ini, ia dapat belajar hal-hal baru dan saling bertukar informasi yang bermanfaat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews