Bensin Campur Etanol E20 Jadi Jurus Pemerintah Pangkas Impor Bensin
Bahlil mengatakan, gagasan tersebut pernah menuai keraguan ketika pertama kali disampaikan sekitar setahun lalu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan bahan bakar campuran etanol atau E20 sebagai langkah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin.
Bahlil mengatakan, gagasan tersebut pernah menuai keraguan ketika pertama kali disampaikan sekitar setahun lalu. Namun, menurut dia, konsep E20 memiliki pola yang serupa dengan program biodiesel yang kini telah berkembang dari B10 hingga B40 dan segera menuju B50.
"E20 merupakan bensin yang dicampur etanol. Bahan baku etanol bisa berasal dari tebu, singkong, maupun jagung yang banyak tersedia di dalam negeri," kata Bahlil dalam Energy Forum, di Hotel Borobudur, Kamis (25/6).
Menurut dia, pengembangan E20 tidak hanya bertujuan mengurangi impor bahan bakar, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian nasional.
Bahlil memperkirakan penerapan E20 dapat menghemat konsumsi bensin hingga sekitar 4 juta kiloliter per tahun. Selain menekan impor, program tersebut dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani, mendorong tumbuhnya kawasan ekonomi baru, serta membuka lapangan kerja di sektor hulu dan hilir.
Perkuat Ketahanan Energi
Ia menilai Indonesia perlu memanfaatkan seluruh sumber energi yang tersedia, baik energi fosil maupun energi berbasis nabati, untuk memperkuat ketahanan energi nasional. "E20 adalah salah satu cara untuk mengurangi impor sekaligus menciptakan kemandirian energi,” ujarnya.
Selain itu, pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol juga sejalan dengan upaya pemerintah menurunkan emisi karbon dan mencapai target net zero emission pada 2060.
Menurut Bahlil, keberhasilan program biodiesel menjadi bukti bahwa pemanfaatan bahan baku domestik dapat menjadi solusi bagi ketahanan energi nasional. Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan langkah serupa untuk sektor bensin melalui pengembangan campuran etanol.
"Kalau kita berhasil mengembangkan biodiesel hingga B50, maka tidak ada alasan untuk tidak mulai mengembangkan E20," kata Bahlil.
Reporter: Immanuel Christian