Hari Buku: Padukan Buku dan Kopi, Shira Coffee Jadi Surga Kecil Penggemar Literasi di Utara Yogyakarta
Mengusung konsep kafe dan perpustakaan, Shira Coffee berdiri sejak tahun 2024 di Jalan Dersono, Ceper, Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.
Bagi penggemar buku dan kopi, berkunjung ke Shira Coffee menjadi semacam surga tersendiri. Koleksi ribuan buku yang bisa bebas dibaca dengan dipadukan secangkir kopi menjadi perpaduan yang sempurna bagi penyuka kopi dan literasi.
Mengusung konsep kafe dan perpustakaan, Shira Coffee berdiri sejak tahun 2024 di Jalan Dersono, Ceper, Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.
Shira Coffee ini berada di bawah manajemen Shira Media, sebuah penerbit buku terkemuka di Yogyakarta. Shira Media merupakan penerbit yang berdiri di Yogyakarta sejak tahun 2008.
Pemilik Shira Media Cahyo Satria mengatakan buku-buku yang dipajang di Shira Coffee merupakan koleksinya. Namun sebagian ada pula yang merupakan buku-buku terbitan Shira Media yang dipajang untuk dijual kepada pengunjung.
"Shira Coffee ini jadi satu dengan kantor penerbitan Shira Media. Buku di sini merupakan buku-buku koleksi saya. Sejak 2005 buku-buku ini saya koleksi. Ada lebih dari 20 ribu judul buku dari berbagai kategori genre dan bahasa yang kita pajang dan boleh dibaca di sini," kata Cahyo, Rabu (23/4).
"Selain itu juga ini jadi display buku-buku terbitan Shira Media. Buku-buku terbitan kami, kami jual juga di sini. Ini jadi semacam showroomnya Shira Media juga," sambung Cahyo.
Cahyo membeberkan karena berangkat dari bisnis penerbitan dan buku, konsep Shira Coffee agak berbeda dengan konsep warung kopi lainnya. Cahyo menyebut dibeberapa warung kopi atau kafe, memang ada juga yang memajang buku-buku namun sifatnya hanya dekoratif atau bagian dari display saja.
"Ini agak beda dengan teman-teman yang mengawali bisnis kafe sejak awal basicnya F&B (food and beverage). Jadi jualan utamanya adalah kopi dan buku dijadikan pajangan atau dekoratif saja. Buku-buku yang didisplay pun juga cuma asal buku," ungkap Cahyo.
"Kalau di Shira Coffee ini, bisnis utama kami ya memang penerbitan dan jualan buku. Jadi buku-buku yang dipajang di sini benar-benar kami kurasi. Buku ini yang utama, sedangkan bisnis kopinya hanya sampingan untuk mendukung jualan buku," lanjut Cahyo.
Cahyo membeberkan dirinya memang membuat Shira Coffee untuk mendekatkan buku dengan pembacanya. Selain itu Shira Coffee sengaja dikonsep pula agar orang yang datang benar-benar nyaman untuk membaca buku.
"Kami ingin mendekatkan buku dengan pembacanya. Kami ingin para pembaca buku senang di sini. Tempatnya kita bikin nyaman dan kalau kata orang interiornya juga Instagramable. Kami sengaja bikin beda suasananya," ungkap Cahyo.
Cahyo mengungkapkan banyak orang sengaja datang ke Shira Coffee untuk fokus membaca buku. Untuk mendukung situasi ini, lanjut Cahyo, di Shira Coffee sengaja tidak memasang atau menyediakan wifi buat pembeli.
Ke depan, Cahyo berharap diumur Shira Coffee yang baru setahun ini bisa memunculkan komunitas-komunitas pembaca buku. Nantinya akan banyak diskusi-diskusi soal buku di Shira Coffee.
"Kami ingin lebih banyak diskusi-diskusi tentang buku kami buat di sini. Ruang-ruang diskusi ini yang harus lebih dieksplore lagi ke depannya. Harapannya ini bisa mengisi kekosongan-kekosongan gagasan dan lebih produktif menghasilkan gagasan-gagasan," ucap Cahyo.
Sementara itu Rahmawati salah seorang pengunjung Shira Coffee mengatakan dirinya sengaja datang untuk merasakan suasana nyaman saat membaca buku. Kondisi Shira Coffee yang bersih, rapi dan didukung oleh ribuan koleksi buku ini menghadirkan suasana baru saat membaca bagi Rahmawati.
"Suka baca di sini. Koleksi bukunya bagus-bagus. Tempatnya juga nyaman banget untuk membaca buku. Di sini saya betah berlama-lama untuk membaca buku," urai Rahmawati.
"Biasanya kalau baca buku di kos cepat capek dan ngantuk. Kalau di sini justru gak ngantuk dan semangat saat membaca buku," imbuh Rahmawati.