Jawa Timur Kokoh sebagai Kontributor Jagung Tertinggi Nasional, Capai 4,8 Juta Ton
Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan Jawa Timur menjadi kontributor jagung tertinggi di Indonesia, dengan produksi mencapai 4,8 juta ton, hasil kolaborasi berbagai pihak.
Provinsi Jawa Timur kembali menunjukkan dominasinya dalam sektor pertanian nasional, khususnya komoditas jagung. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Jawa Timur kini menjadi kontributor jagung tertinggi di Indonesia, sebuah capaian signifikan yang melampaui target ketahanan pangan.
Pernyataan ini disampaikan saat panen raya jagung kuartal IV di areal Green Farm Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, pada hari Sabtu. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kapolda Jawa Timur dan Bupati Banyuwangi, menunjukkan sinergi lintas sektor.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara pemerintah daerah, petani, aparat keamanan, hingga Gerakan Pramuka. Sinergi ini secara kolektif memperkuat program ketahanan pangan nasional, mendorong Jawa Timur menuju kedaulatan pangan.
Dominasi Produksi Jagung Jawa Timur
Data menunjukkan bahwa produksi jagung pipilan kering Jawa Timur pada tahun 2025 mencapai angka fantastis 4,8 juta ton. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan provinsi di posisi kedua, Jawa Tengah, yang mencatat 2,8 juta ton.
Selain itu, Sumatera Utara berada di urutan ketiga dengan produksi 1,3 juta ton, semakin menegaskan posisi Jawa Timur sebagai pemimpin produksi jagung nasional. Kontribusi Jawa Timur terhadap total produksi jagung nasional mendekati 30 persen.
Ini berarti hampir sepertiga kebutuhan jagung pipilan kering Indonesia dipasok dari kerja keras para petani di Jawa Timur. Capaian ini menjadi bukti nyata efektivitas program pertanian di provinsi tersebut.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci Sukses
Gubernur Khofifah secara khusus mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak yang telah berkontribusi pada peningkatan produksi jagung. Beliau menyebut peran Kapolda Jatim, Bupati Banyuwangi, hingga Gerakan Pramuka se-Jawa Timur.
Gerakan Pramuka turut aktif menggerakkan penguatan ketahanan pangan di daerah, menunjukkan bahwa upaya ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi ini menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan program pertanian.
Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, menambahkan bahwa peningkatan produksi jagung harus diimbangi dengan perbaikan kualitas. Dukungan pemasaran juga akan diperkuat untuk memastikan kesejahteraan petani meningkat secara langsung.
Surplus Berkelanjutan dari Banyuwangi
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan bahwa daerahnya secara konsisten mencatat surplus jagung. Pada tahun 2025, produksi jagung Banyuwangi mencapai 250.596,81 ton, meningkat 19 persen dari tahun 2024 yang sebesar 209.078 ton.
Dengan kebutuhan daerah sebesar 69.842,31 ton, Banyuwangi berhasil mencatat surplus jagung signifikan, yaitu 180.754,50 ton pada tahun 2025. Ini menunjukkan kapasitas produksi yang melampaui konsumsi lokal.
Selain jagung, produksi beras Banyuwangi juga selalu surplus, mencapai 546.923,81 ton pada tahun 2025, dengan surplus 383.258,03 ton. Panen raya di Green Farm Banyuwangi ini merupakan hasil penanaman jagung seluas 50 hektare pada November 2025, dengan rata-rata produksi jagung gelondongan mencapai 8-10 ton per hektare.
Ipuk Fiestiandani menyatakan kebanggaannya atas kerja keras semua pihak, mulai dari petani, pemerintah daerah, hingga jajaran kepolisian dan TNI. Ia berharap panen ini membawa berkah serta semangat baru untuk terus meningkatkan produksi pertanian.
Sumber: AntaraNews