Dispertan Banyuwangi Pastikan Kualitas Daging Sapi Aman Dikonsumsi Jelang Lebaran 2026
Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi gencar memeriksa kualitas daging sapi di pasar tradisional, memastikan pasokan aman dan layak konsumsi di tengah lonjakan permintaan menjelang Lebaran 2026.
Banyuwangi, Jawa Timur – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Banyuwangi secara aktif melakukan pengecekan kualitas daging sapi di sejumlah pasar tradisional. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa seluruh daging sapi yang beredar di masyarakat tetap aman dan layak untuk dikonsumsi, khususnya menjelang momen penting seperti Hari Raya Idulfitri.
Pemeriksaan intensif ini menjadi krusial mengingat adanya peningkatan signifikan dalam konsumsi daging sapi saat Ramadhan hingga Lebaran. Petugas Dispertan Banyuwangi bekerja keras untuk melindungi konsumen dari potensi peredaran daging yang tidak memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.
Dari hasil pemeriksaan awal, tim Dispertan Banyuwangi belum menemukan adanya indikasi daging oplosan, glonggongan, maupun yang mengandung bahan kimia berbahaya. Hal ini memberikan ketenangan bagi masyarakat untuk tidak perlu khawatir terhadap kualitas daging sapi di pasaran.
Pemeriksaan Kualitas Daging Sapi di Pasar Tradisional
Salah satu lokasi utama pemeriksaan adalah Pasar Blambangan, di mana tim Dispertan Banyuwangi melakukan rapid test. Uji cepat ini bertujuan untuk memastikan bahwa daging sapi yang dijual memenuhi standar Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Standar ASUH merupakan pedoman penting untuk menjamin keamanan pangan hewani bagi konsumen.
Kepala Dispertan Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, menegaskan bahwa tidak ada temuan daging yang mengkhawatirkan selama pemeriksaan. “Dalam kegiatan pemeriksaan kualitas daging sapi di pasar tradisional tidak ditemukan daging oplosan, glonggongan, maupun yang mengandung bahan kimia berbahaya, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Danang di Banyuwangi, Rabu (11/3/2026).
Pemeriksaan rutin ini merupakan bagian dari komitmen Dispertan Banyuwangi untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan, terutama pada periode-periode di mana permintaan akan produk hewani cenderung meningkat.
Lonjakan Permintaan dan Harga Daging Jelang Lebaran
Momen Ramadhan menjelang Lebaran 2026 memicu lonjakan konsumsi daging sapi yang signifikan di Banyuwangi. Danang Hartanto mengungkapkan bahwa konsumsi daging sapi meningkat hingga 80 persen dibandingkan hari biasa. Peningkatan ini berdampak pada aktivitas pemotongan hewan di rumah potong hewan (RPH).
Hingga pukul 01.00 WIB pada Rabu (11/3/2026), tercatat 41 ekor sapi telah dipotong di RPH, dan jumlah ini masih terus bertambah. Rata-rata produksi daging di Banyuwangi mencapai 33,5 ton per hari, dan saat ini meningkat hampir dua kali lipat dari kondisi normal.
Lonjakan permintaan ini juga turut mendongkrak harga daging sapi di pasar. Di Pasar Blambangan, harga daging sapi pada Rabu (11/3/2026) mencapai Rp145.000 hingga Rp150.000 per kilogram, naik dari harga normal sekitar Rp125.000 per kilogram. Kenaikan konsumsi ini, menurut Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dispertan Banyuwangi, Nanang Sugiharto, dipicu oleh tingginya kebutuhan bahan baku pentol bakso menjelang Lebaran.
Stok Daging Sapi Banyuwangi Dipastikan Aman
Meskipun terjadi lonjakan permintaan yang signifikan, masyarakat Banyuwangi tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan stok daging sapi. Nanang Sugiharto memastikan bahwa stok daging di Banyuwangi aman. “Biasanya mendekati Lebaran konsumsi bisa naik hingga hampir 100 persen, tapi stok aman karena populasi sapi di Banyuwangi sekitar 100 ribu ekor,” jelas Nanang.
Populasi sapi yang besar di Banyuwangi menjadi salah satu faktor penentu dalam menjaga stabilitas pasokan daging. Dengan jumlah populasi yang memadai, Dispertan Banyuwangi optimis dapat memenuhi kebutuhan daging masyarakat selama periode Ramadhan dan Lebaran.
Ketersediaan stok yang aman ini juga didukung oleh koordinasi yang baik antara Dispertan dengan para peternak dan pedagang daging. Upaya ini memastikan rantai pasok tetap lancar dan tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu kenaikan harga secara drastis.
Sumber: AntaraNews