Dirut Bulog Usul Pelonggaran Kuota Beras SPHP, Maksimalkan Distribusi Pangan Terjangkau
Perum Bulog mengusulkan pelonggaran kuota pembelian beras SPHP per orang kepada Bapanas. Tujuannya untuk meningkatkan distribusi dan akses pangan terjangkau, demi stabilitas harga nasional.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengusulkan agar masyarakat dapat membeli beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) lebih dari dua pack per orang. Usulan ini bertujuan untuk meningkatkan distribusi sekaligus memperluas akses pangan terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga pangan nasional secara lebih efektif.
Rizal menjelaskan bahwa usulan penambahan kuota pembelian beras SPHP ini akan diajukan terlebih dahulu kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas). Langkah koordinasi ini penting untuk memastikan kebijakan berjalan selaras dan mendukung efektivitas distribusi pangan yang merupakan program subsidi dari pemerintah. Evaluasi menunjukkan bahwa distribusi SPHP sebelumnya belum optimal karena pelaksanaannya terfragmentasi.
Pelonggaran kuota ini diharapkan dapat memperkuat distribusi beras program SPHP, mengingat realisasi beras subsidi sepanjang tahun 2025 mencapai 802.939 ton dari target 1,5 juta ton. Bulog optimistis strategi ini akan membantu mencapai target penyaluran dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara merata.
Strategi Peningkatan Akses dan Distribusi Beras SPHP
Perum Bulog berencana mengajukan usulan pelonggaran batas pembelian beras SPHP kepada Bapanas. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk mempercepat perputaran stok dan memastikan beras subsidi lebih mudah dijangkau masyarakat luas. Rizal Ramdhani menyatakan harapannya agar setiap orang dapat membeli beras SPHP lebih dari dua pack, menyusul keberhasilan penerapan kebijakan serupa di wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan).
Kebijakan pembelian beras SPHP di atas dua pack sebelumnya telah sukses diterapkan di wilayah 3TP. Penerapan ini menjadi bukti bahwa pelonggaran kuota dapat menjaga keterjangkauan harga pangan bagi seluruh masyarakat di daerah-daerah tersebut. Dengan demikian, Bulog melihat potensi besar untuk mengimplementasikan kebijakan serupa secara nasional.
Rizal menegaskan bahwa kebijakan ini disiapkan untuk memperkuat distribusi beras program SPHP secara signifikan. Peningkatan akses dan distribusi ini sangat krusial untuk memenuhi target penyaluran yang telah ditetapkan. Bulog berkomitmen untuk terus berinovasi dalam memastikan ketersediaan pangan yang merata.
Mekanisme distribusi SPHP ke depan akan tetap sama namun dibuat lebih fleksibel, terutama terkait jumlah pembelian per orang agar penyaluran lebih efektif dan merata. Fleksibilitas ini diharapkan dapat membuat penyaluran beras SPHP menjadi lebih efektif dan merata ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini juga akan mendukung efektivitas program stabilisasi harga pangan.
Target Penyaluran dan Pola Distribusi Berkelanjutan Bulog
Bulog menargetkan penyaluran beras SPHP sebanyak 1,5 juta ton pada tahun 2026, sama seperti target tahun sebelumnya. Target ambisius ini direncanakan berjalan berkelanjutan sepanjang tahun tanpa terputus, berbeda dengan pola distribusi sebelumnya yang terfragmentasi. Strategi baru ini diharapkan dapat mengatasi kendala distribusi masa lalu.
Penyaluran SPHP beras dirancang berlangsung dari Januari hingga Desember 2026 untuk memastikan distribusi lebih stabil dan tidak terhenti sementara. Pola distribusi berkelanjutan ini juga bertujuan agar Bulog mampu merespons kebutuhan pasar secara lebih cepat dan efisien. Evaluasi menunjukkan bahwa distribusi SPHP sebelumnya belum optimal karena sempat berhenti beberapa bulan.
Rizal menyatakan bahwa dengan strategi distribusi sepanjang tahun dan potensi pelonggaran kuota pembelian, Bulog optimistis penyaluran SPHP beras dapat berjalan maksimal. Keberhasilan ini akan sangat membantu dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional. Bulog terus berupaya memastikan ketersediaan pasokan.
Selain beras, Bulog juga menargetkan penyaluran SPHP jagung sebesar 500 ribu ton. Penyaluran jagung ini merupakan bagian dari upaya penguatan stabilisasi harga pakan untuk peternak di dalam negeri. Langkah ini menunjukkan komitmen Bulog dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan dan pakan.
Kanal Distribusi dan Harga Eceran Tertinggi Beras SPHP
Penyaluran SPHP dilakukan melalui berbagai kanal distribusi yang luas dan beragam. Kanal-kanal ini mencakup Koperasi Desa Merah Putih, pasar rakyat, ritel modern, serta kegiatan Gerakan Pangan Murah. Jaringan distribusi yang luas ini bertujuan untuk menahan laju kenaikan harga di tingkat konsumen dan memastikan aksesibilitas.
Beras SPHP selama ini dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. HET ini bervariasi berdasarkan zona wilayah untuk mengakomodasi perbedaan biaya logistik dan distribusi. Penetapan HET ini penting untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Berikut adalah rincian HET beras SPHP per kilogram berdasarkan zona:
- Zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi): Rp12.500 per kilogram.
- Zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan): Rp13.100 per kilogram.
- Zona 3 (Maluku, Papua): Rp13.500 per kilogram.
Penyesuaian harga berdasarkan zona ini memastikan bahwa beras SPHP tetap terjangkau di berbagai daerah. Bulog terus memantau dan mengevaluasi efektivitas penyaluran ini.
Sumber: AntaraNews