Kisah Prima Gharti Magar Melawan Stigma Kusta di Nepal
Prima Gharti Magar berjuang melawan stigma kusta setelah sembuh.
Kisah Prima Gharti Magar
Prima Gharti Magar, seorang pria berusia 42 tahun, baru-baru ini turun dari bus setelah menjalani perawatan selama 18 bulan di rumah sakit untuk memulihkan diri dari kusta. Saat kembali ke rumah, ia berharap keluarganya akan menyambutnya dengan hangat. Namun, harapan itu sirna ketika ia mendapati dirinya menghadapi kesunyian. Meskipun staf rumah sakit telah meyakinkan keluarganya bahwa ia telah sembuh dan tidak lagi menular, rasa takut masih membayangi sanak saudaranya.
"Saya pikir keadaan akan berubah saat saya sembuh," kenang Prima. "Namun, rasa takut dan stigma masih ada. Rasanya tidak seperti di rumah lagi." Kusta merupakan salah satu penyakit tertua yang diderita manusia dan tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga mengakibatkan penolakan sosial yang menyakitkan bagi banyak pengidapnya.
Prima telah sembuh dari kusta selama lebih dari 25 tahun, tetapi kenangan masa-masa tergelapnya masih membekas. Saat pertama kali mengetahui dirinya menderita kusta, ia merasa seolah akan diasingkan seumur hidup di kandang sapi. Stigma terhadap kusta, yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen, masih sangat kuat di Nepal, di mana sekitar 200.000 kasus baru tercatat setiap tahun menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Penyebab dan Penularan Kusta
Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan dapat menular melalui percikan ludah dari hidung dan mulut saat berkontak dekat dengan pengidap yang belum diobati. WHO menjelaskan bahwa penyakit ini tidak menyebar melalui kontak biasa, seperti berjabat tangan atau berbagi makanan. Setelah pengobatan dimulai, pasien akan berhenti menularkan kusta.
Meskipun dapat disembuhkan dengan antibiotik, banyak mitos dan ketakutan yang masih mengelilingi penyakit ini, terutama di daerah terpencil seperti pedesaan Nepal. Dr. Mahesh Shah, seorang dokter yang telah merawat pengidap kusta selama lebih dari 30 tahun, menyatakan, "Ada beberapa kesalahpahaman, seperti percaya bahwa kusta adalah kutukan, konsekuensi dosa, atau hukuman dari Tuhan. Atau [bahwa] ini adalah penyakit yang sangat menular dan tidak dapat disembuhkan."
Pengalaman Menyedihkan Prima
Kisah Prima mencerminkan perjuangan banyak orang di Nepal. Pada usia 10 tahun, saat gejala kusta muncul, ia dikurung di kandang sapi selama tiga bulan oleh keluarganya karena takut tertular. "Mereka bilang saya dikutuk," kenangnya. "Saya tidur di tanah yang dingin, ketakutan, dan kelaparan. Bahkan ibu saya tidak mau mendekati saya." Keluarga Prima memiliki sejarah menyedihkan terkait kusta, di mana kakeknya meninggal sendirian di hutan terpencil setelah tidak mendapatkan perawatan.
Tragedi ini terulang ketika ayah Prima mulai menunjukkan gejala serupa. Dalam pencarian kesembuhan, keluarga Prima beralih ke tabib tradisional, tetapi tidak ada yang bisa menyelamatkan ayahnya. Ia juga dikurung, terpisah dari keluarga dan masyarakatnya, hingga akhirnya meninggal tanpa pemakaman yang layak.
Perjuangan untuk Mendapatkan Perawatan
Setelah mengalami kematian ayahnya, Prima merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Namun, sebuah tanah longsor menguburnya hidup-hidup, dan itu menjadi titik balik baginya untuk berjuang untuk hidup. Ketika gempa bumi mengguncang Nepal, bencana itu justru membawa berkah tersembunyi bagi Prima, karena ia dibawa ke pusat kesehatan setempat untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Sayangnya, pusat kesehatan tersebut hanya dapat menyediakan persediaan obat untuk satu bulan sekali tebus. Prima harus melakukan perjalanan panjang untuk menebus resep obatnya, sering kali terhambat oleh cuaca buruk dan kondisi jalan yang berbahaya. Pada akhirnya, ia berhasil meyakinkan pusat kesehatan untuk mengizinkannya menjalani observasi selama seminggu dan dirawat di sana selama 18 bulan.
Mendapatkan Harapan dan Melawan Stigma
Selama perawatan, hanya dua orang kerabat jauh yang mengunjunginya, dan saat kembali ke rumah, ia tidak disambut oleh keluarganya. Prima mengungkapkan, "Itulah pertama kalinya saya merasa memiliki harapan. Para dokter memperlakukan saya seperti manusia, bukan penyakit." Proses pengobatannya menyakitkan dan dapat menyebabkan efek samping yang parah, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Mahesh Shah.
Dr. Shah menegaskan, "Dapson [antibiotik] dapat menyebabkan reaksi alergi parah, dan perawatan yang tepat sangat penting. Jika tidak, pasien dapat meninggal." Meskipun mengalami penolakan, Prima dan Amar Timalsina, yang juga menderita kusta, menemukan jalan untuk berobat dan melawan stigma yang melekat pada mereka.
Membangun Kehidupan Baru
Amar, yang didiagnosis mengidap kusta pada usia 12 tahun, juga merasakan stigma yang mengikutinya. Ia dikeluarkan dari sekolah setelah didiagnosis, dan merasa terasing dari masyarakat. Amar menjalani perawatan di Rumah Sakit Kusta Anandaban lebih dari 40 kali selama enam tahun. Ia mengingat, "Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah isolasi sosial, rasa sakit emosional, dan masalah kesehatan fisik akibat reaksi terhadap obat-obatan."
Setelah sembuh, Amar menikah, tetapi istrinya menceraikannya ketika mengetahui masa lalunya. Ia merasa tidak ada jalan keluar, hingga seorang dokter Belanda memberinya kesempatan untuk belajar di Kathmandu. Kesempatan ini membawanya untuk mendirikan IDEA Nepal, sebuah organisasi yang memberdayakan pengidap kusta.
Misi Menghilangkan Stigma
Sama halnya dengan Prima, yang dengan keberanian mengejar pendidikan. Ia bekerja di restoran dan lokasi konstruksi untuk menabung demi studinya. Setelah empat tahun menjalani perawatan, Prima mendaftar di kelas satu pada usia 21 tahun dan berhasil menyelesaikan pendidikan menengahnya dengan dukungan dari berbagai organisasi. Ia kemudian memperoleh gelar pascasarjana di bidang farmakologi dan kini menjalankan apoteknya sendiri.
"Ini bukan hanya tentang mencari nafkah," kata Prima. "Ini tentang membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa saya lebih dari sekadar penyakit ini." Dr. Mahesh Shah menekankan pentingnya menghilangkan mitos dan mendorong pengobatan dini untuk mengurangi penularan penyakit dan stigma sosial yang mengisolasi individu.
Menjadi Inspirasi di Masyarakat
Kini, Amar dan Prima menjadi contoh bagi banyak orang di Nepal. Anak-anak Amar menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, menunjukkan bahwa kehidupan dapat dibangun kembali setelah sembuh dari penyakit. Amar tetap berkomitmen untuk memastikan pengidap kusta diterima oleh masyarakat. "Masih ada daerah-daerah di mana orang-orang pengidap kusta dikurung. Itu perlu diubah. Setiap orang berhak mendapatkan martabat," ujarnya.
Prima sepakat dengan Amar, mengelola apoteknya membuatnya dihormati di komunitas. Ia terus membantu orang lain yang terkena kusta, menegaskan, "Orang-orang perlu melihat kami lebih dari sekadar masa lalu. Kami bukan penyakit - kami adalah individu dengan mimpi dan potensi."