Teganya Sindikat Penjual Ginjal, Iming-Iming Orang Miskin Uang Banyak lalu Ditipu
Transaksi jual beli ginjal marak di Bangladesh dengan iming-iming sejumlah uang.
Sindikat perdagangan organ tubuh di Bangladesh merajalela. Selain membidik warga miskin dengan iming-iming sejumlah uang, para pelaku juga menyiapkan modus sedemikian rupa guna mengelabui dokter dan pasien.
Dengan memanfaatkan celah hukum dan kondisi ekonomi masyarakat, para perantara mengubah kemiskinan yang parah di Bangladesh dan melonjaknya permintaan transplantasi di India, menjadi bisnis yang berkembang pesat.
Salah satu wilayah bernama Upazila Kalai bahkan sampai dijuluki sebagai 'Desa Dengan Satu Ginjal', karena menjadi pusat industri perdagangan ginjal. Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam British Medical Journal Global Health memperkirakan satu dari 35 orang dewasa di wilayah itu telah menjual ginjalnya.
Upazila Kalai adalah salah satu wilayah termiskin di Bangladesh. Sebagian besar pendonor adalah pria berusia awal 30-an yang tergiur dengan janji uang cepat. Menurut studi, 83 persen dari mereka yang disurvei menyebutkan kemiskinan sebagai alasan utama menjual ginjal.
Modus yang Ditawarkan Penjual Ginjal
Mengutip dari Al Jazeera, salah satu warga desa yang sempat menjual ginjalnya, yakni Safiruddin (45), sempat menceritakan bagaimana para perantara melakukan aksinya dalam melakukan jual beli organ.
Dia mengaku menjual ginjalnya di India pada tahun 2024 seharga 3,5 lakh taka ($2.900) atau sekitar Rp46 juta. Pada saat itu, Safiruddin mengaku memiliki keinginan untuk menyelamarkan keluarganya dari jerat kemiskinan. Namun, nyatanya uang yang dia dapat itu tak sebanding dengan penderitaan yang harus dihadapi.
"Saya mendonorkan ginjal saya agar keluarga saya bisa hidup lebih baik. Saya melakukan segalanya untuk istri dan anak-anak saya," ungkapnya seperti dikutip dari laman Al Jazeera (4/7).
Pada saat itu, Safiruddin mengaku jika keputusan menjual ginjalnya tidak tampak seperti pilihan berbahaya. Para pialang yang mendekatinya seolah meyakinkan jika hal itu adalah sebuah peluang untuk menjadikan hidupnya lebih baik.
Para calo membawanya ke India dengan visa medis, lengkap beserta semua pengaturan penerbangan, dokumen, dan formalitas rumah sakit. Sesampainya di India, semua dokumen-dokumen seperti sertifikat yang menunjukkan hubungan kekeluargaan dengan penerima ginjal, dipalsukan.
Identitasnya diubah, dan ginjalnya ditransplantasikan ke penerima yang tidak dikenal dan belum pernah ditemuinya. "Saya tidak tahu siapa yang mendapatkan ginjal saya. Mereka [para calo] tidak memberi tahu saya apa pun," kata Safiruddin.
Uang yang Dijanjikan Kerap Tak Sesuai
Sementara korban lain, Mohammad Sajal (nama samaran), pernah menjual ginjalnya pada tahun 2022 karena terlilit utang. Namun, ternyata uang yang dijanjikan kepadanya tidak sesuai.
"(uang) 10 lakh taka ($8.200) yang dijanjikan tidak pernah terwujud. Ia hanya menerima 3,5 lakh taka ($2.900)," tulis keterangan.
Karena membutuhkan uang, Sajal bahkan pernah tergabung dengan komunitas calo dan ikut serta memperdagangkan organ tubuh. Namun, kini pekerjaan itu ditinggalkan karena ia merasa terlalu berbahaya untuk hidupnya.
Investigasi mengungkapkan, bahwa antara tahun 2021 dan 2023, Dseorang dokter mengakui melakukan sekitar 15 operasi transplantasi pada pasien Bangladesh di sebuah rumah sakit swasta, kata pejabat India.
Padahal, di India ada Undang-Undang Transplantasi Organ Manusia (THOA) tahun 1994 mengatur donasi organ, yang mengizinkan transplantasi ginjal terutama antara kerabat dekat seperti orang tua, saudara kandung, anak-anak, dan pasangan untuk mencegah eksploitasi komersial.
Jika pendonor bukan kerabat dekat, kasus tersebut harus mendapat persetujuan dari badan yang ditunjuk pemerintah yang dikenal sebagai komite otorisasi untuk memastikan donasi tersebut bersifat altruistik dan tidak bermotif finansial. Namun, nyatanya masih saja ada oknum yang mencari celah untuk bisa lolos dari aturan undang-undang tersebut.