BI Maluku Utara Proyeksikan Kebutuhan Uang Lebaran 2026 Capai Rp933 Miliar
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Maluku Utara memprediksi **kebutuhan uang Lebaran 2026** akan melonjak hingga Rp933 miliar, naik 25 persen dari tahun sebelumnya, menandakan peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang signifikan.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Maluku Utara memproyeksikan kebutuhan uang kartal selama periode Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) 2026 akan mencapai Rp933 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 25 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Proyeksi ini mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan mobilitas masyarakat.
Kepala KPw BI Maluku Utara, Handi Susila, menyampaikan bahwa tren positif pertumbuhan ekonomi daerah menjadi faktor utama di balik kenaikan permintaan uang layak edar (ULE). Selain itu, meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa mudik juga turut berkontribusi pada lonjakan kebutuhan uang tunai ini. BI Maluku Utara berkomitmen penuh untuk menjamin ketersediaan uang bagi seluruh masyarakat.
Kebutuhan uang tahunan di Maluku Utara secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp3,7 triliun, tumbuh 12 persen dari tahun lalu. Untuk memenuhi lonjakan permintaan ini, Bank Indonesia secara nasional menyiapkan likuiditas sebesar Rp185,6 triliun melalui Program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026.
Proyeksi Kenaikan Kebutuhan Uang Kartal di Maluku Utara
KPw BI Maluku Utara telah memproyeksikan bahwa kebutuhan uang kartal untuk periode Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) 2026 akan mencapai Rp933 miliar. Angka ini menandai kenaikan sebesar 25 persen dibandingkan dengan periode RAFI sebelumnya, menunjukkan dinamika ekonomi yang aktif di wilayah tersebut. Proyeksi ini menjadi indikator penting bagi persiapan layanan penukaran uang.
Handi Susila, Kepala KPw BI Maluku Utara, menjelaskan bahwa lonjakan ini didorong oleh beberapa faktor utama. Tren positif pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan menjadi pendorong utama peningkatan permintaan uang layak edar (ULE). Selain itu, peningkatan mobilitas masyarakat yang signifikan selama masa mudik Lebaran juga turut berkontribusi pada tingginya kebutuhan ini.
Ketersediaan uang tunai yang memadai menjadi prioritas utama Bank Indonesia untuk memastikan kelancaran transaksi masyarakat. Secara nasional, Bank Indonesia telah menyiapkan likuiditas yang sangat besar, mencapai Rp185,6 triliun, melalui Program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026. Angka ini menunjukkan kesiapan BI dalam menghadapi kebutuhan uang tunai di seluruh Indonesia.
Layanan Penukaran Uang BI Maluku Utara Diperluas
Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat, Bank Indonesia menerapkan sistem registrasi daring melalui aplikasi PINTAR. Masyarakat diwajibkan membawa KTP asli serta bukti pemesanan saat melakukan penukaran di lokasi yang telah ditentukan, memastikan proses yang teratur dan efisien. Hal ini membantu menghindari antrean panjang yang tidak perlu.
Pada tahun ini, BI juga meningkatkan batas maksimal paket penukaran menjadi Rp5.300.000 per orang, dengan pecahan mulai dari Rp1.000 hingga Rp50.000. Peningkatan ini memberikan fleksibilitas lebih bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan uang tunai mereka. Salah satu warga Bastiong, Sri Maryani, mengaku sengaja menukar uang lebih awal sebesar Rp1,5 juta guna menghindari antrean panjang menjelang Lebaran.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas, BI Maluku Utara menyediakan 70 titik layanan penukaran yang tersebar di seluruh wilayah. Layanan ini mencakup berbagai lokasi untuk memastikan aksesibilitas.
Adapun jadwal lanjutan setelah layanan di Dhuafa Center pada 3–6 Maret, termasuk Kas Keliling Tematik “Jelajah Pulau” yang akan menjangkau wilayah Tidore dan Sofifi pada 9–12 Maret 2026. Selain itu, Layanan Ritel Tahap II akan tersedia di perbankan wilayah Ternate, Labuha, Tobelo, dan Weda pada 10 Maret 2026, memperluas jangkauan layanan.
Imbauan Transaksi Digital dan Perawatan Rupiah
Selain memastikan ketersediaan uang tunai, Bank Indonesia juga secara aktif mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan transaksi digital. Penggunaan QRIS dan BI-FAST sangat dianjurkan demi keamanan dan kemudahan bertransaksi, mengurangi ketergantungan pada uang tunai. Ini sejalan dengan upaya digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Masyarakat juga diingatkan untuk merawat uang rupiah dengan baik melalui prinsip 5J. Prinsip ini meliputi tidak dilipat, dicoret, diremas, distapler, maupun dibasahi, guna menjaga kondisi uang tetap layak edar. Perawatan yang baik terhadap uang rupiah sangat penting untuk menjaga kualitas dan keawetan mata uang.
Selain itu, Bank Indonesia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi peredaran uang palsu. Masyarakat perlu teliti dan memahami ciri-ciri keaslian uang rupiah. Ini merupakan bagian dari edukasi untuk melindungi masyarakat dari kerugian finansial akibat uang palsu.
Sumber: AntaraNews