5 Mei Jadi Hari Bidan Internasional, Berikut Deretan Kisah Inspiratif Bidan di Indonesia

Hari Bidan Internasional 2025 mengangkat tema 'Bidan: Kritis dalam Setiap Krisis' untuk menghargai peran bidan di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Dwi Zain Musofa
Oleh Dwi Zain Musofa - Reporter
5 Mei Jadi Hari Bidan Internasional, Berikut Deretan Kisah Inspiratif Bidan di Indonesia
5 Mei Jadi Hari Bidan Internasional, Berikut Deretan Kisah Inspiratif Bidan di Indonesia (Merdeka.com)

Hari Bidan Internasional diperingati setiap tanggal 5 Mei, pada tahun 2025 tema yang diangkat adalah 'Bidan: Kritis dalam Setiap Krisis.' Tema ini menekankan pentingnya peran bidan dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi, terutama dalam situasi krisis seperti bencana alam atau konflik. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai kontribusi bidan dalam sistem kesehatan, khususnya dalam kesehatan seksual dan reproduksi ibu, bayi baru lahir, anak, dan remaja.

Dalam konteks pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Hari Bidan Internasional menjadi momen penting untuk menghargai dedikasi para bidan yang sering kali bekerja dalam kondisi yang menantang. Meskipun tidak ada kisah spesifik bidan Indonesia untuk tahun 2025, banyak kisah inspiratif dari masa lalu yang relevan dengan tema tersebut.

Salah satu contoh yang menonjol adalah bidan-bidan yang bekerja di daerah terpencil. Mereka menunjukkan dedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan kesehatan meskipun menghadapi tantangan aksesibilitas dan sumber daya yang terbatas. Di Indonesia, para bidan tidak hanya menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga pahlawan yang mengabdikan diri di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur. Tiga sosok bidan inspiratif, Wike Afrilia, Brian Sahar, dan Witnowati, menjadi teladan nyata bagaimana profesi ini mengubah kehidupan di berbagai penjuru negeri.

 

Wike Afrilia, bidan muda asal Sumatera Utara, telah menjadi sorotan berkat pengabdiannya di pedalaman Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Selama lebih dari tujuh tahun, Wike tidak hanya melayani persalinan, tetapi juga aktif mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi kesehatan. Di wilayah yang minim fasilitas, ia sering menerima pembayaran jasa medis berupa hasil kebun seperti pisang, kelapa, atau sayuran, mencerminkan kehangatan hubungan dengan masyarakat setempat.

Sebagai konten kreator, Wike memanfaatkan platform TikTok untuk berbagi cerita humanis tentang kehidupan di Papua. Kontennya, yang menggambarkan realitas masyarakat pedalaman, berhasil meraih penghargaan Changemakers of the Year pada TikTok Awards Indonesia 2023. “Saya ingin dunia tahu bagaimana kehidupan di sini, sekaligus mengajak lebih banyak orang peduli terhadap kesehatan ibu dan anak,” ujar Wike dalam wawancara daring pada Oktober 2023. Dedikasinya juga mengantarkannya menjadi brand ambassador MS Glow, sebuah pengakuan atas inspirasinya bagi perempuan Indonesia.

Di Hari Bidan Internasional 2025, kisah Wike mencerminkan tema "Bidan: Kritis dalam Setiap Krisis." Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tantangan geografis Papua, ia tetap menjadi pilar kesehatan yang tak tergoyahkan, memastikan ibu dan anak mendapatkan perawatan yang layak.

Brian Sahar, bidan berusia 24 tahun dari Karanganyar, Surakarta, membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkontribusi besar. Melalui program Pencerah Nusantara, Brian bertugas di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, sebuah wilayah terpencil yang sulit dijangkau. Perjalanannya menuju Puskesmas Tumbang Miri sering kali harus menyusuri Sungai Kahayan dengan perahu klotok selama berjam-jam, menunjukkan tantangan logistik yang dihadapinya.

Selain melayani kebutuhan medis, Brian aktif menggerakkan kelas ibu hamil dan mempromosikan pelayanan kesehatan primer. Ia juga terlibat dalam ekspedisi sosial dan kegiatan kepemudaan, menggabungkan pengabdian medis dengan pemberdayaan masyarakat. “Bidan bukan hanya soal membantu persalinan, tetapi juga membangun kepercayaan dan harapan di komunitas,” kata Brian dalam sebuah wawancara.

Pada Hari Bidan Internasional 2025, semangat Brian sejalan dengan tema tahun ini, menunjukkan bagaimana bidan tetap kritis dalam situasi sulit, seperti saat menjangkau komunitas terpencil di tengah krisis akses kesehatan.

Witnowati, atau yang akrab disapa Bidan Wiwit, adalah simbol ketekunan dan harapan. Berasal dari keluarga miskin di Cipatujah, Tasikmalaya, ia dibesarkan sebagai anak asuh SOS Kinderdorf di Lembang sejak usia 8 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan keperawatan, Witnowati memulai perjalanan sebagai bidan di Kalimantan Tengah dan Timur sebelum kembali ke Lembang untuk membuka praktik di Desa Cibodas.

Dengan modal seadanya, ia memulai praktik di sebuah garasi kecil yang disewa bersama suaminya. Ketika jumlah pasien bertambah, garasi itu tak lagi memadai. Witnowati kemudian menjual 20 ekor sapi miliknya untuk membeli tanah seluas 1.000 meter persegi dan membangun klinik bersalin pertama di desanya. Atas dedikasinya, ia menerima Penghargaan Hermann Gmeiner 2006 dari SOS Kinderdorf di Austria, serta dana sebesar 15.000 Euro yang digunakan untuk mengembangkan kliniknya.

Di Hari Bidan Internasional 2025, perjuangan Witnowati menggambarkan peran bidan sebagai sosok kritis dalam krisis. Dengan membangun klinik di tengah keterbatasan, ia memastikan akses kesehatan bagi ibu dan anak di wilayah terpencil.

Peringatan Hari Bidan Internasional 2025 menjadi momen untuk mengapresiasi kontribusi bidan Indonesia dalam mendukung kesehatan ibu dan anak, terutama di tengah krisis seperti bencana alam, konflik, atau keterbatasan akses kesehatan. Wike Afrilia, Brian Sahar, dan Witnowati adalah bukti bahwa bidan di Indonesia tidak hanya melayani kebutuhan medis, tetapi juga membawa perubahan sosial di komunitas mereka. Dari pedalaman Papua, hutan Kalimantan, hingga perbukitan Lembang, mereka menunjukkan bahwa profesi ini adalah perpaduan antara ilmu, hati, dan keberanian.

Melalui kisah mereka, Hari Bidan Internasional 2025 mengajak dunia untuk lebih menghargai peran bidan dan mendukung upaya memperkuat sistem kesehatan di wilayah terpencil. Mari rayakan Hari Bidan Internasional dengan semangat untuk terus mendukung para pahlawan kesehatan ini di Indonesia dan seluruh dunia. 

Rekomendasi