Unik di Kampung Ini Rumah-rumah tanpa Kaca, Ternyata Punya Sejarah Tak Terduga Belanda Saja Tidak Berani
Potret rumah-rumah di Kampung Mahmud yang masih terus melestarikan tradisi.
Sebuah kampung yang berlokasi di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat memiliki tradisi unik yang masih terus dilestarikan sampai sekarang.
Rumah warga di area pemukiman yang dikenal dengan nama Kampung Mahmud itu dilarang menggunakan material kaca pada bangunannya. Tradisi tersebut bahkan sudah diterapkan sejak zaman penjajahan Belanda.
"Adanya seperti ini. Dari dulu leluhur enggak boleh (pakai kaca) jadi jendelanya pakai kayu," kata seorang warga dikutip dari Youtube Kang Hardi (16/6).
Pemukiman masyarakat di Kampung Mahmud kebanyakan berupa rumah panggung yang berkelompok dalam satu wilayah dan memanfaatkan bahan bangunan dari kayu maupun bambu untuk bilik.
Selain itu, pada masa penjajahan dulu, kampung Mahmud juga dikenal sebagai lokasi persembunyian yang paling aman hal ini dikarenakan oleh beberapa alasan.
"Kalau menurut sejarahnya memang betul kampung ini dulu memang yang dianggap paling aman pada masa penjajahan Belanda. Makanya namanya Desa Mahmud atau Kampung Mahmud, artinya damai tentram," kata perekam video.
Dalam video yang dibagikan di kanal Youtube Kang Hardi, disebutkan alasan rumah-rumah warga di kampung tersebut dilarang menggunakan kaca ialah demi alasan keamanan dari musuh.
"Dulu zaman Belanda waktu zaman perang, soalnya kalau ada goncangan atau apa kaca pecah ada suara bising nanti Belanda nyerang. Jadi di sini kampung paling aman buat tempat persembunyian," kata seorang warga.
Selain itu, Kampung Mahmud dulunya juga memiliki beberapa aturan adat seperti dilarang menggali sumur, memiliki radio, memelihara angsa, hingga dilarang menyelenggarakan pertunjukan yang di dalamnya ada perangkat gamelan berupa gong.
Kata Mahmud berasal dari bahasa Arab yaitu Mahmuudah yang memiliki arti puji. Kata puji tidak memiliki arti yang sama dengan terpuji, tetapi memiliki artireueus (bangga) atau deudeuh (kasih sayang penuh dengan penuh rasa ikhlas).
Dahulu, kawasan kampung Mahmud berupa delta yang terletak di belokan Sungai Citarum. Delta yang dimaksud berupa rawa yang labil dengan letak tanah lebih rendah bila dibandingkan dengan daerah sekitarnya.
Sungai Citarum kemudian diluruskan dengan cara membangun saluran menuju sungai Citarum baru dan menimbun sungai Citarum yang lama terletak di depan kawasan Kampung Mahmud. Kini, tempat ini berkembang menjadi salah satu pusat pelajaran spritual Islam terkenal di Tatar Sunda.