India Tawarkan Tarif Nol untuk Baja, Farmasi, dan Komponen Mobil Amerika Serikat
Pemerintah menyimpulkan bahwa penghapusan tarif secara timbal balik tidak akan merugikan industri domestik maupun daya saing ekspor India.
India mengusulkan skema tarif nol secara timbal balik untuk produk baja, komponen otomotif, dan farmasi hingga batas volume tertentu dalam negosiasi dagang bilateral dengan Amerika Serikat. Usulan ini disampaikan oleh pejabat perdagangan India saat berkunjung ke Washington akhir bulan lalu, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut sebagaimana dilansir dari Bloomberg.
Di luar batas impor yang disepakati, barang-barang tersebut akan dikenakan bea masuk seperti biasa. Tujuan utama dari tawaran ini adalah untuk mempercepat tercapainya kesepakatan perdagangan awal antara kedua negara, yang diharapkan rampung pada musim gugur tahun ini.
Negosiasi ini berlangsung di tengah tekanan ekonomi global dan upaya negara-negara mitra dagang AS seperti Korea Selatan, Jepang, dan India, untuk menghindari tarif tinggi yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden AS saat itu, Donald Trump. Presiden Trump sebelumnya menyatakan kemungkinan tercapainya beberapa kesepakatan perdagangan dalam waktu dekat.
Pemerintah India merancang proposal ini setelah berkonsultasi dengan berbagai organisasi eksportir. Mereka menyimpulkan bahwa penghapusan tarif secara timbal balik tidak akan merugikan industri domestik maupun daya saing ekspor India.
“Kami merasa nyaman dengan tawaran tarif nol-untuk-nol karena produk India sangat kompetitif dari segi harga,” ujar Pankaj Chadha, Ketua Dewan Promosi Ekspor Teknik India (Engineering Exports Promotion Council). “Namun, hal ini harus dilakukan secara timbal balik.”
Pada tahun fiskal 2024–2025, India mengekspor produk farmasi senilai USD10,5 miliar dan produk teknik senilai USF19,1 miliar ke AS, menurut data Kementerian Perdagangan India.
Sebagai bagian dari negosiasi, AS juga meminta India untuk menangani isu seputar Perintah Kontrol Kualitas (Quality Control Orders/QCO) yang dianggap sebagai hambatan non-tarif terhadap ekspor AS. India menyatakan kesiapannya untuk meninjau kembali QCO yang berlaku di sektor tertentu seperti peralatan medis dan bahan kimia, serta membuka opsi perjanjian pengakuan bersama (mutual recognition agreement) agar kedua negara dapat saling menerima standar dan regulasi masing-masing.
Meski demikian, belum jelas apakah semua proposal tersebut akan masuk dalam kesepakatan akhir.
Sejak 2017, jumlah QCO yang diterbitkan India melonjak menjadi lebih dari 140, dari hanya 14 peraturan sebelum 2014, berdasarkan laporan terkini.